Setiap kali bulan Rabiul Awwal menyapa, umat Islam di seluruh dunia kembali merenungkan sejarah kelahiran Nabi Muhammad SAW. Bagi Muhammadiyah, gerakan Islam yang didirikan oleh KH Ahmad Dahlan pada tahun 1912, momentum Maulid Nabi bukan sekadar seremoni perayaan tahunan, melainkan ajang merefleksikan kembali risalah kenabian secara kritis, substantif, dan berkemajuan.
Melompati Simbolisme, Merengkuh Subtansi
Persyarikatan Muhammadiyah menekankan pentingnya menggeser fokus peringatan Maulid dari sekadar ritual kultural menuju pengamalan ajaran. Mencintai Rasulullah SAW (mahabbah) tidak cukup berhenti pada lisan atau puji-pujian semata, melainkan harus dibuktikan dengan menjadikan beliau sebagai uswah hasanah (suri teladan yang baik) dalam seluruh dimensi kehidupan.
Sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)
Dalam pandangan Muhammadiyah, membumikan akhlak Nabi berarti meletakkan empat sifat utama kenabian sebagai pijakan hidup
1. Shiddiq (Jujur): Menjadikan integritas sebagai nilai utama di tengah krisis kejujuran modern.
2. Amanah (Terpercaya): Menjaga komitmen dan tanggung jawab, baik dalam beragama, berprofesi, maupun berbangsa.
3. Tabligh (Menyampaikan): Menyebarkan kebaikan dan kebenaran secara santun, ramah, dan mencerahkan.
4. Fathanah (Cerdas): Menggunakan akal dan ilmu pengetahuan untuk menyelesaikan berbagai persoalan umat
Dakwah Amali: Penerjemahan Rahmatan Lil ‘Alamin
Salah satu kehasan dakwah Muhammadiyah adalah Dakwah Amali, yakni dakwah yang diwujudkan dalam aksi nyata yang dirasakan langsung oleh masyarakat. Rasulullah SAW diutus untuk membawa rahmat bagi seluruh alam (Rahmatan lil ‘Alamin). Muhammadiyah menerjemahkan nilai rahmat tersebut melalui kerja-kerja kemanusiaan yang terorganisasi dengan baik:
1. Bidang Pendidikan: Membangun ribuan sekolah, madrasah, dan perguruan tinggi untuk mengikis kebodohan dan mencerdaskan kehidupan bangsa, sebagaimana Nabi mengubah masyarakat jahiliyah menjadi masyarakat berilmu.
2. Bidang Kesehatan dan Sosial: Melalui Rumah Sakit PKU (Pembina Kesejahteraan Umat) dan panti asuhan, Muhammadiyah menyantuni kaum dhuafa dan mustadh’afin (kelompok yang dilemahkan) sebagai bentuk empati sosial yang dicontohkan Rasulullah.
3. Bidang Kemanusiaan: Menggerakkan kebencanaan dan kemanusiaan (MDMC dan Lazismu) untuk memberikan pertolongan tanpa memandang suku, ras, atau agama.
Melalui pilar-pilar ini, Muhammadiyah menunjukkan bahwa cara terbaik memperingati kelahiran Nabi adalah dengan meneruskan misi sosial kenabian di dunia nyata.
Menuju Islam Berkemajuan di Era Digital
Rasulullah SAW berhasil membangun Peradaban Madinah yang maju, beradab, dan inklusif dalam waktu yang relatif singkat. Konsep Islam Berkemajuan yang diusung Muhammadiyah berpijak pada nilai-nilai transformasi peradaban tersebut.
Di era modern yang dipenuhi tantangan seperti meluasnya disinformasi, budaya konsumtif, dan krisis moral, memajukan peradaban berarti:
1. Menjadikan Kejujuran Nabi sebagai Filter: Menangkal hoaks, fitnah, dan ujaran kebencian di media sosial dengan akhlak kenabian.
2. Penguasaan Sains dan Teknologi: Menggunakan ilmu pengetahuan untuk kemajuan umat Islam agar tidak tertinggal dalam persaingan global.
3. Menguatkan Ukhuwah: Membangun persaudaraan yang inklusif dan toleran demi terciptanya kedamaian sosial.
Memaknai Maulid Nabi Muhammad SAW dalam perspektif Muhammadiyah adalah panggilan untuk kembali pada esensi dakwah: membumikan akhlak mulia dan memajukan peradaban. Mari jadikan momentum Rabiul Awwal ini untuk mengevaluasi diri, memperkuat komitmen keislaman yang mencerahkan, dan terus berkontribusi membawa kebaikan bagi sesama. (*)
