Jalan-Jalan yang Diperintahkan Langit: Ketika Traveling Bukan Sekadar Berburu Swafoto

Jalan-Jalan yang Diperintahkan Langit : Ketika Traveling Bukan Sekadar Berburu Swafoto
*) Oleh : Ruli Alqodri Mustafa
Kolumnis, pemerhati sosial dan ekonomi, founder The TwinsPrime Economics and Social Studies – Cilegon, Banten.
www.majelistabligh.id -

Di era media sosial, traveling sering kali berubah menjadi perlombaan mengumpulkan foto. Ada yang rela mendaki gunung hanya demi satu unggahan, berjam-jam di bandara demi konten, atau mengunjungi tempat bersejarah tetapi pulang tanpa mengetahui sejarahnya. Kamera penuh, tetapi kepala kosong.

Padahal, jauh sebelum industri pariwisata berkembang, Al-Qur’an telah mengajarkan filosofi perjalanan yang jauh lebih dalam. Berjalan di muka bumi bukan sekadar rekreasi, melainkan sarana belajar, merenung, mencari rezeki, dan memperkuat keimanan.

Al-Qur’an berulang kali menggunakan ungkapan siru fil ardh—”berjalanlah di muka bumi”. Menariknya, perintah ini bukan hanya sekali atau dua kali, melainkan berkali-kali dengan tujuan yang berbeda.

Dalam Surat Al-Mulk ayat 15, Allah berfirman bahwa Dia telah menjadikan bumi mudah untuk dihuni. Karena itu, manusia diperintahkan berjalan di segala penjurunya dan memakan rezeki yang disediakan-Nya. Pesannya jelas: bumi bukan tempat untuk bermalas-malasan, tetapi ruang luas yang harus dijelajahi dengan ikhtiar.

Kemudian, Surat Ali ‘Imran ayat 137, Surat Ar-Rum ayat 42, dan Surat An-Naml ayat 69 mengajak manusia mengamati jejak peradaban masa lalu. Mengapa banyak bangsa besar akhirnya runtuh? Mengapa kekuasaan yang tampak begitu kokoh dapat lenyap? Perjalanan menjadi laboratorium sejarah agar manusia tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Menariknya, pendekatan ini sangat dekat dengan metode ilmiah modern. Seorang ilmuwan tidak hanya membaca teori, tetapi juga melakukan observasi langsung. Ia melihat, membandingkan, mencatat, lalu menarik kesimpulan. Demikian pula Al-Qur’an. Manusia diajak keluar dari ruang sempit pikirannya untuk menyaksikan fakta-fakta yang terbentang di alam.

Dalam psikologi modern dikenal istilah awe experience, yaitu pengalaman takjub ketika seseorang menyaksikan sesuatu yang jauh lebih besar daripada dirinya—hamparan samudra, pegunungan, langit malam, atau peninggalan peradaban kuno. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa rasa takjub semacam ini dapat meningkatkan kerendahan hati, empati, rasa syukur, bahkan mengurangi kecenderungan seseorang untuk bersikap egois.

Bukankah itu sejalan dengan tujuan Al-Qur’an? Semakin jauh seseorang berjalan, seharusnya semakin sadar bahwa dirinya hanyalah bagian kecil dari ciptaan Allah yang begitu luas.

Karena itu, traveling dalam Islam bukan sekadar berpindah lokasi, tetapi juga berpindah perspektif. Dari sempit menjadi luas. Dari merasa paling hebat menjadi lebih rendah hati. Dari hanya melihat pemandangan menjadi mampu membaca tanda-tanda kebesaran Allah.

Sejarah Islam sendiri memperlihatkan tradisi perjalanan yang sangat kuat. Para ulama dahulu rela menempuh ribuan kilometer hanya untuk mempelajari satu hadis. Para pedagang Muslim mengarungi lautan bukan hanya membawa barang dagangan, tetapi juga membawa nilai-nilai kejujuran yang kemudian menjadi jalan penyebaran Islam di berbagai wilayah. Perjalanan melahirkan ilmu, jaringan, pengalaman, sekaligus peradaban.

Ironisnya, di zaman sekarang justru muncul fenomena sebaliknya. Seseorang bisa mengunjungi sepuluh negara, tetapi tidak mengenal budaya masyarakat yang ditemuinya. Datang sebentar, berfoto, membeli oleh-oleh, lalu pulang. Yang bertambah hanyalah isi galeri, bukan keluasan wawasan.

Padahal, setiap perjalanan menyimpan pelajaran yang tak ternilai. Gunung mengajarkan keteguhan. Laut mengajarkan keluasan. Gurun mengajarkan kesabaran. Hutan mengajarkan keseimbangan ekosistem. Situs sejarah mengingatkan bahwa kejayaan dan keruntuhan sama-sama mungkin dialami sebuah bangsa.

Traveling juga mengikis prasangka. Ketika bertemu orang dari suku, bahasa, dan budaya yang berbeda, kita belajar bahwa perbedaan bukan ancaman, melainkan kekayaan. Dunia menjadi ruang belajar yang tidak pernah selesai.

Maka, jika suatu hari kita memiliki kesempatan bepergian, jangan hanya membawa koper dan kamera. Bawalah juga rasa ingin tahu, kerendahan hati, dan semangat belajar. Tanyakan pada diri sendiri : apa hikmah yang dapat dipetik dari perjalanan ini? Apa yang Allah ingin tunjukkan melalui tempat yang sedang saya kunjungi?

Sebab dalam pandangan Al-Qur’an, perjalanan terbaik bukanlah yang paling jauh jaraknya, melainkan yang paling dalam pelajarannya. Bukan yang paling mahal biayanya, tetapi yang paling besar manfaatnya. Dan bukan pula yang paling ramai di media sosial, melainkan yang paling mampu mendekatkan hati kepada Sang Pencipta.

Jadi, lain kali ketika ada yang bertanya, “Mau traveling ke mana?”

Barangkali jawaban terbaik bukan hanya nama sebuah kota atau negara, melainkan, “Saya sedang belajar membaca ayat-ayat Allah yang terbentang di muka bumi.”

Karena sesungguhnya, bumi ini adalah kitab terbuka. Dan setiap langkah kaki adalah halaman baru yang menunggu untuk dibaca.(*)

 

Tinggalkan Balasan

Search