Penyesalan atas Kekafiran

Penyesalan atas Kekafiran
*) Oleh : Dr. Slamet Muliono Redjosari
Wakil Ketua Majelis Tabligh PW Muhammadiyah Jatim
www.majelistabligh.id -

Orang kafir beranggapan bahwa dirinya akan memiliki nasib yang baik sebagaimana orang beriman, kalau terjadi hari kebangkitan. Mereka mendengar dari Al-Qur’an bahwa orang beriman dan bertakwa akan memiliki kedudukan yang mulia dan akan mendapatkan balasan kebaikan. Namun hal itu berbeda dengan keadaan yang sebenarnya.

Allah mengabarkan bahwa balasan amal sesuai dengan amal perbuatannya. Padahal orang kafir senantiasa ragu dan menentang berita Al-Qur’an, sehingga pasti akan mendapatkan kesengsaraan akibat perbuatan mereka yang membuat kerusakan. Al-Qur’an memastikan bahwa keadan orang kafir sangat sengsara dan menderita karena mereka harus mempertanggungjawabkan atas perbuatan buruk mereka saat dunia.

Kedudukan orang Beriman
Orang beriman di hadapan Allah memiliki kedudukan yang tinggi karena iman, dan amal perbuatannya saat di dunia. Bahkan di akhirat akan mendapatkan balasan kemuliaan. Hal ini berbeda dengan pandangan orang kafir yang memandang bahwa orang beriman sebagai manusia rendah dan hina. Oleh karenanya, ketika di akhirat, orang kafir mengangan-angankan dirinya mulia dalam kebahagiaan sebagaimana kehidupan mereka saat di dunia yang penuh dengan kelimpahan harta kekayaan. Mereka berbuat bebas tanpa aturan dengan memanfaatkan harta kekayaannya.

Sementara orang beriman dipandang rendah karena hidup penuh aturan, haram-haram. Bahkan hidup dalam kesederhanaan dan hidup dalam keterbatasan. Hidup mereka penuh dengan ketaatan dalam beribadah, baik ibadah individu maupun sosial. Keadaan orang beriman terkadang hidup dalam kekurangan ketika di dunia.

Oleh karenanya, Allah membalas amal perbuatan orang beriman, Mereka yakin bahwa kedudukannya tinggi karena ketaatannya. dan tidak sama kedudukannya dengan orang kafir. Hal ini sebagaimana paparan Al-Qur’an :

اَمْ نَجْعَلُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ كَالْمُفْسِدِيْنَ فِى الْاَرْضِۖ اَمْ نَجْعَلُ الْمُتَّقِيْنَ كَالْفُجَّارِ ۝٢٨
Artinya :
Apakah (pantas) Kami menjadikan orang-orang yang beriman dan beramal saleh sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di bumi? Pantaskah Kami menjadikan orang-orang yang bertakwa sama dengan para pendurhaka? (QS Sad :28)

Keadaan orang kafir
Orang kafir pada umumnya menghindari kekangan hidup dengan menolak aturan yang membatasi hidupnya. Oleh karenanya, orang kafir menjadi manusia terdepan yang menolak atauran yang didasarkan pada aturan Allah. Maka seringkali mereka menjadi manusia yang menolak aturan yang dibawa oleh para rasul.

Contohnya mereka aktif menjajah negeri-negeri yang memiliki sumberdaya alam. Bahkan mereka tidak merasa bersalah ketika mengekploitasi kekayaan negeri lain.

Bahkan kekafiran akan mendorong dirinya menolak aturan halal haram dalam jual beli. Dalam pergaulan sosial, mereka menginginkan kebebasan hingga tersebar berbagai penyimpangan pemikiran, hingga tersebar kemaksiatan dan pelanggaran nilai-nilai agama. Bahkan mereka menolak syariat agama, seperti , hukuman potong tangan bagi para pencuri, menolak hukum rajam untuk pelaku perzinaan. Mereka menganggap bahwa aturan agama itu bertentangan dengan hak asasi manusia (HAM).

Kebanyakan mereka hidup dalam kebebasan penuh. Hal ini disebabkan oleh kelimpahan harta. Kondisi inilah yang membuatnya memandang rendah orang beriman karena senantiasa terkekang oleh aturan yang membelenggu kehidupannya. Di dunia memang mereka hidup dalam gelimang harta, sehingga mudah dalam pelanggaran. Oleh karenanya, mereka diancam dengan neraka atas perbuatannya. Hal ini ditegaskan Al-Qur’an sebagaiamana firman-Nya :

وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَكَذَّبُوْا بِاٰيٰتِنَآ اُولٰۤىِٕكَ اَصْحٰبُ النَّارِۚ هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَࣖ ۝
Artinya :
(Sementara itu,) orang-orang yang mengingkari dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itulah penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya. (QS. Al-Baqarah : 39)

Ketika di dunia mereka mendustakan berita ghaib dan menjadi pelopor menolak aturan yang dibawa rasul. Oleh karenanya, ketika datang kenyataan atas apa yang senantiasa mereka dustakan saat di dunia, mereka melihat kenyataan yang berbeda. Mereka pun menyesal atas sikapnya yang keras kepaala ketika datang berita yang dibawa rasul.

Hal ini ditegaskan Al-Qur’an sebagaaimana firman-Nya :
وَهُمْ يَصْطَرِخُوْنَ فِيْهَاۚ رَبَّنَآ اَخْرِجْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا غَيْرَ الَّذِيْ كُنَّا نَعْمَلُۗ اَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَّا يَتَذَكَّرُ فِيْهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجَاۤءَكُمُ النَّذِيْرُۗ فَذُوْقُوْا فَمَا لِلظّٰلِمِيْنَ مِنْ نَّصِيْرٍ ۝
Artinya :
Mereka berteriak di dalam (neraka) itu, “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami (dari neraka), niscaya kami akan mengerjakan kebajikan, bukan (seperti perbuatan) yang pernah kami kerjakan dahulu.” (Dikatakan kepada mereka,) “Bukankah Kami telah memanjangkan umurmu dalam masa (yang cukup) untuk dapat berpikir bagi orang yang mau berpikir. (Bukankah pula) telah datang kepadamu seorang pemberi peringatan? Maka, rasakanlah (azab Kami). Bagi orang-orang zalim tidak ada seorang penolong pun.”

Orang kafir akan merasakan penyesalan mereka yang berbeda dengan angan-angannya. Mereka berangan-angan bahwa kedudukannya lebih mulia daripada orang beriman, namun kenyataan mereka menyesal dan ingin kembali ke dunia untuk berbuat kebaikan sebagaimana yang dilakukan orang yang beriman.

Penyesalan tiada manfaat karena tidak mungkin hidup kembali ke dunia. Kedzalimannya di dunia telah mereka lakukan telah menutup hatinya untuk menerima kebenaran yang disampaikan rasul. Mereka mengira hidupnya akan baik-baik ketika menolak berita yang disampaikan rasul.  Namun ketika datang kenyataan yang berbeda, mereka pun menyesal dan bertekad untuk tidak akan mengulangi kesalahan fatalnya. Namun semua sudah terlambat.

Surabaya, 21 April 2026

 

 

Tinggalkan Balasan

Search