Negeri Para Pembohong

Negeri Para Pembohong
*) Oleh : Syahrudin Darwis
Anggota Muhammadiyah NBM.495.547.
www.majelistabligh.id -

Di negeri ini, kebohongan kadang tidak lagi disebut dusta. Ia diberi nama yang lebih sopan: narasi, klarifikasi, penyesuaian data, atau bahkan strategi komunikasi.

Yang berbohong bukan hanya mereka yang berkuasa. Yang menarik, kebohongan justru tumbuh subur ketika masyarakat mulai terbiasa mendengarnya. Hari ini dibantah, besok dilupakan. Lusa muncul kebohongan baru. Ingatan publik dipaksa pendek agar kekuasaan tak perlu terlalu panjang menjelaskan. .

Di sini, fakta bisa dinegosiasikan. Angka dapat ditafsirkan. Janji dapat diubah menjadi slogan. Kesalahan dapat dipindahkan kepada bawahan. Dan ketika semuanya terbongkar, kalimat paling aman biasanya: “Itu di luar konteks.”

Maka persoalannya bukan lagi siapa pembohongnya. Persoalannya: mengapa sebuah negeri bisa membuat kebohongan terasa normal?

Barangkali karena hukuman terhadap kebohongan lebih kecil daripada keuntungan yang diperoleh darinya.  Kejujuran terasa mahal, sementara dusta kadang justru menjadi investasi politik.

Kita pun hidup dalam paradoks. Di sekolah, anak-anak diajarkan berkata benar. Di mimbar, kejujuran dipuji. Di rumah, orang tua mengingatkan agar jangan berdusta. Tetapi ketika masuk ke ruang kekuasaan, kebenaran sering berubah menjadi sesuatu yang harus disesuaikan dengan kepentingan.

Yang lebih berbahaya adalah ketika kebohongan tidak lagi datang sebagai kebohongan. Ia datang dengan jas, jabatan, gelar, konferensi pers, dan mikrofon.

Pada titik itu, kebohongan telah naik kelas: dari dosa pribadi menjadi budaya publik. .

Dan negeri yang terlalu lama membiarkan kebohongan hidup akhirnya tidak hanya kehilangan kepercayaan kepada pemerintah. Ia kehilangan sesuatu yang jauh lebih mahal: kepercayaan kepada sesama.
Sebab demokrasi pada akhirnya bukan hanya soal siapa yang menang dalam pemilu. Demokrasi berdiri di atas satu hal yang sederhana: bahwa kata-kata masih mempunyai arti.

Jika janji boleh bohong, data boleh dimanipulasi, fakta boleh dipelintir, dan kebohongan boleh dipoles menjadi kebenaran, maka yang runtuh bukan sekadar reputasi seorang pejabat.

Yang runtuh adalah akal sehat sebuah bangsa.
Dan mungkin itulah tragedi terbesar Negeri Para Pembohong:

Bukan karena terlalu banyak orang yang berbohong.
Tetapi karena terlalu banyak orang akhirnya tidak lagi merasa perlu marah ketika dibohongi.
Jakarta 29 Agustus 2026

 

Tinggalkan Balasan

Search