Pandai Menyalahkan Tapi Lupa Bercermin

Pandai Menyalahkan Tapi Lupa Bercermin
*) Oleh : M. Mahmud, M.Pd.I
PRM kandangsemangkon Paciran Lamongan Jawa Timur
www.majelistabligh.id -

Semakin fasih kita menyalahkan orang lain, semakin kita gagal memperbaiki diri. Menyalahkan orang lain terasa lebih mudah karena tidak perlu menghadapi kelemahan diri. Bercermin berarti berani melihat kekurangan, kesalahan, dan tanggung jawab pribadi. Tanpa refleksi, kesalahan akan terus berulang karena akar masalah tidak pernah disentuh

Dampak sikap ini, hubungan sosial menjadi rapuh: orang yang selalu menyalahkan akan kehilangan kepercayaan dan rasa hormat. Pertumbuhan pribadi terhambat: tidak ada evaluasi diri, tidak ada perbaikan. Lingkungan kerja atau keluarga bisa penuh konflik karena energi habis untuk saling tuding, bukan mencari solusi

Mengapa bercermin itu penting
Bercermin bukan berarti menyalahkan diri sendiri, melainkan menyadari peran kita dalam setiap situasi. Dengan refleksi, kita bisa belajar, memperbaiki, dan tumbuh lebih dewasa. Sikap ini menumbuhkan empati: ketika kita sadar pernah salah, kita lebih bijak dalam menilai orang lain

Dalam Islam, sikap “pandai menyalahkan tapi lupa bercermin” dipandang sebagai akhlak tercela karena bertentangan dengan perintah muhasabah (introspeksi diri) dan larangan mencari-cari kesalahan orang lain. Al-Qur’an menegaskan agar setiap orang memperhatikan amalnya sendiri (QS. Al-Hasyr: 18) dan tidak mengatakan sesuatu yang tidak dilakukan (QS. As-Saff: 2–3)

Allah berfirman dalam QS. Al-Hasyr: 18
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢبِمَا تَعْمَلُوْنَ
Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.

Pada QS. As-Saff: 2-3
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لِمَ تَقُوْلُوْنَ مَا لَا تَفْعَلُوْنَ كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللّٰهِ اَنْ تَقُوْلُوْا مَا لَا تَفْعَلُوْنَ
Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?. Sangat besarlah kemurkaan di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.

Konsep Muhasabah (Introspeksi Diri)

• Definisi: Muhasabah berarti evaluasi diri, menimbang amal baik dan buruk yang
telah dilakukan.

• Tujuan:
o Menyadari kesalahan pribadi dan memperbaikinya.
o Meningkatkan amal shalih.
o Menghindari sifat lalai dan sombong.

• Hadis Nabi ﷺ: “Orang yang cerdas adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian.” (HR. Tirmidzi)

Cara Melatih Introspeksi dalam Islam:
-Membiasakan muhasabah setiap malam, menilai amal baik dan buruk
-Mengendalikan emosi agar tidak terburu-buru menyalahkan orang lain
-Berdoa saat bercermin: “Ya Allah, sebagaimana Engkau telah memperindah rupa-ku, maka perindahlah juga akhlak-ku.” (HR. Ahmad)
-Memahami perspektif orang lain untuk melatih empati dan kesabaran

Islam menekankan bahwa menyalahkan orang lain tanpa bercermin adalah tanda kelemahan iman dan akhlak. Seorang Muslim seharusnya lebih sibuk memperbaiki dirinya melalui muhasabah, karena hanya dengan introspeksi lah hati menjadi tenang, hubungan sosial harmonis, dan amal diterima Allah SWT

Kalau menurutmu, apakah kebiasaan menyalahkan orang lain lebih sering muncul karena kurangnya muhasabah harian, atau karena ego yang terlalu besar

Menurut saya, kebiasaan menyalahkan orang lain biasanya muncul dari dua akar utama: kurangnya muhasabah harian dan ego yang terlalu besar. Keduanya saling terkait, tapi punya nuansa berbeda.

1. Kurangnya muhasabah harian: ketika seseorang jarang mengevaluasi diri, ia tidak terbiasa melihat kelemahan pribadi. Akibatnya, setiap masalah dianggap berasal dari luar dirinya. Ini lebih ke soal kelalaian atau kurangnya kebiasaan refleksi.

2. Ego yang terlalu besar: ini lebih dalam, karena orang dengan ego tinggi merasa dirinya selalu benar. Ia menolak mengakui kesalahan, bahkan kalau sudah jelas. Menyalahkan orang lain jadi cara mempertahankan citra diri.

Kalau diibaratkan, kurang muhasabah itu seperti lupa membersihkan kaca sehingga pandangan kabur, sedangkan ego besar itu seperti sengaja menutup mata agar tidak melihat kekurangan

Kalau kita kaitkan dengan kehidupan sehari-hari, melawan ego biasanya terasa lebih sulit dibandingkan membiasakan diri untuk muhasabah.

• Ego itu seperti benteng pertahanan diri: ia membuat kita merasa selalu benar, enggan menerima kritik, dan sulit mengakui kesalahan. Butuh kerendahan hati yang besar untuk merobohkan benteng itu.

• Muhasabah lebih ke soal kebiasaan. Memang tidak mudah konsisten, tapi kalau sudah dilatih, misalnya dengan refleksi sebelum tidur atau doa saat bercermin lama-lama jadi rutinitas yang menenangkan.

Jadi, melawan ego itu tantangan utama, sedangkan muhasabah adalah jalan keluar yang bisa melembutkan hati dan menundukkan ego. Orang yang terbiasa muhasabah akan lebih mudah mengendalikan egonya, karena ia sudah terbiasa melihat kelemahan diri tanpa merasa terancam. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search