Fenomena lebih dari satu juta sarjana menganggur di Indonesia kerap menyisakan stigma bahwa lulusan perguruan tinggi dianggap kurang kompeten atau belum siap kerja. Padahal, di balik lembar-lembar ijazah yang belum terpakai itu, terdapat tembok ketimpangan modal sosial serta pergeseran struktur ekonomi yang membuat garis start para pencari kerja tak pernah benar-benar setara.
Akademisi Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA), Radius Setiyawan, menilai masalah pengangguran terdidik tidak bisa semata-mata dibebankan kepada individu atau perguruan tinggi. Menggunakan perspektif sosiolog Pierre Bourdieu, ia menjelaskan bahwa ijazah hanyalah sebuah modal budaya (cultural capital) yang tidak otomatis bisa langsung dikonversikan menjadi modal ekonomi berupa pekerjaan dan penghasilan.
“Dua orang bisa sama-sama menyandang gelar sarjana, tetapi modal yang mereka miliki jauh berbeda,” ujar Radius.
“Ada yang sejak awal memegang privilege—jaringan relasi, pengalaman kerja, kelancaran berbahasa asing, akses teknologi, hingga sokongan finansial keluarga. Di sisi lain, ada lulusan yang murni hanya mengandalkan lembaran ijazah sebagai satu-satunya modal untuk masuk pasar kerja.” Tambahnya.
Jurang Ketimpangan dan Pergeseran Ekonomi
Ketimpangan modal sosial ini kian memprihatinkan lantaran berhadapan dengan perubahan struktur ekonomi nasional. Radius menyoroti fenomena deindustrialisasi dan tren investasi yang cenderung bergeser ke sektor padat modal. Kondisi ini memicu pertumbuhan ekonomi yang tampak bagus di atas kertas, tetapi minim dalam menciptakan lapangan kerja berkualitas (jobless growth).
Akibatnya, jumlah tenaga kerja terdidik yang terus membludak tidak sebanding dengan ketersediaan ruang di pasar kerja.
“Ketika pekerjaan berkualitas tidak tumbuh sebanding dengan jumlah lulusan, modal pendidikan semakin sulit diubah menjadi penghasilan,” tegasnya.
Karena itu, tidak boleh berhenti pada pertanyaan mengapa sarjana menganggur, tetapi juga harus berani melempar tanya, mengapa struktur ekonomi kita gagal menyediakan ruang untuk menyerap mereka.
Radius menekankan pentingnya melihat isu pengangguran terdidik dari kacamata struktural. Tanpa intervensi kebijakan yang membenahi keterbukaan akses dan penyerapan tenaga kerja, sarjana tanpa privilege akan terus tertahan di antrean panjang pencari kerja. (*/tim)
