Muharram Memulai Lembaran Baru, Belajar dari Taubatnya Nabi Adam AS

Muharram Memulai Lembaran Baru, Belajar dari Taubatnya Nabi Adam AS
*) Oleh : M. Mahmud, M.Pd.I
Ketua PRM Kanndangsemangkon Paciran Lamongan Jawa Timur
www.majelistabligh.id -

Bulan Muharram bukan sekedar pergantian angka pada kalender hijriyah. Ia adalah momentum spiritual yang besar. Muharram adalah waktu di mana sejarah-sejarah besar umat manusia diukir.

Di Bulan ini Allah SWT menyelamatkan Nabi Nuh dari banjir bandang, di Bulan ini Allah SWT menyelamatkan Nabi Musa dari kejaran Raja Fir’aun, dan di Bulan ini pula sebuah peristiwa yanng sangat menyentuh hati di awal peradaban manusia. Diterimanya taubat ayahanda kita, Nabi Adam AS.

Nabi Adam AS tidak mencari alasan. Beliau tidak menyalahkan takdir, tidak pula meyalahkan iblis atas pilihannya sendiri. Yang beliau lakukan adalah menangis, bersimpuh, dan mengakui kelemahannya di hadapan Allah SWT.

Selama bertahun tahun di bumi, penyesalan memenuhi dadanya, hingga akhirnya Allah SWT mengajarkan sebuah kalimat taubat yang abadi, yang di abadikan dalam QS. Al-A’raf ayat 23:

قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَآ اَنْفُسَنَا وَاِنْ لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ

Artinya: Keduanya berkata, “Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan tidak merahmati kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.”

Dan tepat pada bulan Muharram, Allah SWT yang Maha Pengampun menerima taubat Nabi Adam AS. Allah runtuhkan gunung dosa dan kesedihan itu, menggantinya dengan rahmat dan ridla-Nya. Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 37:

فَتَلَقّٰٓى اٰدَمُ مِنْ رَّبِّهٖ كَلِمٰتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ ۗ اِنَّهٗ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ

Artinya: Kemudian, Adam menerima beberapa kalimat18) dari Tuhannya, lalu Dia pun menerima tobatnya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.

18) Yang dimaksud dengan beberapa kalimat pada ayat ini adalah ucapan untuk memohon ampunan (tobat) dari Allah Swt., seperti disebut dalam surah al-A‘rāf/7: 23.

Jadi, Muharram bukan sekadar pergantian waktu, melainkan ajakan untuk memperbarui hati dan tekad. Seperti Nabi Adam AS, kita pun bisa menjadikan taubat sebagai awal lembaran baru yang penuh harapan.

Hikmah dari Muharram dan kisah taubat Nabi Adam AS bisa dirangkum dalam beberapa poin penting:

1. Kesalahan adalah bagian dari manusia Nabi Adam AS melakukan kesalahan, tetapi beliau tidak berputus asa. Ini mengajarkan bahwa manusia pasti pernah tergelincir, namun yang terpenting adalah bagaimana kita bangkit kembali.

2. Taubat membuka pintu rahmat Allah Allah menerima taubat Nabi Adam AS, menunjukkan bahwa kasih sayang-Nya selalu lebih besar daripada dosa hamba-Nya. Muharram menjadi momentum untuk memperbanyak istighfar dan doa.

3. Awal baru penuh harapan Tahun baru Hijriyah bukan sekadar pergantian angka, melainkan kesempatan untuk memperbaiki diri, menata niat, dan memulai perjalanan hidup yang lebih baik.

4. Rendahan hati di hadapan Allah Doa Nabi Adam AS mencerminkan sikap rendah hati: mengakui kesalahan dan memohon ampun. Ini menjadi teladan agar kita tidak sombong, melainkan selalu bergantung pada Allah.

5. Muharram sebagai bulan refleksi selain momentum hijrah, Muharram juga mengingatkan kita untuk hijrah dari keburukan menuju kebaikan, dari kelalaian menuju kesadaran.

Jadi, hikmahnya adalah: setiap kesalahan bisa menjadi titik balik menuju kebaikan, asal kita mau bertaubat dan memulai lembaran baru dengan hati yang bersih. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search