Setelan Safari dari Sang Panglima

Almarhum Jenderal TNI (Purn.) Ryamizard Ryacudu. (ist)
*) Oleh : Chusnun Hadi
Editor majelistabligh.id
www.majelistabligh.id -

Ahad siang, 31 Mei 2026, atmosfer di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta Pusat, mendadak diliputi rasa duka yang mendalam. Tepat pukul 14.03 WIB, Jenderal TNI (Purn.) Ryamizard Ryacudu mengembuskan napas terakhirnya pada usia 76 tahun. Mantan Menteri Pertahanan RI sekaligus mantan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) itu berpulang setelah berjuang melawan sakit yang dideritanya.

Hai ini, Senin, 1 Juni 2026, penghormatan terakhir diberikan dalam sebuah upacara militer yang khidmat. Sebelum dihantarkan ke peristirahatan terakhirnya di Taman Makam Pahlawan Nasional Utama Kalibata, jenazah almarhum disemayamkan dan disalatkan terlebih dahulu di rumah duka kawasan Cikeas, Bogor, serta di Kementerian Pertahanan—tempat di mana beliau pernah mendedikasikan pemikirannya untuk kedaulatan negara.

Bagi publik, Ryamizard adalah sosok jenderal yang tegas, lugas, dan tanpa kompromi jika sudah bicara soal NKRI. Namun, mendengar kabar kepergiannya, ingatan saya justru melenting jauh ke belakang, persisnya pada tahun 1999. Saat itu, gemuruh riuh gerakan Reformasi baru saja menemukan jalannya, dan Ryamizard Ryacudu baru beberapa bulan mengemban amanat sebagai Panglima Kodam V/Brawijaya di Jawa Timur.

Undangan Makan Siang yang Cair

Suatu hari Jumat di tahun 1999, suasana kerja berjalan seperti biasa hingga tiba-tiba pager (radio panggil) di saku celana saya berdering. Sebuah pesan singkat muncul di layar kecilnya: sebuah undangan untuk segera meluncur ke Makodam V/Brawijaya selepas salat Jumat. Agendanya sederhana, namun tak biasa bagi kami para kuli tinta, makan siang bersama Sang Panglima.

Singkat cerita, tibalah saya di lokasi. Saya tidak sendiri, ada beberapa kawan wartawan dari beberapa media di Surabaya, mulai dari Jawa Pos, Surabaya Post, Bhirawa, Karya Dharma, Surya, hingga saya sendiri yang saat itu membawa bendera Memorandum.

Makan siang saat itu jauh dari kesan formal keprotokoleran militer yang kaku. Di hadapan kami, tersaji menu rumahan yang begitu membumi, mulai dari sayur asem yang segar, tempe goreng hangat, dadar jagung yang renyah, serta ikan mujair goreng lengkap dengan sambalnya.

Makan siang itu terasa luar biasa nikmat, bukan hanya karena menunya, melainkan karena kehangatan seorang jenderal bintang dua di pundak yang tak segan melempar senda gurau cair bersama kami dan beberapa Asisten Kepala Staf Kodam.

Kejutan sebenarnya baru dimulai setelah piring-piring dibersihkan. Tiba-tiba, masuk seorang pria membawa pita ukur kain. Dia adalah penjahit langganan Pangdam.

“Ayo, kita ukur baju,” tutur Ryamizard sembari tersenyum ramah.

Kami para wartawan saling berpandangan, bingung sekaligus sungkan. Namun, perintah Panglima tentu tak bisa ditolak. Satu per satu dari kami maju untuk diukur badannya demi sebuah setelan baju safari.

Di sela-sela riuhnya proses pengukuran dan canda tawa yang mengalir, Ryamizard melontarkan sebuah analogi yang mendalam. Beliau menyebut wartawan tak ubahnya seperti “pemulung”. Jangan salah tafsir, kata pemulung yang dimaksud almarhum memiliki makna filosofis yang tinggi.

Bagi Ryamizard, wartawan adalah orang-orang gigih yang mencari dan mengumpulkan berbagai remah informasi di lapangan. Informasi yang bagi orang awam mungkin dianggap biasa atau tidak berarti, namun di tangan wartawan yang jeli, remah-remah itu bisa dirangkai menjadi sebuah berita yang bagus dan bernilai tinggi bagi masyarakat. Berangkat dari kelakar penuh makna itulah, siang itu kami spontan membentuk “Ikatan Pemulung Indonesia” (IPI) versi wartawan.

Seminggu kemudian, paket yang dinanti tiba. Sebuah setelan baju safari berwarna krem kecoklatan, lengkap dengan logo Kodam V/Brawijaya yang tersemat samar di atas saku. Yang membuat kami terharu, setelan safari itu persis sama—baik warna maupun modelnya—dengan yang biasa dipakai oleh Sang Panglima.

Selamat Jalan, Panglima!

Tidak lama setelah peristiwa manis di Surabaya itu, karier Jenderal Ryamizard Ryacudu terus meroket. Beliau ditarik ke Jakarta, berturut-turut menjabat sebagai Pangdam Jaya, Pangkostrad, hingga puncaknya menjadi Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) pada periode 2002–2005, dan kemudian dipercaya Presiden Joko Widodo menjadi Menteri Pertahanan periode 2014–2019. Kendati bintang di pundaknya terus bertambah, komunikasi dan keramahannya terhadap para jurnalis yang pernah mendampinginya di daerah tidak pernah luntur.

Kini, Sang Panglima telah tiada. Tokoh bangsa yang dikenal dengan pemikiran “Bela Negara” dan strategi perang semesta itu telah menyelesaikan tugasnya di dunia.

Namun, bagi saya, kenangan 27 tahun lalu itu tidak akan pernah terkikis. Setelan safari krem pemberian beliau masih tersimpan rapi, merawat memori tentang seorang jenderal yang humanis dan menghargai profesi wartawan.

Dan tepat di hari beliau wafat, saya mengeluarkan kembali baju itu dari lemari. Saya memakainya bukan untuk gagah-gagahan, melainkan sebagai bentuk penghormatan tertinggi dan cara saya mengenang kembali kebaikan hati Sang Jenderal.

Selamat jalan, Panglima! Terima kasih atas sayur asem, obrolan hangat, dan safari krem yang melampaui waktu ini. Kepasrahanmu pada Ibu Pertiwi kini telah tunai. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search