Pada Kongres Syarikat Islam, Haedar Nashir Beberkan Penguatan Ekonomi Umat

Pada Kongres Syarikat Islam, Haedar Nashir Beberkan Penguatan Ekonomi Umat
www.majelistabligh.id -

Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, memaparkan tiga langkah strategis untuk memperkuat ekonomi umat: memperbarui pola pikir bisnis, menumbuhkan jiwa kewirausahaan, serta membangun jejaring usaha yang solid.

Ketiga pilar tersebut dinilai harus ditopang oleh sistem kelembagaan yang profesional agar mampu mendorong kemandirian dan berkontribusi nyata bagi kemajuan bangsa.

Pesan strategis ini disampaikan Haedar dalam Dialog Kebangsaan bertema “Persatuan Umat untuk Kemajuan Ekonomi Bangsa” pada Kongres Nasional Majelis Tahkim Syarikat Islam ke-42 di Jatim Expo, Surabaya, Jawa Timur, Ahad (18/10/2026).

Dalam pemaparannya, Haedar menekankan pentingnya perubahan mendasar pada paradigma, budaya usaha, dan pola kolaborasi umat. Ia turut membagikan pengalaman Muhammadiyah dalam mengelola Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) sebagai bukti konkret mengintegrasikan nilai Islam dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

  1. Memperbarui Pola Pikir Ekonomi

Haedar menegaskan bahwa langkah awal membangun kekuatan ekonomi adalah mengikis pandangan negatif terhadap dunia usaha. Menurutnya, aktivitas ekonomi merupakan sarana pengabdian dan pemberdayaan masyarakat jika dijalankan sesuai syariat.

Ia mencontohkan teologi Al-Ma’un yang diusung Muhammadiyah. Teologi ini tidak hanya mengajarkan kepedulian pada kaum dhuafa, tetapi juga mendorong pemilik modal untuk memberdayakan mereka yang membutuhkan.

“Al-Ma’un itu memadukan pemilik modal dan pekerja. Yang diberikan bukan sekadar ‘ikan’, melainkan ‘kail’. Dari sinilah kemandirian ekonomi tercipta,” ujar Haedar.

  1. Menumbuhkan Jiwa Kewirausahaan

Langkah kedua adalah membangun etos entrepreneurship, terutama di kalangan generasi muda. Haedar mengingatkan agar orientasi karier tidak melulu tertuju menjadi pegawai negeri atau karyawan, melainkan berani membuka lapangan kerja baru.

Ia mengingatkan akar sejarah kuat kewirausahaan dalam gerakan Islam. Syarikat Islam bermula dari Sarekat Dagang Islam, sementara pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan, juga seorang pedagang batik.

“Jiwa wirausaha ini harus dihidupkan kembali melalui pendidikan dan pembiasaan sejak dini, termasuk menumbuhkan koperasi di lingkungan sekolah,” tegasnya.

  1. Memperkuat Jejaring dan Ekosistem Bisnis

Langkah ketiga adalah memperluas jejaring usaha. Haedar menilai, kelemahan utama pelaku UMKM—seperti keterbatasan modal, manajemen, dan akses pasar—dapat diatasi jika terdapat kolaborasi dan ekosistem terintegrasi.

Ia mendorong agar koperasi masyarakat dihubungkan langsung dengan sektor ritel dan distribusi modern. Menurutnya, persatuan umat harus diwujudkan dalam bentuk kerja sama ekonomi yang konkret, bukan sekadar wacana.

Haedar menggarisbawahi pentingnya tata kelola organisasi yang transparan, akuntabel, dan terstruktur. Belajar dari pengelolaan AUM, keberlanjutan usaha sangat bergantung pada kekuatan sistem, bukan figur individu.

“Orang itu bisa datang dan pergi, tetapi sistem tidak. Dengan sistem kelembagaan yang kuat, ekonomi umat akan terus berkembang secara mandiri, berkelanjutan, dan membawa manfaat luas bagi bangsa,” pungkasnya. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search