Gebyar yang Mulai Meredup

Gebyar yang Mulai Meredup
*) Oleh : Syahrudin Darwis
Anggota Muhammadiyah NBM.495.547
www.majelistabligh.id -

“Indonesia merah darahku, putih tulangku…”
Gombloh menyanyikan Indonesia dengan darah dan tulang. Kita merayakannya dengan panggung, baliho, upacara, dan pidato. Merah-putih berkibar di mana-mana. Kamera pun tak pernah kehabisan sudut.

Indonesia tampak sangat patriotik.
Tinggal satu soal: apakah yang berkibar hanya benderanya?
Setiap Agustus rakyat diajari mencintai tanah air. Mereka diminta memasang bendera, mengikuti upacara, menyanyikan lagu kebangsaan, dan meneriakkan Merdeka!
Semua itu baik.

Tetapi nasionalisme menjadi agak lucu jika rakyat diminta mencintai negeri dengan sepenuh hati, sementara sebagian pengelolanya mencintai anggaran dengan sepenuh nafsu.
Jabatan disebut amanah. Dalam praktiknya, kadang terasa seperti fasilitas.

Anggaran disebut uang rakyat. Anehnya, uang itu kadang lebih cepat sampai ke kantong elite daripada sampai ke sekolah, rumah sakit, atau mereka yang membutuhkan.
Hukum disebut panglima. Tetapi rakyat kecil sering merasakan panglima itu lebih gagah ketika menghadapi yang lemah.

Inilah ironi republik: rakyat diminta berkorban demi negara, sementara sebagian orang di dalam negara sibuk mengorbankan negara demi dirinya.
Lalu ketika rakyat mengkritik, mereka ditanya: “Di mana nasionalismemu?”

Pertanyaan yang agak terbalik.
Sebab mencintai Indonesia tidak berarti mencintai semua kebijakan pemerintah. Mengkritik penguasa bukan berarti menghina negara. Justru kritik adalah tanda bahwa rakyat masih peduli.

Yang berbahaya bukan rakyat yang marah.
Yang berbahaya adalah rakyat yang sudah tidak berharap.
Mereka tidak lagi bertanya. Tidak lagi protes. Tidak lagi percaya.
Diam bukan selalu tanda damai. Kadang ia tanda kelelahan.
Delapan puluh satu tahun merdeka, barangkali kita memang perlu mengurangi sedikit seremoni dan menambah sedikit introspeksi.

Bendera tidak perlu dibuat lebih besar.
Integritas yang perlu dibesarkan.
Pidato tidak perlu lebih panjang.
Kejujuran yang perlu diperpanjang.
Slogan tidak perlu lebih keras.
Keadilan yang perlu benar-benar terdengar.

Sebab patriotisme tanpa integritas adalah pertunjukan. Nasionalisme tanpa keadilan adalah dekorasi. Dan pidato tentang rakyat tanpa keberpihakan kepada rakyat hanyalah suara yang kebetulan memakai mikrofon.
Indonesia tidak kekurangan orang yang pandai berkata, “Saya cinta Indonesia.”
Yang agak langka adalah mereka yang mampu membuktikannya ketika berhadapan dengan uang, jabatan, dan kekuasaan.

Maka bila gebyar kemerdekaan terasa mulai meredup, jangan buru-buru menyalahkan rakyat.
Mungkin rakyat tidak kehilangan cinta.
Mereka hanya mulai kehilangan ilusi.
Mereka tahu mana cinta kepada negeri, dan mana cinta kepada kursi.
16 Agustus 2026

 

Tinggalkan Balasan

Search