Pekan lalu, dunia pendidikan Muhammadiyah kembali mendapat decak kagum. Dua gedung sekolah baru—TK ABA Semesta dan Muhammadiyah Sapen Universal School (MSUS)—resmi dibuka dengan wajah yang begitu bersinar bak sang Surya. Lantainya kinclong, kacanya memantulkan langit Yogya, dan fasilitasnya seolah membuat kita lupa bahwa ini adalah sekolah, bukan lobi hotel bintang lima.
Sebagai wujud fastabiqul khairat, ini tentu patut diapresiasi. KH Ahmad Dahlan, sang pendiri Persyarikatan ini, memang seorang modernis yang percaya bahwa umat Islam harus melek sains dan teknologi. Maka, gedung megah ini adalah bukti bahwa Muhammadiyah harus berada di depan zaman.
Namun, di balik kilau marmer dan deretan AC sentral, ada pertanyaan yang pelan-pelan mengetuk pintu hati kita. Kemegahan fisik, sering kali berjalan beriringan dengan biaya yang membuat kantong wong cilik langsung bolong. Muncullah kekhawatiran yang tak bisa lagi kita elak: apakah ini sebuah mercusuar peradaban?
Jujur saja, ada ironi yang menggelitik. Di satu sisi kita bangga dengan gedung yang “Instagramable“, di sisi lain kita harus mengakui bahwa pendidikan dasar Muhammadiyah kini tidak lagi terlihat sederhana.
Jika MSUS dan TK ABA Semesta kelak hanya ramai oleh anak-anak kaum urban mapan, maka kita harus cepat back to basic: ruh Al-Ma’un, yang mengajarkan kita untuk memeluk anak yatim, orang miskin, dan menolong mereka yang lemah.
Tentu, kita tidak perlu memilih secara dikotomis antara kemegahan dan kerakyatan. Keduanya bisa berpelukan erat jika kita mau mengubah cara pandang. Gedung mewah tidak harus menjadi menara gading. Ia bisa menjadi mercusuar—semakin tinggi menjulang, semakin luas cahayanya menjangkau sekitarnya.
Lalu, bagaimana caranya? Pertama, sekolah-sekolah premium ini perlu memperkuat skema subsidi silang berbasis filantropi Islam khas Muhammadiyah. Kuota bagi anak yatim, dhuafa, dan berprestasi dari keluarga kurang mampu harus menjadi kewajiban, bukan sekadar program tempelan. Dananya bisa digali dari Lazismu, para donatur dan orang tua siswa yang mampu. Dengan begitu, kemewahan fasilitas menjadi jembatan pemerataan, bukan tembok pemisah.
Kedua, fasilitas unggulan itu seyogianya terbuka lebar. Laboratorium, perpustakaan, atau lapangan olahraga bisa dibuka untuk pelatihan guru Muhammadiyah di pelosok, atau kegiatan warga sekitar di akhir pekan. Biarkan gedung ini “berbicara” dengan masyarakat, bukan hanya “menyapa” mereka dari balik pagar.
Kita ingat kembali Falsafah Jawa, “pagar mangkok luweh kuat ketimbang pagar tembok.” Sebuah falsafah yang melambangkan hubungan sosial yang baik dan erat dinilai sebagai perlindungan dan sistem keamanan lingkungan yang lebih kuat dibandingkan sekadar tembok beton.
Ketiga, kurikulum empati harus menjadi denyut nadi sekolah. Murid yang tumbuh di lingkungan serba cukup perlu rutin turun ke lapangan, seperti mengunjungi sekolah pinggiran, berempati di panti asuhan, atau terlibat dalam proyek kemanusiaan. Agar mereka paham bahwa privilege yang mereka nikmati adalah amanah, bukan hak istimewa untuk dipamerkan.
Peresmian TK ABA Semesta dan MSUS memang sebuah bentuk kemajuan. Namun kemajuan ini baru akan sempurna jika senyum anak-anak dari kalangan lemah pada sisi ekonomi, bisa ikut menikmati ke dalamnya.
Gedung yang menjulang tinggi bukanlah tanda bahwa Muhammadiyah sedang membangun menara gading, ia adalah mercusuar, bagai sang Surya yang menerangi dunia. Semakin megah ia berdiri, semakin luas cahaya Al-Ma’un yang harus ia pancarkan.
Mari kita pastikan kemegahan ini tetap membumi, agar Muhammadiyah tidak hanya indah dipandang dari jauh, tetapi juga hangat dirasa oleh mereka yang paling membutuhkan. Insya Allah. (*)
