Save the Children Indonesia Beri Penghargaan Mendikdasmen Abdul Mu’ti

Abdul Mu'ti memberikan sambutan usai mendapatkan pernghargaan. (ist)
www.majelistabligh.id -

Save the Children Indonesia menganugerahi Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, penghargaan sebagai mitra strategis dalam pemenuhan hak dan perlindungan anak. Apresiasi tersebut diserahkan langsung dalam gelaran Festival Pahlawan Anak yang berlangsung di Jakarta, Jumat (14/8/2026).

Ajang tahunan ini menjadi panggung bagi 14 anak dari program Nona Hebat untuk menyuarakan aspirasi mereka di hadapan para pemangku kebijakan. Isu-isu krusial seperti pencegahan perundungan, perlindungan dari kekerasan dan pelecehan seksual, hingga penciptaan lingkungan sekolah yang aman serta inklusif menjadi sorotan utama yang disampaikan anak-anak.

Menanggapi suara anak-anak tersebut, Mendikdasmen Abdul Mu’ti menegaskan bahwa gagasan mengenai sekolah aman dan nyaman selaras dengan fokus utama kementeriannya. Langkah ini juga dinilai sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto melalui gerakan Budaya ASRI (Aman, Sehat, Resik, dan Indah).

“Banyak ide menarik tentang bagaimana sekolah bisa menjadi tempat belajar yang aman dan nyaman. Ini sejalan dengan program yang sedang kami laksanakan untuk membangun budaya sekolah,” ujar Mu’ti.

Ia menambahkan, penguatan budaya sekolah dilakukan secara humanis, inklusif, dan partisipatif melalui kolaborasi lintas sektor, termasuk bersama Save the Children Indonesia.

“Kami berharap program seperti ini tidak berhenti sebagai seremoni belaka, tetapi menjelma menjadi gerakan bersama dan budaya yang didasari kesadaran bahwa masa depan bangsa ditentukan oleh anak-anak kita,” tuturnya seraya berharap sekolah senantiasa menjadi ruang tumbuh yang harmonis dalam keberagaman.

Dukungan serupa ditegaskan oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (MenPPPA), Arifah Fauzi. Membuka pandangannya, Arifah memaparkan data Survei Pengalaman Hidup Anak dan Remaja 2024 yang menunjukkan bahwa 50,78 persen anak usia 13–17 tahun pernah mengalami sekurang-kurangnya satu bentuk kekerasan dalam hidup mereka. Sementara itu, 33,64 persen di antaranya mengalami kekerasan tersebut dalam 12 bulan terakhir.

Menteri Arifah menekankan bahwa angka statistik tersebut mencerminkan rasa takut, trauma, dan kekecewaan nyata yang dialami anak-anak. Oleh karena itu, langkah pencegahan kolektif harus diambil sebelum korban terus berjatuhan.

“Ini tidak bisa dikerjakan sendiri, harus bersama-sama. Perlindungan anak butuh ekosistem yang aman—mulai dari lingkungan keluarga, satuan pendidikan, ruang publik, hingga ruang digital,” tegas Arifah. Ia menilai Festival Pahlawan Anak sebagai momentum krusial untuk mendengarkan sekaligus mengawal mimpi anak-anak Indonesia. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search