Muhammadiyah Gelar Pelatihan Nasional Pamong Pesantren Ramah Anak

Pelatihan Pamong, Musyrif, dan Musyrifah Pesantren Muhammadiyah. (ist)
www.majelistabligh.id -

Menjawab keresahan publik atas maraknya kasus kekerasan di lingkungan pesantren, Muhammadiyah mengambil langkah korektif dengan merombak total sistem pengasuhan asrama yang selama ini cenderung konvensional dan tertutup.

Komitmen pembenahan tersebut diwujudkan melalui Pelatihan Pamong, Musyrif, dan Musyrifah Pesantren Muhammadiyah Gelombang 1 yang berlangsung pada Sabtu–Ahad (1–2/8/2026) di Tabligh Institute, Yogyakarta.

Agenda tingkat nasional ini dibuka resmi oleh Ketua Lembaga Pengembangan Pesantren Pimpinan Pusat (LP2 PP) Muhammadiyah, Maskuri, dan diikuti 49 peserta dari unsur pamong, musyrif/ah, serta koordinator kepengasuhan.

Dalam arahannya, Maskuri menegaskan bahwa pelatihan ini bukan sekadar agenda seremonial, melainkan bentuk intervensi struktural untuk mengikis habis segala bentuk kekerasan yang kerap berlindung di balik dalih kedisiplinan tradisional.

“Kehidupan pesantren pada dasarnya adalah proses pengasuhan 24 jam. Pelatihan ini merupakan ikhtiar bersama untuk menjaga kepercayaan masyarakat serta merawat nama baik institusi dan persyarikatan,” tegas Maskuri di hadapan para peserta.

Pelatihan intensif ini berfokus pada tiga target utama:

  1. Pemusnahan Hukuman Fisik: Menghapuskan secara total segala bentuk hukuman fisik di lingkungan asrama.
  2. Pendekatan Humanis: Membekali pamong dengan pemahaman psikologi remaja agar mampu berkomunikasi secara emsional dan humanis.
  3. Akuntabilitas: Merumuskan Standar Operasional Prosedur (SOP) perlindungan anak yang transparan dan terukur.

Langkah transformasi ini merupakan manifestasi nyata dari teologi Islam Berkemajuan yang menjunjung tinggi perlindungan jiwa serta martabat kemanusiaan. Melalui forum ini, sebanyak 49 peserta disiapkan menjadi agen perubahan di garis depan untuk memastikan pesantren menjadi ekosistem yang aman, mencerahkan, dan berkeadaban.

Selain pembekalan materi, kegiatan ini menjadi momentum konsolidasi nasional untuk memperkuat pengawasan internal, mengaudit sistem keselamatan asrama, dan melibatkan pakar psikologi.

Dengan langkah komprehensif ini, Pesantren Muhammadiyah optimistis dapat memulihkan marwah pendidikan Islam sekaligus menjadi role model penyelenggaraan lembaga pendidikan yang ramah anak. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search