Sutikno: Hati yang Terpaut dengan Masjid Mendapat Naungan
Memasuki agenda utama, rapat FORTAMU dipimpin langsung Ketua FORTAMU Cabang Laren, Sutikno. Rapat berlangsung interaktif. Sutikno tidak hanya menyampaikan arahan, tetapi juga memberikan berbagai motivasi, contoh, serta trik kepada para takmir tentang cara mengembangkan masjid.
Ia mengajak para takmir untuk tidak terpaku pada pola pengelolaan masjid yang hanya berorientasi pada kegiatan rutin.
Menurutnya, takmir harus mampu melihat potensi yang dimiliki masjid dan lingkungan sekitarnya. Setiap masjid memiliki karakter jamaah yang berbeda sehingga membutuhkan pendekatan yang berbeda pula.
Masjid harus mampu menjadi tempat yang membuat masyarakat merasa nyaman untuk datang, belajar, bersilaturahmi, dan melakukan berbagai aktivitas positif.
Sutikno kemudian mengingatkan para takmir mengenai keutamaan orang yang hatinya terpaut dengan masjid.
“Orang yang hatinya terpaut dengan masjid maka ia akan mendapatkan naungan di hari kiamat nanti,” tuturnya.
Ia kemudian mengingatkan bahwa menjadi takmir adalah sebuah amanah yang sangat besar.
“Apalagi kita ini dapat SK dari Allah. Kalau bekerja untuk dirinya sendiri maka kita termasuk orang yang rugi,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa tugas takmir bukan sekadar jabatan organisatoris. Ada amanah keumatan yang harus dijalankan dengan kesungguhan dan keikhlasan.
Takmir bukan hanya penjaga bangunan masjid. Takmir adalah penggerak agar masjid benar-benar menjadi rumah umat.
Masjid Jangan Hanya Ramai Saat Shalat
Dalam diskusi, semangat yang terus ditekankan adalah bagaimana membuat masjid semakin hidup. Masjid memang harus ramai ketika shalat berjamaah. Namun, kemakmuran masjid tidak berhenti di sana.
Anak-anak perlu memiliki ruang untuk belajar Alquran. Remaja perlu mendapatkan pembinaan. Kaum ibu perlu memiliki kegiatan keilmuan dan sosial. Para bapak juga membutuhkan ruang untuk berdiskusi dan memperkuat ukhuwah.
Bahkan masyarakat yang belum aktif ke masjid pun perlu didekati dengan pendekatan dakwah yang ramah dan membangun.
Karena itu, takmir dituntut tidak hanya menunggu jamaah datang, tetapi juga memiliki kreativitas untuk menghadirkan masyarakat ke masjid.
Di sinilah pentingnya keluar dari zona nyaman.
Tholin: Setiap Pertemuan Harus Ada Output
Menjelang penutupan, Bapak Tholin selaku LPCR Cabang Laren memberikan pesan kepada para peserta. Ia mengingatkan bahwa setiap pertemuan hendaknya menghasilkan sesuatu yang dapat ditindaklanjuti.
“Setiap pertemuan harus ada outputnya,” tegasnya.
Menurutnya, pertemuan akan menjadi lebih bermakna apabila setelah kegiatan selesai terdapat program atau langkah nyata yang dapat dilaksanakan.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga menyampaikan bahwa akan segera dilaksanakan *pelatihan satu ranting satu kader kesehatan*.
Program tersebut diharapkan menjadi bagian dari upaya memperluas kebermanfaatan dakwah Muhammadiyah di tengah masyarakat. Tholin juga mengajak para takmir untuk berani meninggalkan zona nyaman.
“Marilah kita keluar dari zona nyaman sebagai takmir,” ajaknya.
Pesan tersebut menjadi penutup yang sekaligus menjadi tantangan bagi para takmir. Sebab, kondisi masyarakat terus berubah dan kebutuhan umat semakin beragam. Takmir harus terus belajar, bergerak, dan menghadirkan inovasi.
