Perkuat Kesehatan Mental dengan Bersyukur

Perkuat Kesehatan Mental dengan Bersyukur
www.majelistabligh.id -

Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Bantul, Syahrul, mengajak umat Islam menjadikan rasa syukur sebagai gaya hidup untuk memperkuat kesehatan mental sekaligus membentuk kepribadian yang utuh.

Pesan tersebut disampaikannya dalam pengajian di Masjid KH Sudja, Yogyakarta, Ahad (18/10/2026). Ia menekankan bahwa syukur memiliki landasan kuat dalam ajaran Islam dan berkaitan erat dengan cara manusia memaknai nikmat maupun musibah.

Mengutip Surah Ibrahim ayat 7, Syahrul menjelaskan bahwa orang yang enggan bersyukur cenderung selalu merasa kurang, berapa pun materi yang dimiliki.

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.”

“Rasa cukup itu tidak pernah diukur dengan kuantitas atau isi tas, tetapi diukur dari hati yang salim (bersih),” ujarnya.

Syukur sebagai Benteng Ketahanan Mental

Guna memperkuat penjelasannya, Syahrul merujuk penelitian psikolog Robert Emmons mengenai dampak positif gratitude (rasa syukur). Mengembangkan sudut pandang bersyukur terbukti membantu seseorang menghadapi tekanan hidup secara lebih positif tanpa mengabaikan masalah.

Di tengah maraknya fenomena gangguan kesehatan mental—seperti kecenderungan anak muda melukai diri (self-harm) saat tertekan—sikap syukur menjadi ikhtiar penting untuk membangun ketahanan jiwa.

Ia menganalogikan masalah hidup seperti garam. Segenggam garam yang dilarutkan dalam segelas air akan terasa sangat asin, namun rasa asin itu menghilang jika dilarutkan ke dalam sumur. “Masalah itu tergantung wadahnya. Hati kitalah yang bertugas menetralisir masalah,” paparnya.

Manifestasi Syukur dalam Tindakan Nyata

Lebih lanjut, Syahrul menegaskan bahwa syukur harus diwujudkan melalui aksi nyata, seperti bekerja, mengasuh anak, dan melayani keluarga dengan niat ibadah. Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam Surah Saba ayat 13:

اعْمَلُوا آلَ دَاوُودَ شُكْرًا

“Bekerjalah wahai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah).”

Selain itu, ia mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara rohani (akal, kalbu, nafsu, ruh) dan jasmani. Menurutnya, tingkat pendidikan yang tinggi tidak otomatis melahirkan integritas jika tidak dibarengi dengan adab.

“Kampus-kampus seharusnya menaruh perhatian besar pada penilaian pendidikan akhlak. Jika seseorang berakhlak baik, diisi ilmu apa pun insyaallah akan membawa kebaikan,” tuturnya.

Sebagai penutup, Syahrul mengutip Surah Al-A’raf ayat 31 (“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan”) untuk mengingatkan umat agar senantiasa menjaga pola hidup sehat dan seimbang guna menunjang kelancaran beribadah. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search