Nafkah yang Paling Dekat: Cinta yang Dimulai dari Rumah

Nafkah yang Paling Dekat: Cinta yang Dimulai dari Rumah
*) Oleh : Ruli Alqodri Mustafa
Kolumnis, pemerhati sosial dan ekonomi, founder The TwinsPrime Economics and Social Studies – Cilegon, Banten.
www.majelistabligh.id -

Banyak orang bercita-cita menjadi dermawan. Mereka ingin membantu tetangga yang kesulitan, menyantuni anak yatim, atau bersedekah kepada kaum dhuafa. Semua itu merupakan amal saleh yang sangat dianjurkan dalam Islam. Namun, ada satu prinsip mendasar yang kerap terlupakan: jangan sampai tangan begitu ringan memberi kepada orang lain, tetapi justru lalai memenuhi hak orang-orang yang paling dekat dengan kita.

Islam mengajarkan bahwa prioritas nafkah dimulai dari rumah. Dari orang-orang yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala titipkan secara langsung kepada kita. Sebab cinta dalam Islam tidak berhenti pada ungkapan, melainkan diwujudkan melalui tanggung jawab yang nyata.

Tidak sedikit orang yang merasa bangga karena mampu membantu banyak orang di luar sana, sementara istri dan anak-anaknya hidup dengan perhatian yang minim. Ada pula yang rajin bersedekah, tetapi orang tuanya menahan kesedihan karena merasa diabaikan. Padahal, dalam syariat Islam, nafkah kepada keluarga bukan sekadar anjuran, melainkan kewajiban yang akan dimintai pertanggungjawaban.

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

“Mulailah (memberi nafkah) kepada dirimu sendiri. Jika ada kelebihan, maka untuk keluargamu. Jika masih ada kelebihan, maka untuk kerabatmu…” (HR. Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa Islam mengajarkan skala prioritas yang sangat logis sekaligus penuh kasih sayang.

Prioritas pertama adalah diri sendiri. Seseorang harus menjaga kesehatan, kemampuan, dan kelangsungan hidupnya agar tetap mampu beribadah serta menjalankan tanggung jawabnya. Seseorang yang tidak mampu menjaga dirinya akan kesulitan menunaikan kewajibannya kepada orang lain.

Setelah itu, prioritas utama adalah istri. Dalam Islam, istri bukan sekadar pendamping hidup, melainkan amanah yang harus dijaga. Nafkah kepada istri tidak hanya berupa pemenuhan kebutuhan materi, tetapi juga rasa aman, perhatian, kasih sayang, dan penghormatan terhadap martabatnya.

Berikutnya adalah anak-anak. Mereka merupakan generasi penerus yang membutuhkan lebih dari sekadar makanan dan pakaian. Mereka memerlukan pendidikan, bimbingan, teladan, dan kehadiran orang tua. Tidak sedikit anak yang tumbuh dalam kecukupan materi, tetapi miskin perhatian dan kasih sayang. Padahal, kehadiran orang tua sering kali menjadi nafkah yang paling berharga bagi jiwa mereka.

Setelah itu datang kewajiban berbakti kepada kedua orang tua. Betapa sering manusia lupa bahwa di balik keberhasilannya hari ini terdapat doa seorang ibu yang tidak pernah putus dan pengorbanan seorang ayah yang mungkin tidak pernah diceritakan. Ketika usia mereka mulai senja dan kekuatan mereka melemah, saat itulah bakti seorang anak benar-benar diuji.

Islam juga mendorong kepedulian kepada kerabat, anak yatim, fakir miskin, dan musafir. Namun, semua itu dilakukan setelah kewajiban terhadap keluarga telah dipenuhi. Sebab sedekah kepada orang lain merupakan amal yang sangat mulia, sedangkan nafkah kepada keluarga adalah amanah yang wajib ditunaikan.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Mereka bertanya kepadamu tentang apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah, ‘Harta apa saja yang kamu infakkan hendaklah diberikan kepada kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan orang yang sedang dalam perjalanan.'”
(QS. Al-Baqarah: 215)

Dalam ayat lain, Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga berfirman:

“Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum perempuan karena Allah telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain dan karena mereka telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.”
(QS. An-Nisa’: 34)

Ayat-ayat tersebut menunjukkan bahwa Islam membangun kehidupan sosial dimulai dari keluarga. Rumah yang dipenuhi tanggung jawab akan melahirkan masyarakat yang kuat. Sebaliknya, kepedulian sosial yang mengabaikan keluarga hanya akan melahirkan kebaikan yang tampak di luar, tetapi rapuh di dalam.

Sesungguhnya rumah adalah tempat pertama tumbuhnya cinta, ketenangan, dan keberkahan. Ketika nafkah diberikan dengan penuh keikhlasan dan tanggung jawab, rumah tidak sekadar menjadi tempat tinggal, melainkan menjadi madrasah pertama yang melahirkan generasi berakhlak mulia.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan hidup bukan hanya tentang seberapa besar harta yang dikumpulkan atau seberapa banyak sedekah yang diberikan kepada orang lain. Keberhasilan sejati juga diukur dari apakah orang-orang terdekat kita merasa dicintai, dijaga, dihormati, dan dimuliakan.

Bisa jadi, amal yang paling besar di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala bukanlah sedekah yang disaksikan banyak manusia, melainkan sepiring makanan yang dengan penuh kasih kita hidangkan kepada keluarga di rumah, nafkah yang diberikan dengan keikhlasan, serta perhatian yang membuat mereka merasa aman dan dicintai.

Sebab dari rumah yang penuh kasih sayang itulah lahir masyarakat yang kuat, bangsa yang bermartabat, dan peradaban yang diberkahi. (*)

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Search