Ada satu paradoks dalam setiap organisasi besar: semakin besar pengaruhnya, semakin besar pula godaan untuk memilikinya.
Muhammadiyah, dengan jaringan amal usaha yang luas, basis sosial yang kuat, serta modal kepercayaan publik yang tinggi, tidak luput dari paradoks itu. Karena itulah, ungkapan “Ber-Muhammadiyah itu berat” sesungguhnya bukan sekadar nasihat moral, melainkan peringatan sosiologis.
Berat, karena setiap kader dituntut untuk menjaga jarak yang tegas antara amanah Persyarikatan dan kepentingan pribadi.
Jarak itu penting. Sebab, sejarah menunjukkan bahwa banyak organisasi tidak runtuh karena serangan dari luar, tetapi karena kaburnya batas antara kepentingan kolektif dan ambisi individual.
Ketika jabatan dipandang sebagai hak, bukan amanah; ketika amal usaha diperlakukan sebagai wilayah pengaruh, bukan instrumen dakwah; dan ketika kedekatan personal lebih menentukan daripada kompetensi, saat itulah benih kemunduran mulai tumbuh.
Godaan terbesar bukanlah memanfaatkan organisasi secara terang-terangan. Godaan yang lebih halus justru hadir dalam bentuk yang tampak wajar: menganggap fasilitas organisasi sebagai perpanjangan kepentingan pribadi, menempatkan orang-orang terdekat dalam posisi strategis atas nama kepercayaan, atau menjadikan keputusan organisasi sebagai alat untuk mengukuhkan pengaruh.
Inilah yang disebut dalam kutipan tersebut sebagai upaya “menginstitusionalisasi kepentingan pribadi”.
Kepentingan individual tidak lagi berdiri di luar organisasi, tetapi masuk ke dalam sistem, menjadi kebiasaan, lalu diterima sebagai kewajaran. Ketika itu terjadi, organisasi perlahan kehilangan ruhnya.
Muhammadiyah didirikan oleh Ahmad Dahlan bukan untuk membangun dinasti, melainkan untuk membangun peradaban. Persyarikatan ini tumbuh karena ditopang oleh etos keikhlasan dan semangat beramal tanpa pamrih. Amal usaha yang tersebar di berbagai bidang bukanlah simbol kekuasaan, melainkan sarana mewujudkan misi dakwah dan pelayanan umat.
Dalam tradisi Muhammadiyah, jabatan sejatinya adalah bentuk pengorbanan. Semakin tinggi posisi seseorang, semakin besar tuntutan untuk menahan diri.
Kepemimpinan bukan tentang memperluas pengaruh, tetapi memperkecil kepentingan pribadi demi kepentingan yang lebih besar.
Ungkapan “Muhammadiyah itu kramat” juga perlu dipahami secara jernih. Kekramatan itu tidak terletak pada aspek mistis, melainkan pada akumulasi nilai, pengorbanan, dan kepercayaan yang dibangun selama lebih dari satu abad.
Ada ribuan orang yang mewakafkan tenaga, pikiran, harta, bahkan hidupnya untuk menjaga Persyarikatan ini tetap berdiri. Karena itu, menyalahgunakan amanah Muhammadiyah bukan sekadar pelanggaran administratif, tetapi pengkhianatan terhadap warisan moral yang dibangun lintas generasi.
Pada akhirnya, tantangan terbesar ber-Muhammadiyah bukanlah menghadapi kritik dari luar atau kompetisi dengan organisasi lain. Tantangan terbesarnya adalah mengalahkan keinginan untuk menjadikan Persyarikatan sebagai milik sendiri.
Muhammadiyah akan tetap besar selama para kadernya menyadari satu hal sederhana: tidak ada individu yang memiliki Muhammadiyah. Sebaliknya, kitalah yang diberi kesempatan untuk mengabdi kepadanya.
Sebab, ketika organisasi dijaga sebagai amanah bersama, ia akan terus menjadi gerakan pencerahan. Namun ketika ia diperlakukan sebagai alat kepentingan, ia perlahan kehilangan maknanya sebagai Persyarikatan.
Jatinegara, 18 Juni 2026
