Rahasia Kelimpahan dan Kedamaian Hidup

Rahasia Kelimpahan dan Kedamaian Hidup
*) Oleh : Suharto Fauzan
Pegiat Literasi (Simpatisan Muhammadiyah)
www.majelistabligh.id -

Di antara sekian banyak figur dalam Al-Qur’an, Nabi Sulaiman AS adalah simbol puncak kejayaan materi, kekuasaan, dan mukjizat. Beliau dianugerahi kerajaan yang tidak tertandingi, kemampuan berbicara dengan hewan, hingga menundukkan angin dan bangsa jin. Namun, yang membuat kedudukan beliau begitu mulia di sisi Allah bukanlah kemegahan kerajaannya, melainkan kerendahan hatinya untuk terus bersyukur.

Salah satu potret syukur yang paling indah diabadikan dalam Al-Qur’an Surat An-Naml ayat 19.

Refleksi Syukur Nabi Sulaiman dalam Surat An-Naml Ayat 19
Ketika Nabi Sulaiman bersama pasukannya melewati lembah semut, beliau mendengar seekor ratu semut mengingatkan kaumnya untuk masuk ke dalam sarang agar tidak terinjak. Mendengar hal itu, Nabi Sulaiman tidak sombong, melainkan tersenyum dan langsung menghadapkan hatinya kepada Allah SWT:
فَتَبَسَّمَ ضَاحِكًا مِّن قَوْلِهَا وَقَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ
Maka dia (Sulaiman) tersenyum bangga karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa, ‘Ya Tuhanku, anugerahkanlah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku mengerjakan kebajikan yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.'” (QS. An-Naml: 19)

Dari ayat ini, kita belajar bahwa syukur Nabi Sulaiman memiliki tiga dimensi utama; Beliau menyadari bahwa kemampuan mendengar semut adalah nikmat dari Allah, bukan kehebatannya sendiri. Beliau meminta agar rasa syukur itu diwujudkan dalam bentuk tindakan nyata yang diridhai Allah. Beliau tidak hanya bersyukur atas nikmat untuk dirinya, tetapi juga nikmat yang diberikan kepada kedua orang tuanya (Nabi Daud AS).

Manfaat & Dampak Positif Bersyukur dalam Kehidupan
Syukur bukan sekadar ucapan “Alhamdulillah”, melainkan sebuah kondisi mental dan spiritual yang membawa dampak transformatif dalam kehidupan nyata.

Secara spiritual, Allah telah menjanjikan bahwa syukur adalah magnet bagi nikmat-nikmat selanjutnya. Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur’an:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.‘” (QS. Ibrahim: 7)

Orang yang bersyukur fokus pada apa yang mereka miliki, bukan pada apa yang tidak mereka miliki. Hal ini memotong akar penyakit hati seperti hasad (iri dengki), cemas berlebihan, dan depresi. Rasulullah SAW bersabda mengenai indahnya mentalitas seorang mukmin yang pandai bersyukur: “Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya baik baginya… Jika ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Dan jika ia ditimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu baik baginya.” (HR. Muslim)

Nabi Sulaiman memandang nikmat sebagai ujian, sama seperti musibah. Beliau pernah berkata, “Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya).” (QS. An-Naml: 40). Dengan bersyukur, kita memiliki jangkar emosi yang kuat, sehingga tidak mudah goyah saat hidup sedang di atas maupun di bawah.

Akibat Fatal Jika Tidak Bersyukur (Kufur Nikmat)
Lawan dari syukur adalah kufur nikmat, yaitu mengingkari, menyembunyikan, atau menyalahgunakan kebaikan yang telah Allah berikan. Ada beberapa dampak buruk jika seseorang enggan bersyukur. Rasulullah SAW mengingatkan bahwa manusia yang tidak bersyukur akan selalu merasa kurang. “Seandainya manusia diberi dua lembah berisi harta, tentu ia akan mencari lembah yang ketiga…” (HR. Bukhari). Tanpa syukur, sekaya apa pun seseorang, ia akan hidup dengan mentalitas “miskin”.

Nikmat yang tidak disyukuri lambat laun akan dicabut oleh Allah, atau tetap ada namun berubah menjadi istidraj (jebakan berupa kenikmatan duniawi yang menjauhkan dari Allah).

Sebagaimana akhir dari Surat Ibrahim ayat 7 di atas, ingkar nikmat mengundang azab yang pedih, baik di dunia (berupa kegelisahan, hancurnya reputasi, atau hilangnya harta) maupun di akhirat.

Menjadi Hamba yang Sedikit
Allah SWT berfirman dalam Surat Saba’ ayat 13, “…Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih (bersyukur).”
Nabi Sulaiman AS memilih untuk masuk ke dalam golongan yang “sedikit” itu. Beliau membuktikan bahwa kekayaan dan kekuasaan tertinggi sekalipun justru bisa melahirkan ketundukan yang paling dalam jika dibarengi dengan ilmu dan iman.

Mari kita mulai hari ini dengan menghentikan keluhan, melihat ke bawah untuk urusan duniawi, dan menengadah ke atas untuk berterima kasih atas setiap helaan napas, kesehatan, dan hidayah yang masih kita miliki.(*)

 

 

Tinggalkan Balasan

Search