Di tengah kerapnya perdebatan keagamaan di ruang digital, momen hangat dan menyejukkan tercipta di Tanah Suci. Tiga ulama kondang Indonesia—Ustaz Abdul Somad (UAS), Ustaz Adi Hidayat (UAH), dan Ustaz Das’ad Latif—tampak duduk dan berjalan bersama di sekitar Masjid Nabawi, Madinah, Senin (24/8/2026).
Pertemuan tersebut mendadak menyita perhatian publik setelah potongan video dan foto kebersamaan mereka beredar luas di media sosial. Lebih dari sekadar perjumpaan dai populer, momen ini membawa pesan kuat tentang pentingnya tawaduk, keteladanan, dan persatuan umat.
Kehangatan perjumpaan ini salah satunya diunggah oleh akun @hendrirahman_. Ia menggambarkan pertemuan UAS dan UAH sebagai perjumpaan dua guru di Kota Nabi yang sarat akan nasihat. Unggahan itu kemudian direspons kembali oleh UAH dengan memberikan pujian mendalam atas sosok UAS.

“Alhamdulillah dipertemukan kembali dengan sahabat mulia Tuan Guru Ustaz Abdul Somad di Kota Nabi. Satu hal yang tidak pernah berubah dari beliau sejak mula kami berjumpa, yaitu sikap tawaduk. Kesederhanaan yang menyelimuti luasnya ilmu adalah contoh sejati yang layak diteladani,” tulis UAH melalui akun media sosialnya.
Di momen yang sama, Ustaz Das’ad Latif terlihat berjalan sembari bergandengan tangan dengan UAS. Sembari menyapa jemaah, Ustaz Das’ad menyisipkan pesan penting agar masyarakat tidak sekadar mengagumi ceramah para ulama, tetapi juga mengamalkan ilmunya dalam kehidupan sehari-hari.
“Jangan cuma dengar ceramahnya para ulama, tapi amalkanlah. Kalau ada yang tidak sependapat, jangan saling menghina,” tegas Ustaz Das’ad.
Sementara itu, UAS membagikan kehangatan lain melalui kisah personalnya tentang tradisi Maulid Nabi yang membentuk perjalanan keagamaannya sejak kecil—mulai dari kenangan di kampung halaman membaca al-Barzanji, hingga pengalamannya saat menimba ilmu di Kairo.
Pertemuan ketiga ulama ini menjadi pengingat berharga bagi umat Islam di tanah air. Di saat perbedaan pandangan sering kali memicu perpecahan, keteladanan justru ditunjukkan dengan cara sederhana: saling merangkul, menghormati, dan merawat persaudaraan. (*/tim)
