NKRI Berdiri di Atas Tumpukan Tulang & Siraman Darah Umat Islam (Bagian 2 Tulisan)

NKRI Berdiri di Atas Tumpukan Tulang & Siraman Darah Umat Islam (Bagian 2 Tulisan)
*) Oleh : Suwito Ibnu Kasby
Ketua Majelis Tabligh PDM Lamongan
www.majelistabligh.id -
Peran besar Ummat Islam ; Pra, Saat dan Pasca Kemerdekaan

Tak terhitung jumlahnya, berapa harta dan nyawa ummat Islam yang disumbangkan dan dikorbankan baik pra kemerdekaan, menjelang kemerdekaan maupun setelah kemerdekaan. Jika dirunut sejak awal maka kita temukan fakta sejarah ummat Islam melakukan perlawanan kepada para penjajah dimulai dari kerajaan-kerajaan Islam.

Abdul Qadir Djaelani memaparkan fakta ini begitu terang benderang dan dibuktikan dengan hujjah yang tak terbantahkan. Aktivis yang berkali-kali mendekam dijeruji penjara baik pada masa ORLA ataupun ORBA mengawali tulisan bukunya dengan tema ; Siapa yang layak untuk dijadikan Idola Nasional ; Majapahit atau Perlak ?

Menurut analisis beliau, menjadikan Majapahit sebagai idola Nasional atau lambang Indonesia Raya bukan saja tidak mempunyai landasan yang kuat, tetapi malah memalukan. Sebab Majapahit lambang kolonialis dan keterbelakangan. Benar secara wilayah lebih luas majapahit daripada Perlak akan tetapi Majapahit meluaskan kekuasaan atas daerah-daerah ini, bukan sebagai saudara sebangsa dan setanah air tetapi sebagai penjajah yang menaklukkan musuh-musuhnya, sehingga daerah-daerah takluknya sebagai daerah jajahan yang harus membayar upeti.

Berbeda dengan Perlak yang sejak awal berdirinya bercirikan Islam yang menggantikan kerajaan Mohrat, yang bercirikan Hindu. Setelah itu kesultanan Perlak silih berganti dipegang oleh sultan-sultan Muslim, seperti; Sultan Alaidin Syah (1161-1168), Sultan Alaidin Abdurrahman Syah (1185-1201), Sultan Alaidin Sayudi Abbas Syah (1201-1236), Sultan Alaidin Mughayat Syah (1236), Sultan Mahdun Alaidin Abadul Qadir Syah (1239-1243), Sultan Mahdun Alaidin Muhammad Amin Syah (1243-1267).

Dalam menjalankan kekuasaan Sultan Alaidin Muhammad Amin Syah, sebagai Sultan yang berbeda dengan yang lain dengan terobosan membuka perguruan tinggi di Bayeuen (Aramiyah atau Cotkala). Karenanya, Perlak dan Pasai adalah lambang keilmuan serta peradaban.

Bisa disebut inspirator awal bangkitnya bangsa ini melawan penjajah dimulai dari Kerajaan Perlak, supaya mudah memahami kobaran Jihad umat Islam melawan penjajah, ada baiknya kita melakukan studi komparasi antara waktu pertama para penjajah menginjak bumi Nusantara dengan tahun berdirinya kerajaan-kerajaan Islam yang gagah berani melawan monopoli dan hegemoni mereka. Perhatikan table berikut ;

TAHUN PENJAJAH KERAJAAN ISLAM
Portugis 1509-1595 Kerajaan Perlak 840-1292
Spanyol 1521-1692 Kerajaan Ternate 1257
Belanda 1602-1942 Kerajaan Samudera Pasai 1267-1521
Prancis 1806-1811 Kerajaan Gowa 1300-1945
Inggris 1811-1816 Kesultanan Malaka 1405-1511
Jepang 1942-1945 Kerajaan Islam Cirebon 1430-1677
Kerajaan Demak1478-1554
Kerajaan Islam Banten1526-1813
Kerajaan Pajang1568-1586
Kerajaan Mataram Islam1588-1680

Pengetahuan tentang waktu pertama kedatangan para penjajah dan awal tahun berdirinya kerajaan-kerajaan Islam tersebut menjadi urgent jika kita kaitkan dengan para pejuang yang awal mula mengobarkan semangat Jihad melawan kedzaliman dan penindasan para penjajah. H. Ahmad Ardaby Darban menarasikan cukup menarik betapa para penjajah dari mulai Portugis, Spanyol maupun Belanda yang awal kedatangan mereka bermuka manis menggalang perdagangan dengan bangsa Indonesia, hal itu ditanggapai dengan baik oleh para pedagang Islam dan kerjaan Islam.

Namun setelah para penjajah itu bernafsu untuk monopoli dagang, menyebarkan agama dengan memusuhi Islam, serta berkeinginan untuk menguasai kepulauan Indonesia, maka secara sadar umat Islam bangkit melawan penjajah. Sebagai contoh, saat Portugis pada tahun 1511 meneruskan penjajahan terhadap Malaka, ternyata mengundang timbulnya pergerakan di Indonesia untuk melawan penjajahan itu.

Solidaritas umat Islam muncul saat itu, sampai kerajaan Demak tidak tinggal diam, mengirimkan armadanya untuk melawan Portugis. Selain itu Demak juga membuat zone pertahanan dipantai utara Jawa dengan misi Fatahillahnya. Apa yang dilakukan Belanda nyaris sama dengan Portugis, bermuka manis dengan ajakan dagang di Banten kemudian memonopoli dan menjajah negeri, maka timbullah perlawanan dari umat Islam Indonesia, dengan berbagai pergerakan.

Saat Belanda menduduki Jayakarta dan akan melebarkan sayapnya kedaerah Indonesia lainnya, maka Sultan Agung Hanyokrokusumo dari Mataram berusaha membatasi penjajahan Belanda itu dengan mengirimkan ekspedisinya menyerbu Batavia (Jakarta), pada tahun 1625 dan tahun 1629. Ternyata perjuangan raja-raja Islam seperti diatas dikawasan Indonesia banyak muncul hampir serentak melawan penjajahan Belanda. Seperti, Iskandar Muda dari Aceh, Sisinga Mangaraja dari Batak, Intansari dari Sumatra, Selatan, Sultan Ageng Tirtoyo dari Banten, Sultan Hasanuddin dari Makasar, Antasari dari Banjar/Kalimantan Selatan dan Baabulloh dari Maluku.

 

Tinggalkan Balasan

Search