Merawat Perbedaan, Meneguhkan Persaudaraan

Merawat Perbedaan, Meneguhkan Persaudaraan
www.majelistabligh.id -

Perbedaan adalah keniscayaan dalam kehidupan. Perbedaan pandangan, pemahaman, maupun cara menyikapi persoalan tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling merendahkan, apalagi memutus tali persaudaraan. Justru di situlah kedewasaan iman, keluasan ilmu, dan keluhuran akhlak kita diuji.

Dalam kajian pada Gerakan Subuh Mengaji (GSM) Aisyiyah Jawa Barat edisi Rabu (7/10/2026), dengan tema “Sikap Terbuka dan Toleran KH. Ahmad Dahlan terhadap Perbedaan”, narasumber, KH. Arif Somantri, MAg, pimpinan Ma’had Amanah Muhammadiyah Kota Tasikmalaya, menyampaikan bahwa KH. Ahmad Dahlan mengajarkan kita, menjadi seorang Muslim bukan hanya tentang keteguhan memegang prinsip agama, tetapi juga tentang kemampuan menghadirkan Islam dengan sikap bijaksana, lapang dada, dan penuh kasih sayang.

Apa yang diajarkan Ahmad Dahlan itu merupakan implementasi dari firman Allah SWT dalam QS. An-Nahl ayat 125 yang menyeru manusia ke jalan Allah dengan hikmah, nasihat yang baik, serta berdialog dengan cara yang terbaik.

Ayat ini mengajarkan bahwa kebenaran tidak cukup disampaikan dengan kata-kata yang benar, tetapi juga harus melalui cara yang benar. Dakwah bukanlah ajang untuk mengalahkan orang lain, melainkan ikhtiar untuk menyampaikan kebenaran dengan kebijaksanaan, ketulusan, dan akhlak mulia.

Salah satu pelajaran penting dalam kajian ini adalah bahwa sikap toleran bukan berarti kehilangan prinsip, dan keteguhan prinsip bukan alasan untuk bersikap intoleran. Kita dapat teguh dalam keyakinan, sekaligus menghormati perbedaan dan menjaga hubungan baik dengan sesama.

Semangat ini sejalan dengan Kepribadian Muhammadiyah dan Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM), yang menekankan pentingnya memperbanyak kawan, mengamalkan ukhuwah Islamiyah, bersikap lapang dada dan luas pandangan, serta mengembangkan kerja sama dalam kebaikan dan pembangunan masyarakat.

Allah SWT juga mengingatkan dalam QS. Al-An’am ayat 108 agar kaum Muslimin tidak mencela sesembahan yang disembah oleh orang lain, sehingga tindakan tersebut tidak menimbulkan permusuhan dan berujung pada penghinaan terhadap Allah karena ketidaktahuan.

Pesan ini mengajarkan kepada kita pentingnya menjaga lisan, mengendalikan emosi, dan mempertimbangkan akibat dari setiap ucapan maupun tindakan.

Lalu, apa yang perlu kita praktikkan? KH. Arif Somantri mengajak kita untuk membiasakan diri mendengarkan sebelum menghakimi, berdialog tanpa merendahkan, menyampaikan kebenaran tanpa kebencian, menghormati perbedaan tanpa kehilangan prinsip dan memperbanyak persaudaraan dan kerja sama dalam kebaikan. Sebab, kedewasaan beragama tidak hanya terlihat dari seberapa kuat kita mempertahankan pendapat, tetapi juga dari seberapa bijak kita memperlakukan orang yang berbeda pendapat dengan kita.

Jangan sampai semangat membela kebenaran justru membuat kita kehilangan keindahan akhlak yang menjadi ruh dari dakwah itu sendiri.

Melalui Gerakan Subuh Mengaji ini, dengan tagline Moderat, Maju dan Mencerahkan, semoga tidak hanya bertambah ilmu, tetapi juga semakin matang dalam bersikap, semakin luas dalam memandang persoalan, dan semakin santun dalam berdakwah.

Mari hadirkan Islam sebagai rahmat, memperkuat ukhuwah, merawat kebersamaan, dan menebarkan kemaslahatan bagi seluruh kehidupan. (usep supriatna)

Tinggalkan Balasan

Search