Sedekah dan Sabar Jadi Kunci Kesembuhan dalam Kajian SurgaMu Sambikerep Surabaya

Sedekah dan Sabar Jadi Kunci Kesembuhan dalam Kajian SurgaMu Sambikerep Surabaya
www.majelistabligh.id -

Kajian SurgaMu dan Halalbihalal keluarga besar Muhammadiyah Cabang Sambikerep Surabaya yang digelar pada Ahad (19/04) di halaman Panti Putri At Taqwa berlangsung penuh makna. Selain mempererat silaturahmi, kegiatan ini juga menghadirkan tausiyah kesehatan bernuansa spiritual yang menggugah para jamaah.

Pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) dr. Tjatur Prijambodo, M.Kes dalam kesempatan tersebut menyampaikan bahwa sedekah menjadi salah satu jalan kesembuhan atas izin Allah SWT.

“Dengan sedekah, penyakit saya dihilangkan oleh Allah SWT,” ungkapnya, yang disambut penuh perhatian oleh para jamaah.

Dalam pemaparannya, dr. Tjatur menjelaskan, kondisi penyakit memiliki pengaruh terhadap peluang kesembuhan. Penyakit dengan tingkat keparahan di bawah 60 persen, menurutnya, masih memiliki peluang besar untuk sembuh, berbeda dengan kondisi yang sudah mencapai 60 hingga 75 persen.

Ia juga menekankan pentingnya pengendalian emosi sebagai bagian dari ikhtiar kesehatan.

“Obatnya sembuh itu jangan mudah marah. Marah bisa memicu stroke maupun asma. Bahkan saat marah, napas bisa langsung mengi dan tekanan darah meningkat,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia mengaitkan kondisi emosional dengan aspek medis, seperti peningkatan hormon kortisol dan kadar gula darah. Orang yang mudah marah, kata dia, berisiko mengalami lonjakan kadar tersebut meskipun belum mengonsumsi makanan, yang dapat berdampak pada penyakit seperti diabetes.

Dalam perspektif spiritual, dr. Tjatur menambahkan bahwa kesabaran dan kedisiplinan dalam menjalankan ibadah, khususnya salat, menjadi kunci penting.

“Allah membersamai orang-orang yang sabar dan yang rutin salat. Dalam kedokteran Islam, jika seseorang masih mudah marah, bisa jadi ada yang perlu diperbaiki dalam salatnya,” ujarnya.

Selain itu, ia juga mengingatkan pentingnya sedekah dan infak sebagai bekal di yaumul hisab, di mana pahala akan terus mengalir. Ia turut mengajak jamaah untuk membiasakan sikap saling memaafkan.

“Meminta maaf dan memberi maaf, keduanya berat. Tapi sering kali orang lebih sulit meminta maaf karena gengsi dan ego. Padahal dalam Islam, memaafkan bahkan sebelum diminta adalah ajaran yang utama,” tuturnya.

Ia menutup dengan pesan bahwa orang yang tidak mau memaafkan akan merasa lelah dalam hidupnya. Hubungan antarmanusia yang belum terselesaikan, menurutnya, dapat menjadi beban hingga akhirat jika tidak diselesaikan dengan saling memaafkan.

Kajian ini pun menjadi pengingat bahwa kesehatan tidak hanya ditentukan oleh aspek fisik, tetapi juga dipengaruhi oleh kondisi hati, emosi, serta kedekatan spiritual kepada Allah SWT. (anang dony irawan)

 

 

Tinggalkan Balasan

Search