Seporsi Adab Sebelum Sepotong Dalil

Seporsi Adab Sebelum Sepotong Dalil
*) Oleh : M. Ainul Yaqin Ahsan, M.Pd
Wakabid. Dakwah PC PM Rungkut
www.majelistabligh.id -

Ketika seseorang membaca sesuatu yang sesuai dengan kemarahannya, ia cenderung langsung percaya. Ketika menemukan sesuatu yang menyerang kelompok yang tidak ia sukai, ia merasa perlu ikut membagikan. Ketika melihat orang yang memang sejak awal tidak ia sukai melakukan kesalahan, ia merasa kesalahan itu menjadi pembenaran atas seluruh kebenciannya. Di titik itu, dalil yang kita hafal bisa kalah oleh ego yang sedang berbicara.

Karena itu Rasulullah ﷺ tidak hanya mengajarkan kita untuk tahu, tetapi juga untuk menahan diri. Beliau bersabda:

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ
Orang yang kuat bukanlah orang yang pandai bergulat, tetapi orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.”
(HR. Bukhari no. 6114).

Bahkan ketika seseorang meminta nasihat kepada Nabi ﷺ, jawaban beliau sangat singkat:
لَا تَغْضَبْ

Jangan marah.”
(HR. Bukhari no. 6116).

Ini menunjukkan bahwa kemampuan menahan reaksi adalah bagian dari kekuatan iman dan akhlak. Dan dalam urusan lisan, Nabi ﷺ memberikan kaidah yang sangat tegas: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”
(HR. Bukhari no. 6475).

Bahkan dalam Sahih Muslim, Rasulullah ﷺ memperingatkan bahwa seseorang sudah cukup dianggap berdusta ketika ia menceritakan semua yang ia dengar. Betapa relevannya hadis ini dengan zaman forward, share, repost, quote tweet dan potongan video hari ini.

Media sosial membuat manusia seolah-olah hidup di dalam ruang pengadilan tanpa hakim. Seseorang melakukan sesuatu, direkam, dipotong, diunggah, diberi narasi, orang-orang berkomentar, kemudian terbentuk sebuah “kebenaran” berdasarkan persepsi massa. Padahal belum tentu kita mengetahui konteksnya.

Fenomena ini semakin kuat karena konten yang membangkitkan emosi memang sangat mudah mendapatkan perhatian. Penelitian yang terbit pada 2026 tentang ekosistem informasi di media sosial, misalnya, menunjukkan bahwa respons terhadap informasi palsu maupun upaya melawannya dapat sama-sama melibatkan emosi negatif seperti kemarahan dan kejijikan. Artinya, perdebatan tentang informasi di media sosial tidak selalu berjalan melalui jalur rasional; emosi juga memainkan peranan besar.

Pemerintah Indonesia sendiri selama beberapa tahun terakhir terus mengingatkan masyarakat mengenai penyebaran hoaks, ujaran kebencian, dan konten negatif di media sosial.

Maka persoalannya bukan sekadar “Apakah informasi ini benar?” Tetapi juga “Apa yang terjadi kepada hati saya setelah membaca informasi ini?”
– Apakah saya menjadi lebih adil? Atau justru semakin benci
– Apakah saya menjadi lebih bijaksana? Atau semakin ingin menyerang?
– Apakah saya sedang mencari kebenaran?Atau sebenarnya hanya sedang mencari pembenaran atas apa yang sejak awal sudah ingin saya percaya?
Ini pertanyaan yang jauh lebih berat.

Menurut saya, salah satu tanda ilmu yang bermanfaat bukan hanya semakin banyaknya dalil yang mampu kita sebutkan, tetapi semakin hati-hatinya kita ketika berbicara tentang orang lain.

Orang yang benar-benar memahami QS. Al-Hujurat: 6 akan lebih berhati-hati sebelum menyebarkan berita. Orang yang benar-benar menghayati QS. Al-Hujurat: 12 akan lebih berhati-hati sebelum berprasangka. Orang yang benar-benar memahami QS. Al-Isra’: 36 akan lebih mudah mengatakan: “Saya belum tahu.” Dan orang yang benar-benar memahami hadis tentang menahan amarah tidak akan menganggap setiap provokasi harus dibalas.

Sebab tidak semua yang benar harus langsung kita katakan, tidak semua yang kita tahu harus kita sebarkan, dan tidak semua kesalahan orang lain harus kita komentari. Ada kalanya diam bukan berarti kalah. Diam justru merupakan bentuk pengendalian diri. Ada kalanya tidak ikut berkomentar bukan berarti tidak peduli. Bisa jadi itu adalah bentuk wara’ terhadap lisan. Dan ada kalanya menahan diri untuk tidak menghakimi seseorang adalah bentuk kasih sayang yang tidak pernah kita sadari nilainya.

Mungkin persoalan terbesar kita bukan kekurangan dalil, tetapi kita kurang latihan untuk tunduk kepada dalil ketika ego kita sedang menginginkan sesuatu yang berbeda. Mudah mengatakan, “Tabayyun!” ketika berita itu menyerang orang yang kita sukai. Tetapi apakah kita juga melakukan tabayyun ketika berita itu menyerang orang yang kita benci? Mudah mengatakan, “Jangan berprasangka!” ketika orang lain menuduh kita. Tetapi apakah kita juga mampu tidak berprasangka ketika kita melihat orang lain melakukan sesuatu yang tidak kita sukai?. Mudah mengatakan, “Jaga lisan!” ketika orang lain berbicara kasar. Tetapi apakah kita mampu menjaga lisan ketika kita sendiri sedang marah?

Tinggalkan Balasan

Search