Semangat pembaruan organisasi menggelora di Aula Rumah Sakit Islam (RSI) Purwokerto, Ahad (2/8/2026). Sebanyak 90 kader yang mewakili 27 Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah (PCPM) se-Kabupaten Banyumas berkumpul dalam Up Grading Organisasi dan Administrasi yang diselenggarakan Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Banyumas. Mereka datang membawa satu tekad: memperkokoh ideologi, membenahi tata kelola organisasi, serta menyiapkan kepemimpinan yang mampu menjawab tantangan zaman.
Up Grading ini bukan sekadar pelatihan administrasi. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi momentum konsolidasi kader untuk memperkuat tiga pilar utama gerakan Pemuda Muhammadiyah, yakni ideologi yang kokoh, organisasi yang profesional, dan kepemimpinan yang berintegritas.

Melalui perpaduan ketiga aspek tersebut, PDPM Banyumas ingin melahirkan kader yang tidak hanya aktif dalam organisasi, tetapi juga mampu menjadi motor penggerak dakwah Islam Berkemajuan di tengah masyarakat.
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Banyumas, Drs H M Thohar, MSi. Dalam arahannya, ia mengingatkan bahwa Muhammadiyah sejak awal berdiri memiliki tiga karakter utama yang harus terus melekat dalam diri setiap kader, yaitu sebagai Gerakan Islam, Gerakan Amar Makruf Nahi Munkar, dan Gerakan Tajdid.
“Muhammadiyah adalah gerakan Islam yang menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai pedoman. Kader Pemuda Muhammadiyah harus menjadi teladan dalam mengamalkan ajaran Islam, menghadirkan dakwah yang mencerahkan, serta terus melakukan tajdid agar mampu menjawab tantangan zaman,” tegasnya.
Menurut Thohar, penguatan organisasi tidak cukup hanya dengan meningkatkan kemampuan teknis. Yang lebih penting adalah membentuk karakter kader yang memiliki keteguhan ideologi, disiplin dalam menjalankan amanah, serta kesiapan menjadi pelopor perubahan di tengah masyarakat.
Administrasi sebagai Fondasi Organisasi
Ketua Panitia, Tri Nugroho, SPd menjelaskan bahwa Up Grading diikuti oleh 90 kader dari 27 PCPM sebagai bagian dari penguatan ideologi, administrasi, dan strategi gerakan organisasi.
“Administrasi bukan sekadar tumpukan berkas, tetapi ruang tempat sejarah organisasi ditulis, keputusan dipertanggungjawabkan, dan estafet kepemimpinan dijaga,” ujarnya.
Gagasan tersebut diperkuat oleh Ketua Bidang Organisasi dan Keanggotaan Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah, Infa Wilindaya, S.P, MSi. Menurutnya, organisasi yang besar tidak hanya diukur dari banyaknya kegiatan, tetapi juga dari kualitas tata kelolanya.
“Organisasi yang kuat bukan hanya aktif berkegiatan, tetapi juga memiliki administrasi yang tertib, data yang lengkap, dan tata kelola yang dapat dipertanggungjawabkan. Ketika administrasi berjalan baik, proses regenerasi akan berlangsung lebih mudah karena seluruh perjalanan organisasi terdokumentasi dengan rapi,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa setiap arsip, laporan, dan data organisasi merupakan warisan perjuangan yang akan menjadi pijakan bagi generasi kader berikutnya dalam melanjutkan estafet kepemimpinan.
Menyiapkan Pemimpin yang Siap Menjawab Tantangan Zaman
Suasana semakin hidup ketika peserta mengikuti diskusi panel bertajuk “Organisasi Pemuda Muhammadiyah dan Pergerakannya”. Berbagai gagasan mengalir dari para narasumber yang berasal dari PDPM Banyumas dan PWPM Jawa Tengah.
Ketua PDPM Banyumas, Subhan Purno Aji, SIP, MA menegaskan bahwa kader Pemuda Muhammadiyah harus mampu membaca perubahan zaman tanpa kehilangan identitas ideologinya.
“Pemuda Muhammadiyah harus adaptif terhadap perkembangan zaman tanpa kehilangan identitas ideologinya. Kader tidak cukup hanya mengurus agenda internal organisasi, tetapi harus hadir menjawab persoalan umat melalui penguatan ekonomi, pendidikan, pelayanan sosial, serta membangun kolaborasi yang lebih luas,” ungkapnya.
Sementara itu, Ketua PWPM Jawa Tengah, Abdul Ghofar Ismail, SE, MM mengajak seluruh kader agar tidak hanya menjadi saksi perubahan, tetapi tampil sebagai pelopor perubahan.
“Pemuda Muhammadiyah jangan puas hanya menjadi penonton perubahan. Kita harus menjadi pelaku perubahan. Organisasi ini harus melahirkan pemimpin yang mampu menghadirkan solusi bagi umat, bangsa, dan Persyarikatan,” ujarnya.
Sekretaris PWPM Jawa Tengah, Roy Alviantoro, SKep, Ns, MM menambahkan bahwa komunikasi yang sehat, administrasi yang profesional, serta rasa memiliki terhadap organisasi merupakan modal penting dalam membangun kepemimpinan masa depan. Hal senada disampaikan Wakil Bendahara PWPM Jawa Tengah, dr. Muhammad Dipa Daulata, MH, HRA, AIFO-K, yang menekankan bahwa kepercayaan organisasi tumbuh dari integritas.
“Kepercayaan dibangun dari hal-hal kecil. Transparansi keuangan, laporan kegiatan yang baik, dan integritas pengurus akan melahirkan organisasi yang dipercaya oleh anggotanya maupun masyarakat,” katanya.
KOKAM Mengawal, Kader Bergerak
Di balik jalannya kegiatan, puluhan personel KOKAM Surya Kusuma Marda Banyumas mengawal seluruh rangkaian acara sehingga berlangsung aman, tertib, dan kondusif. Sementara itu, para peserta tampak antusias mengikuti setiap sesi, aktif berdiskusi, bertukar pengalaman, dan mempererat ukhuwah antarkader. Kegiatan ditutup dengan doa yang dipimpin Ketua PCPM Purwokerto Selatan, Ndan Agus Salim, S.Si dilanjutkan foto bersama seluruh narasumber, pengurus, panitia, peserta, dan personel KOKAM sebagai penanda berakhirnya Up Grading Organisasi dan Administrasi PDPM Banyumas.
Melalui kegiatan ini, PDPM Banyumas meneguhkan tiga pilar gerakan, yakni ideologi yang kokoh, kepemimpinan yang berintegritas, dan administrasi yang profesional. Berbekal nilai-nilai tersebut, 90 kader dari 27 PCPM diharapkan menjadi penggerak Dakwah Islam Berkemajuan, penguat organisasi, serta pelayan umat yang mampu menghadirkan solusi bagi masyarakat. (Tarqum Aziz | JurnalisMu)
