Menyampaikan Kebenaran dengan Hikmah

Menyampaikan Kebenaran dengan Hikmah
*) Oleh : Dr. Muhammad Nasri Dini
Wakil Ketua Majelis Tabligh PDM Sukoharjo, Jawa Tengah
www.majelistabligh.id -

Di era media sosial, tidak sedikit ceramah atau potongan tausiyah yang menuai perdebatan. Sering kali yang menjadi sorotan bukan keseluruhan isi nasihat, melainkan potongan kalimat yang dianggap menyinggung atau tidak sesuai dengan selera sebagian orang. Padahal, tugas seorang dai bukan sekadar menyampaikan hal-hal yang menyenangkan untuk didengar, tetapi juga menyampaikan kebenaran yang terkadang terasa berat diterima.

Belum lama ini, beredar sebuah berita tentang seorang ustaz yang dikritik setelah memberikan tausiyah pada acara pernikahan seorang artis. Ia dinilai menyinggung hal-hal yang sensitif. Meskipun tidak mendengarkan secara utuh isi tausiyah tersebut dan hanya membaca poin-poin yang dipersoalkan dalam pemberitaan. Jika dilihat dari substansinya, tidak ada yang keliru dari apa yang disampaikan. Bahkan, apa yang beliau sampaikan merupakan hal yang lazim disampaikan oleh seorang ustaz. Bukankah memang tugas seorang dai adalah menyampaikan kebenaran, mengajak kepada kebaikan, dan mencegah kemungkaran?

Menyampaikan Kebenaran adalah Amanah
Dalam kesempatan lain, ketika diminta mengisi tausiyah pada sebuah walimah, tampak adanya sesuatu yang telah disepakati para ulama sebagai bentuk kemungkaran dan dilakukan secara terang-terangan. Pada kondisi seperti itu, tentu tidak pantas jika seorang pemberi nasihat justru berpura-pura tidak melihatnya. Maka, hal tersebut disampaikan apa adanya, dengan bahasa yang santun dan penuh adab. Bahkan, permohonan maaf kepada tuan rumah juga disampaikan berkali-kali agar nasihat tersebut tidak dipahami sebagai bentuk merendahkan atau mempermalukan.

Ada pula yang berpendapat bahwa lebih baik menghindari undangan semacam itu sejak awal agar tidak terjadi hal-hal yang kurang nyaman. Namun, jika Allah ﷻ telah memberikan kesempatan untuk berbicara di hadapan orang banyak, bukankah kesempatan tersebut seharusnya dimanfaatkan untuk menyampaikan kebenaran?

Lebih baik menyampaikan nasihat secara langsung kepada yang bersangkutan daripada hanya menjadi bahan pembicaraan di belakang. Adapun jika setelah itu ada orang yang enggan mengundang lagi karena nasihat tersebut, itu bukanlah sesuatu yang perlu dikhawatirkan. Keridaan Allah ﷻ tentu lebih utama daripada keridaan manusia.

Allah ﷻ berfirman:

اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, serta berdebatlah dengan mereka dengan cara yang lebih baik.” (QS. An-Nahl [16]: 125)

Ayat ini menunjukkan bahwa dakwah tidak hanya menuntut keberanian menyampaikan kebenaran, tetapi juga menuntut kebijaksanaan dalam memilih cara. Kebenaran tetap harus disampaikan, namun dengan hikmah, kelembutan, dan adab yang baik sehingga lebih mudah diterima oleh hati.

Hikmah Tidak Berarti Menyembunyikan Kebenaran
Sebagian orang memahami hikmah sebagai tidak menyinggung siapa pun. Padahal, hikmah bukan berarti menghilangkan isi kebenaran, melainkan menyampaikan kebenaran dengan cara yang paling tepat. Ada kalanya nasihat terasa pahit karena menyentuh sesuatu yang selama ini dianggap biasa, padahal bertentangan dengan syariat.

Rasulullah ﷺ sendiri mengajarkan agar seorang muslim tetap berkata benar meskipun konsekuensinya tidak selalu menyenangkan. Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu berkata:

وَأَمَرَنِي أَنْ أَقُولَ بِالْحَقِّ وَإِنْ كَانَ مُرًّا

Beliau memerintahkan kepadaku untuk mengatakan yang benar walaupun itu pahit.” (HR. Ahmad)

Karena itu, seorang dai hendaknya tidak takut kehilangan popularitas, undangan, atau pujian manusia selama yang disampaikan adalah kebenaran berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman yang benar. Sebaliknya, ia juga harus menjaga adab, kelembutan, serta menghindari sikap kasar atau mempermalukan orang lain tanpa kebutuhan syar’i.

Pada akhirnya, dakwah bukanlah upaya mencari tepuk tangan manusia, melainkan ikhtiar menjalankan amanah dari Allah ﷻ. Selama kebenaran disampaikan dengan hikmah, nasihat yang baik, dan niat yang ikhlas, maka seorang dai telah menunaikan kewajibannya. Adapun hidayah dan diterima atau tidaknya nasihat tersebut, semuanya berada di tangan Allah ﷻ. Wallahu a’lam bish-shawab. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search