Dalam rutinitas keberagamaan kita, sering kali muncul perasaan lega setelah menunaikan salat, membayar zakat, atau berpuasa. Namun, rasa lega itu terkadang bukan muncul karena telah berdialog dengan Sang Pencipta, melainkan karena telah berhasil “mencoret” daftar tugas harian. Fenomena ini disebut sebagai psikologi gugur kewajiban.
Ibadah yang sekadar menggugurkan kewajiban adalah ibadah yang kehilangan ruhnya. Ia menjadi gerakan mekanis tanpa makna, raga tanpa jiwa. Padahal, tujuan akhir dari setiap syariat bukanlah ritual itu sendiri, melainkan transformasi batin dan perbaikan akhlak.
Allah SWT menegaskan bahwa penciptaan manusia semata-mata untuk beribadah. Namun, ibadah yang dimaksud bukanlah beban yang memberatkan, melainkan kebutuhan spiritual manusia. Allah berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56).
Ayat ini menggunakan kata Liya`budun (untuk beribadah). Menurut para mufasir, ibadah di sini mencakup ma’rifatullah (mengenal Allah). Jika seseorang beribadah hanya untuk menggugurkan kewajiban, ia belum benar-benar “mengenal” siapa yang ia sembah.
Salat, misalnya, bukan sekadar rukuk dan sujud. Namun lebih jauh dari itu, bahwa salat merupakan instrumen untuk memperbaiki akhlak sehingga orang yang salat idealnya dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Allah berfirman:
اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ
“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.” (QS. Al-Ankabut: 45).
Jika seseorang rajin salat namun tetap gemar bermaksiat atau menyakiti sesama, maka salatnya baru sebatas penggugur kewajiban secara fikih, namun belum mencapai hakikat ibadah secara spiritual.
Rasulullah SAW sering memperingatkan umatnya agar tidak terjebak dalam ritualitas kosong. Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah SAW bersabda:
رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ وَرُبَّ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلَّا السَّهَرُ
“Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga. Dan betapa banyak orang yang salat malam namun dia tidak mendapatkan dari salatnya kecuali begadang (tidak tidur).” (HR. Ahmad).
Hadis ini adalah kritik tajam bagi mereka yang menganggap ibadah selesai hanya dengan memenuhi syarat dan rukun tanpa menjaga adab serta keikhlasan.
Ihsan adalah kunci agar ibadah tidak menjadi beban. Rasulullah menjelaskan:
أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ
“Engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Muslim).
Para ulama sufi dan fukaha telah lama menyoroti perbedaan antara sahnya ibadah secara hukum dan diterimanya ibadah secara hakikat. Imam al Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin, membagi tingkat ibadah menjadi tiga yaitu tingkat awam, khawas dan khawasul khawas.
Tingkat awam adalah ibadah yang dilakukan karena takut siksa atau harap pahala (seperti pekerja yang takut dipecat). Tingkat khawas adalah ibadah sebagai bentuk ketaatan dan syukur. Sedangkan tingkat khawasul khawas adalah ibadah karena cinta yang mendalam, di mana tidak ada lagi rasa “terbebani” oleh kewajiban.
Beliau mengatakan: “Betapa banyak orang yang rukuk dan sujud secara lahiriah, namun hatinya sedang berkelana di pasar atau tempat maksiat. Ibadah semacam ini hanyalah gerakan badan yang tidak memberi nutrisi bagi ruh.”
Berbeda dengan al Ghazali, Ibnu Qayyi, al Jauziyah dalam Madarijus Salikin, menjelaskan bahwa ada orang yang melakukan ibadah karena sudah menjadi kebiasaan (adat). Ibadah yang didorong oleh kebiasaan dan penggugur kewajiban tidak akan melahirkan kenikmatan (halawatul iman). Beliau menekankan pentingnya Niyyah (niat) yang senantiasa diperbaharui di setiap gerakan.
Bila kita telisik lebih dalam, ada beberapa alasan mengapa kualitas ibadah kita menurun diantaranya 1) kurangnya ilmu: kita belajar “cara” salat, tapi jarang belajar “mengapa” kita salat. 2) duniawi yang dominan: pikiran yang terlalu penuh dengan urusan materi membuat Tuhan hanya mendapat sisa waktu dan sisa energi. Dan 3) kehilangan dialog: kita menganggap doa dan zikir sebagai mantra, bukan dialog dua arah antara hamba dan Khalik.
Dari beberapa alasan di atas, maka agar ibadah tidak lagi menjadi beban penggugur kewajiban, diperlukan beberapa langkah:
- Tafakkur sebelum takbir: ambillah waktu sejenak sebelum memulai ibadah untuk menyadari di hadapan siapa kita berdiri.
- Memahami bacaan: berusaha mengerti arti dari setiap kata yang diucapkan agar hati bisa ikut “berbicara”.
- Konsistensi (istiqamah): lebih baik ibadah sedikit namun berkualitas dan kontinu daripada banyak namun tergesa-gesa.
Ibadah adalah jembatan penghubung antara makhluk yang fana dengan Sang Pencipta yang kekal. Jika kita hanya menjadikannya penggugur kewajiban, maka kita sendirilah yang merugi karena kehilangan kesempatan untuk merasakan kedamaian sejati.
Untuk itu marilah kita mengubah pola pikir kita: dari “Saya harus salat” menjadi “Saya butuh salat”. Dari “Untung kewajiban sudah selesai” menjadi “Alhamdulillah, saya diberi kesempatan untuk menghadap Allah”. Dengan demikian, ibadah kita akan menjadi sumber kekuatan, bukan lagi sekadar beban rutinitas.
Pola pikir positif bukan saja menjadikan ibadah terasa ringan, namun juga nikmat saat menjalaninya. Ibadah bukan lagi sebagai beban hidup tapi sebaliknya, menjadi solusi atas problem hidup yang tengah dihapi terutama saat hati merasa kosong, jiwanya hampa dan pikiran penat. (*)
