Terungkapnya kasus korupsi program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang melibatkan jajaran petinggi Badan Gizi Nasional (BGN) baru-baru ini, memberikan pelajaran penting bagi siapa saja yang mengemban amanah publik.
Di setiap jabatan—sekecil apa pun kewenangannya—selalu ada celah dan godaan untuk berbuat curang. Bagi orang di luar institusi, kekhawatiran ini terdengar berlebihan. Namun bagi mereka yang berada di dalam, potensi untuk ikut terbawa arus penyalahgunaan wewenang sangatlah besar.
Hal ini pernah diingatkan Prof. Mahfud MD, mantan Ketua MK, dengan ucapan monumental: malaikat pun kalau masuk ke sistem yang korup bisa berubah menjadi setan.
Meskipun demikian, tanpa kita sadari di balik kebobrokan sistem itu, Allah punya cara menyelamatkan hamba-Nya dari terjebak bujuk rayu setan. Terkadang caranya justru lewat beban kerja personal yang secara lahiriah terasa tidak menyenangkan.
Bagaimana mungkin beban kerja bisa menjadi penyelamat? Sangat mungkin, ini mengingatkan pengalaman pribadi saat diberi tanggung jawab mengelola program dengan skema serupa MBG beberapa tahun lalu.
Bayangkan, mengelola anggaran yang cukup besar dengan kewenangan yang berdampak pada hajat hidup orang banyak, secara naluriah tentu memantik nafsu duniawi. Wajar, di situ pasti ada celah terbuka untuk meraup keuntungan yang bukan haknya.
Benar saja, memang cukup banyak peluang dan pintu masuk untuk mendapatkan penghasilan tambahan dengan memanfaatkan kewenangan tersebut.
Modusnya bisa sangat beragam; mulai dari menekan mitra kerja dengan ancaman putus kontrak jika tidak menyetor ‘upeti’, hingga memanipulasi jumlah penerima manfaat yang tidak sesuai dengan fakta di lapangan.
Nilai materi yang bisa dikeruk tentu tidak main-main, apalagi program ini sudah berjalan selama bertahun-tahun. Kalau sekadar untuk membeli mobil tipe standar, rasanya sangat mudah dilakukan manakala niat serakah dituruti saat itu.
Namun, justru di sinilah bentuk pertolongan-Nya yang tak disangka. Sepanjang program berjalan, tidak pernah sekalipun terlintas di pikiran untuk berbuat curang. Bukan karena merasa sebagai manusia paling jujur—sadar batas kapasitas diri—melainkan karena pikiran sudah terkunci oleh tekanan urusan teknis yang melibatkan masyarakat luas.
Persoalan demi persoalan terus mengalir deras selama seharian seolah tiada habisnya. Data penerima manfaat yang tidak akurat, distribusi logistik yang tersendat, komplain warga yang menilai makanan kurang layak, hingga mitra kerja yang menagih pembayaran. Semua pekerjaan rumah itu meminta perhatian penuh dan harus selesai segera mungkin.
Saya teringat bagaimana setiap waktu harus berkoordinasi dengan petugas lapangan untuk mengecek laporan terkini, demi memastikan tidak ada lagi keluarga miskin yang kecewa karena bantuan permakanan tidak sesuai dengan yang diharapkan. Imbasnya urusan pribadi jadi terbengkalai, waktu makan sering terlewat dan waktu istirahat menjadi sebuah kemewahan yang mahal.
Jujur, dihadapkan dengan himpitan begitu berat tersebut, kadang kala terucap keluhan dalam hati: “Mengapa tugas ini membuat hidup menjadi serba merepotkan?”
Di titik ini, malah timbul kegelisahan hati yang ujung-ujungnya mempertanyakan kebenaran janji pertolongan-Nya: “…Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (QS. Al-Baqarah: 214).
Tidak aneh jika muncul hal seperti itu, karena segala ikhtiar sebagai wasilah sudah dimaksimalkan. Tidak hanya doa dan ibadah mahdah saja sebagai andalan mendekatkan diri kepada Yang Mahakuasa, berbagai bentuk sedekah dan ibadah muamalah lainnya pun tak henti dilakukan.
Kondisi ini hampir saja membuat putus asa karena pertolongan dalam bentuk kemudahan yang seperti diinginkan, tidak juga kunjung datang. Bahkan, masalah justru melebar dan menambah beban kerja karena harus memberikan klarifikasi kepada berbagai pihak agar tidak ada celah tuduhan penyalahgunaan wewenang.
Namun, setelah seluruh program selesai dan bisa menarik napas lega, sebuah pertanyaan reflektif mendadak muncul: mengapa selama disibukkan masalah dari berbagai penjuru itu, saya tidak pernah sempat berpikir untuk korupsi?
Jawabannya perlahan muncul seiring datangnya rasa syukur: karena Allah tidak menyisakan ruang kosong sedikit pun di relung pikiran untuk mengawali niat buruk. Di dalamnya sudah penuh sesak oleh urusan menyelesaikan pekerjaan.
Ternyata Allah sengaja mengirimkan kesibukan yang berlapis-lapis sebagai perisai tak kasat mata yang menjadi cara-Nya dalam menyelamatkan kita yang jarang kita sadari sedari awal.
Allah mengirimkan cara yang tidak populer untuk menyelamatkan kita dari bencana besar dengan menurunkan musibah kecil yang datang beruntun. Artinya, bukan dengan memberikan kemudahan ataupun kekuatan yang instan, melainkan melalui beban kerja yang melelahkan agar kita terlalu letih untuk sekadar memikirkan cara berbuat dosa.
Tentu saja, catatan ini bukan pembelaan terhadap sistem birokrasi yang semrawut, bukan pula ajakan untuk sengaja menciptakan kekacauan kerja. Ini hanya sekadar ingin berbagi perspektif dari sudut pandang pekerja sosial: ketika amanah besar datang, dan tekanan terasa begitu berat hingga menghimpit dada, jangan terburu-buru menyimpulkannya sebagai azab atau kemalangan.
Bisa jadi, itulah cara karunia Allah bekerja melindungi kita. Sebuah skenario penyelamatan yang indah setelah semuanya berlalu. Setelah kita tahu bahwa ada orang yang terjerumus karena tidak tahan godaan dunia, akhirnya berhadapan dengan hukum.
Ternyata inilah makna sesungguhnya dari firman Allah: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216).
Sebab, cara Allah menyelamatkan kita terkadang justru lewat hal yang paling kita benci: disibukkan urusan pekerjaan yang tak ada habisnya. (*)
