NKRI Berdiri di Atas Tumpukan Tulang & Siraman Darah Umat Islam (Bagian 2 Tulisan)

NKRI Berdiri di Atas Tumpukan Tulang & Siraman Darah Umat Islam (Bagian 2 Tulisan)
*) Oleh : Suwito Ibnu Kasby
Ketua Majelis Tabligh PDM Lamongan
www.majelistabligh.id -

Perang Padri yang berkobar di Sumatera Barat pada abad ke 19 meninggalkan jejak sejarah Islam yang sulit untuk dihapus. Lahirnya kaum Padri mempunyai kaitan langsung dengan gerakan Wahabi yang muncul di Arab Saudi, yaitu gerakan yang dipimpin oleh seorang ulama yang bernama Muhammadi Bin Abdul Wahab (1703-). Gerakan ini mempunyai tujuan memurnikan tauhid dan memberantas segala bentuk kesyirikan serta melaksanakan Syariat Islam dalam ranah kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat dan Negara.

Gerakan inilah yang mewarnai kehidupan Haji Miskin, Haji Abdurrahman, dan Haji Muhammad Arif yang bermukim di Mekah Arab Saudi, pada tahun 1802 mereka kembali ke Sumatera Barat dan berhasil menyatukan tujuh ulama di daerah Ampat Angkat sehingga terbentuklah organisasi yang dikenal dengan “Harimau Nan Salapan yang dipimpin oleh Tuanku Nan Renceh.

Dalam rangka mengukuhkan perjuangan kaum Padri, beliau memerintahkan muridnya Malin Basa, yang kemudian dikenal dengan Imam Bonjol untuk membuat benteng di kaki bukit Tajadi di daerah Timur Alahan Panjang dengan luas 90 hektar, tinggi tembok 4 meter dan tebalnya 3 meter yang dikelilingi dengan pagar berduri.

Di tengah-tengah benteng berdiri dengan megah sebuah Masjid, dilengkapi dengan perkampungan pasukan Padri dengan senjata-senjata yang dipasang di atas benteng. Sawah dan kebun-kebun untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari disiapkan sebaik-baiknya. Dan Malin Basa sebagai Imam dan pemimpin didalam benteng tersebut. Pantas saja, meskipun Belanda sejak tanggal 8 Juni 1835 mengerahkan ribuan pasukan yang ditopang dengan meriam besar menggempur benteng tersebut selalu berakhir dengan kegagalan.

Di pulau Jawa perang melawan penjajah dengan motivasi jihad juga tidak kalah dahsyatnya. Adalah Pangeran Diponegoro dalam memoarnya berkisah tentang dirinya, mengapa ia melakukan pemberontakan Sultan Yogyakarta, yang saat itu telah terpengaruh dengan gaya hidup penjajah.

Diantara jejak sejarah Islam yang melandasi peperangan ini bisa ditemukan dari berbagai manuskrip sejarah yang membersamai perang sabil/jihad yang dikobarkan oleh Pangeran Diponegoro. Diantaranya adalah ;

a) Saat beliau ‘bersemedi’ (baca; bertahannuts) tanggal 21 Ramadhan, ia mendapat perintah dari ‘Ratu Adil’ (saya menyebutnya Ilham yang mungkin dari Malaikat) ;” He, Ngabdulkamid, kupanggil kau kemari rebutlah tanah Jawa. Bila ada orang bertanya dasarnya adalah ayat Al Qur’an”. “ Mohon maaf saya tidak sanggup, saya tidak memiliki prajurit”, Jawab Diponegoro.

b) Tujuan perang Diponegoro mendirikan masyarakat yang baru yang merdeka, adil dan Makmur bersendikan Islam, mengembalikan keluhuran adat Jawa, yang bersih dari pengaruh Barat (westernisasi). Dari sini diketahui Diponegoro tidak berambisi pada tahta, dan semata-mata berjuang untuk rakyat, negara, agama, dan kebudayaan.

Kobaran peperangan yang dipimpin pangeran Diponegoro yang berlangsung selama 5 tahun, pihak Belanda mencatat telah tewas sebanyak 80.000 serdadu dan menghabiskan sebanyak 2.000.000,- gulden. Kerugian yang besar dari Belanda itu membuktikan bahwa perjuangan pangeran Diponegoro merupakan perjuangan yang besar, dan berhasil memporak porandakan pemerintahan kolonial Belanda.

Dalam peperangan tersebut, penting untuk diingat spirit Islam dan Jihad yang menjadi motivasi perjuangan Diponegara dan pasukannya karenanya, Abdul Qadir Djaelani lebih nyaman menyebut Pangeran Diponegara sebagai Pahlawan Islam daripada Pahlawan Nasional meskipun pergerakan Nasional hakekatnya tidak bisa terlepas dari pusaran pergerakan Islam.

Tentu saja peperangan yang disebutkan pada tulisan ini bukan berarti menegasikan peperangan-peperangan lain yang terjadi hampir diseluruh wilayah Indonesia. Tapi apa yang tersebut diatas semoga bisa mewakili dari peperangan besar lain yang tidak disebut.

Baca juga: NKRI Berdiri di Atas Tumpukan Tulang & Siraman Darah Umat Islam

Tinggalkan Balasan

Search