Bukan selalu karena ada orang yang menegur. Bukan pula karena orang lain mengatakan bahwa kita keliru. Kadang, jauh di dalam lubuk hati, kita sendiri sudah tahu. Hanya saja, respons kita berbeda-beda.
- Ada yang ketika ditegur, memilih berkata dalam hati, “bodo amat.” Karena merasa lawan bicaranya tidak memiliki kedudukan dunia yang setara dengannya.
- Ada yang tidak mau mengakui kesalahan, lalu mengajak orang lain untuk mengiyakan perbuatannya. Bukan untuk mencari kebenaran, tetapi untuk mendapatkan pembenaran.
- Bahkan ada yang begitu sering mengabaikan suara hatinya, sampai akhirnya tidak lagi merasa bersalah. Bukan karena perbuatannya benar, mungkin karena hatinya sudah terlalu lama diajak berdamai dengan kesalahan.
Di situlah kita perlu berhenti sejenak. Jangan ukur kebenaran dari siapa yang berbicara. Orang yang kedudukannya lebih rendah dari kita tetap bisa mengatakan sesuatu yang benar. Orang yang tidak kita sukai tetap bisa menjadi jalan Allah untuk mengingatkan kita. Dan orang yang kita anggap tidak penting, bisa jadi justru sedang menyampaikan sesuatu yang sangat penting untuk keselamatan hati kita.
Kesalahan tidak berubah menjadi benar, hanya karena banyak orang membenarkannya. Karena itu ketika hari kita terasa nyaman setelah melakukan sesuatu, jangan buru-buru mencari orang yang akan mengatakan, “tidak apa-apa, kamu benar.”
Cobalah bertanya kepada diri sendiri: “Apakah aku sedang mencari kebenaran, atau hanya mencari pembenaran.”
Karena yang perlu kita jaga bukan hanya bagaimana kita terlihat baik di hadapan manusia. Tetapi bagaimana hati kita hidup di hadapan Allah.
Sebab hati yang hidup tidak selalu nyaman ketika melakukan kesalahan. Ia akan gelisah, lalu mencari jalan untuk kembali.
Semoga beruntung.
