Pak Murady, Pengusaha Sukses yang Hibahkan Lahan Mewah pada Muhammadiyah

Ki Jal Atri Tanjung, S.Pd., S.H., M.H.
*) Oleh : Advokat Ki Jal Atri Tanjung, S.Pd., S.H., M.H.,
Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Barat
www.majelistabligh.id -

Masih segar dalam ingatan kita semua. Sabtu, 14 Maret 2026, menjadi hari bersejarah yang tak akan terlupakan bagi warga Muhammadiyah se-Indonesia. Di kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Jalan Cikditiro Yogyakarta, berlangsung sebuah acara yang mengharukan sekaligus membanggakan: penyerahan hibah tanah dari seorang anak bangsa, Abdul Murady Darmansyah (Pak Murady), kepada Persyarikatan Muhammadiyah. Lahan seluas 26.341,71 m2 ini berlokasi di Kota Sungai Penuh, Provinsi Jambi, dan diperkirakan senilai Rp40 miliar.

Hadir para petinggi Muhammadiyah. Ada Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. H. Haedar Nashir, M.Si, ditemani Ketua PP Agung Danarto dan Dahlan Rais, Sekretaris PP Sayuti, Ketua Majelis Dikti Litbang Prof. Bambang Setiaji, Rektor UMY Prof. Nurmandi, Ketua BPH STKIPM Sungai Penuh Pak Nasrullah, dan tentu saja Ketua STKIPM Sungai Penuh, Prof. Dr. Mahli Zainuddin Tago. Dalam forum itulah, Pak Mahli menyampaikan laporan perkembangan STKIPM Sungai Penuh—sebuah kabar yang sudah lebih dulu didengar di hadapan Majelis Dikti Litbang PP Muhammadiyah.

Lalu giliran Pak Murady bicara. Dengan suara lirih tapi penuh keyakinan, ia berkata, “Saya merasa kewajiban sebagai kepala keluarga sudah saya tunaikan. Sekarang, dengan izin keluarga, saya mengambil sebagian aset untuk bekal menuju akhirat.”

Hibah tanah ini, tegasnya, jangan sampai hanya menjadi lahan tidur. “Kalau hanya menyerahkan lahan tanpa pembangunan, itu hanya akan menjadi tempat makan kambing dan kerbau. Sawah subur itu lebih baik dikerjakan masyarakat saja. Tapi jika di atas tanah ini berdiri kampus, maka ribuan mahasiswa akan hadir. Dampak sosial ekonominya luar biasa bagi masyarakat kampung halaman saya, Kumun,” tambah Murady.

Dan momen itu terjadi di bulan Ramadan. Pak Murady tersenyum bahagia. Ia yakin ini bagian dari ibadah puasanya yang istimewa.

Peristiwa penandatanganan hibah tanah dari Pak Murady pada Muhammadiyah. (ist)
Peristiwa penandatanganan hibah tanah dari Pak Murady pada Muhammadiyah. (ist)

Bagi Pak Murady, tanah yang dihibahkan bukan sekadar benda. Ada sejarah dan luka masa kecil yang menyertainya. Ibunya meninggal ketika ia masih belia. Hidup berat di kampung halaman. Namun di saat sulit itulah ia berkenalan dengan Muhammadiyah. Ia sering diminta Pimpinan Ranting Muhammadiyah setempat untuk mengantarkan undangan rapat.

Selepas SMEP di Kerinci, Murady muda merantau ke Surabaya. Sebelum berangkat, seorang tokoh Muhammadiyah Kumun, Buya Usman, memanggilnya. “Nak, ini kartu anggota Muhammadiyah. Kalau di perantauan kau kesulitan, datanglah ke Panti Asuhan Muhammadiyah terdekat. Tunjukkan kartu ini,” kata Buya Usman.

Nasihat itu tertanam dalam-dalam. Kini, setelah Allah memberinya rezeki berlimpah—bisnis perminyakan, transportasi, puluhan kapal tanker, SPBU di mana-mana, serta proyek pelabuhan di berbagai penjuru tanah air—Pak Murady tak ingin sekadar kaya. Ia ingin membalas jasa. Maka hibah itu pun lahir. Bukan sekadar tanah, tapi cita-cita membangun kampus di kampung halaman.

Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Haedar Nashir, tampak haru sekaligus bangga. “Hibah ini memang untuk Muhammadiyah, tapi sesungguhnya penerimanya adalah umat Islam dan bangsa Indonesia,” ujarnya.

Ia menegaskan, lembaga pendidikan yang akan dibangun di atas tanah itu menjadi amal jariyah, ilmu bermanfaat, dan mencetak anak-anak saleh.

Tanpa berpanjang kata, Haedar Nashir langsung memerintahkan Majelis Dikti Litbang dan Rektor UMY untuk mewujudkan mimpi besar ini. “Seksama, dan dalam tempo sesingkat-singkatnya,” tegasnya. “Kalau kita mulai dengan energi positif, maka pintu-pintu akan terbuka. Walladziina jaahaduu fiinaa lanahdiyannahum subulana,” ucap Haedar Nashir.

Pascaacara, pekerjaan besar menanti: proses legal di notaris, mengurus sertifikat di Kantor Pertanahan, dan membentuk panitia pelaksana pembangunan yang akan dikukuhkan SK PP Muhammadiyah.

Pak Murady sendiri diminta menjadi Ketua Panitia. Hari-hari ke depan, dua tokoh Muhammadiyah ini—Pak Murady dan Pak Mahli—akan semakin sibuk, dinamis, berkolaborasi, dan bersinergi dengan semua pihak. Targetnya satu: mewujudkan kampus kebanggaan masyarakat Kerinci, kebanggaan Muhammadiyah, umat, dan Bangsa Indonesia.

Berawal Setahun Lalu

Sekira setahun sebelum acara bersejarah itu, sebuah pertemuan sederhana namun penuh takdir terjadi di ruang kerja Ketua STKIPM Sungai Penuh, Prof. Mahli Zainuddin Tago. Dua tokoh masyarakat Kumun datang. Mereka bukan sekadar bersilaturahmi. Saat itu Pak Mahli tengah menanti kepastian apakah kampus transisi bisa menggunakan Gedung Biru—bekas bangunan Uji KIR Dinas Perhubungan—yang berada di desa Kumun.

Namun alih-alih membicarakan Gedung Biru, kedua tamu itu justru mengajak Pak Mahli melihat ke belakang gedung. Di sebuah kebun, Wo Basyarin—salah satu tokoh—mengangkat ponsel. “Ini kebun milik Pak Murady. Beliau bersedia mewakafkan setengah hektare untuk kampus STKIPM Sungai Penuh.”

Wo Basyarin kemudian menambahkan, “Pak Murady juga punya lahan lain yang lebih strategis. Tepat di depan rumah Dinas Walikota. Tapi untuk itu, Pak Mahli harus bertemu langsung dengan beliau di Jakarta.”

Kejutan besar datang saat Pak Mahli akhirnya duduk berhadapan dengan Pak Murady di ibu kota. Tanpa banyak basa-basi, pengusaha sukses itu berkata, “Saya hibahkan tanah di depan rumah Dinas Walikota itu ke Muhammadiyah. Tapi dengan satu syarat: Muhammadiyah harus segera membangun kampus. Maksimal dua tahun.”

Pak Murady bukanlah sosok sembarangan di Kerinci. Ia dikenal sebagai pengusaha papan atas, politisi bertangan dingin, mantan anggota DPR RI, dan bendahara partai di level nasional. Banyak orang bilang, siapa pun yang dekat dengannya berpotensi menjadi walikota atau bupati. Dan kini, kedekatan itu bersemi antara Pak Murady dan Prof. Mahli Zainuddin Tago—seorang dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta yang memilih pulang kampung. Bukan untuk pensiun, tapi untuk mengabdikan diri sebagai putra daerah. Tokoh pemikir, pekerja keras, pekerja ikhlas, dan petarung. Doa masyarakat pun mengiringi: semoga Pak Mahli sukses membangun kampung halaman yang berkemajuan dan menyejahterakan. Aamiin ya rabbal’alamiin. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search