Silaturahmi ke Pesantren Cintawana, Wamendikdasmen Fajar Kenang Pesan dan Jejak Keilmuan Haedar Nashir

Silaturahmi ke Pesantren Cintawana, Wamendikdasmen Fajar Kenang Pesan dan Jejak Keilmuan Haedar Nashir
www.majelistabligh.id -

Di kaki perbukitan Singaparna yang sejak lama dikenal sebagai salah satu pusat pendidikan Islam di Tasikmalaya, sebuah silaturahmi berlangsung hangat pada Ahad (7/6/2026). Setelah memberikan tausiah pada Wisuda Takrimun Najihin di Pesantren Muhammadiyah Al Furqon, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq melanjutkan langkahnya menuju pesantren yang hanya berjarak tak jauh dari sana: Pesantren Cintawana.

Bagi banyak orang, kunjungan itu mungkin sekadar agenda silaturahmi seorang pejabat negara. Namun bagi Fajar, perjalanan ke Cintawana memiliki makna yang lebih dalam. Ia datang bukan hanya sebagai wakil menteri, melainkan sebagai seorang santri yang ingin menyambungkan kembali mata rantai keilmuan yang telah lama ia dengar dari para guru dan tokoh yang dihormatinya.

Setibanya di pesantren yang berdiri sejak 1917 itu, Fajar mengenang sosok yang pertama kali memperkenalkannya pada nama besar Cintawana, yakni Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Haedar Nashir.

“Salah satu yang memberi tahu saya tentang Cintawana adalah Prof. Haedar Nashir. Beliau banyak bercerita tentang pesantren ini. Bahkan beliau berpesan, kalau ke Tasikmalaya, saya harus mampir ke Cintawana,” ungkap alumni Pesantren Darusalam Ciamis tersebut.

Cerita-cerita yang pernah didengarnya tentang Cintawana seolah menemukan bentuk nyata saat ia berada langsung di lingkungan pesantren. Ketika mendengar paparan tentang para alumni dan jaringan keilmuan yang lahir dari pesantren itu, Fajar merasakan adanya ikatan yang melampaui ruang dan waktu.

“Setelah saya mendengar beberapa alumni yang disebut Pak Kiai Asep tadi, rupanya nasab keilmuan saya nyambung. Karena itu saya merasa memiliki hubungan batin dengan pesantren ini,” ungkapnya.

Kehadiran Fajar disambut langsung oleh Pimpinan Pesantren Cintawana, KH Asep Ahmad Suja’i. Dengan penuh kehangatan, ia menyampaikan rasa syukur atas kunjungan tersebut.

“Alhamdulillah Pak Wamen bisa bersilaturahmi kepada kami. Ini anugerah bagi kami. Ahlan wa sahlan, selamat datang di Pesantren Cintawana,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, KH Asep mengajak para tamu menelusuri perjalanan panjang pesantren yang telah bertahan lebih dari satu abad. Selama kurun waktu tersebut, Cintawana tidak hanya menjadi tempat belajar ilmu agama, tetapi juga turut mengambil peran dalam pendidikan, dakwah, dan perjuangan kebangsaan.

Pesantren ini telah melewati berbagai fase sejarah Indonesia. Dari ruang-ruang sederhana tempat para santri menuntut ilmu, lahirlah tokoh-tokoh yang kemudian memberi warna bagi perjalanan bangsa. Di antaranya Pahlawan Nasional KH Zainal Mustafa, pendiri Pesantren Cipasung KH Ilyas Ruhiat, hingga Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Haedar Nashir.

Meski memiliki alumni yang tersebar di berbagai organisasi dan bidang pengabdian, KH Asep menegaskan bahwa Cintawana tidak berafiliasi secara formal dengan organisasi Islam tertentu. Sebaliknya, pesantren memberikan kebebasan kepada para santri untuk mengabdikan diri di mana pun mereka berada.

“Kami membolehkan santri aktif di mana pun selama membawa manfaat dan kemaslahatan,” ungkap KH Asep.

Setelah memperkenalkan sejarah dan tradisi panjang pesantren, KH Asep mempersilakan Fajar berbicara di hadapan para santri. Di hadapan generasi muda yang tengah menempuh jalan ilmu, Fajar mengajak mereka menyadari bahwa mereka sedang berada di tempat yang memiliki warisan besar.

“Ade-ade harus berbangga. Pondok ini telah melahirkan banyak tokoh besar bangsa. Jadilah orang yang bermanfaat bagi orang banyak,” pesannya.

Suasana menjadi semakin akrab ketika Fajar berbagi kisah tentang masa-masa nyantri yang pernah dijalaninya. Baginya, pesantren bukan sekadar tempat belajar kitab, melainkan ruang pembentukan karakter yang kelak menjadi bekal menghadapi kehidupan.

“Di pesantren kita belajar hidup mandiri. Belajar disiplin. Belajar menghormati ilmu dan para kiai. Karena itu ilmu yang diperoleh menjadi ilmu yang berkah,” tuturnya.

Nilai-nilai yang diwariskan pesantren, menurut Fajar, justru semakin relevan di tengah perubahan zaman yang bergerak begitu cepat. Kemajuan teknologi dan perkembangan ilmu pengetahuan menuntut generasi muda untuk terus belajar dan beradaptasi.

“Alumni pesantren bisa bersaing dengan siapa pun. Pesantren punya kelebihan dalam membentuk ketahanan, kedisiplinan, dan karakter. Modal itu sangat penting untuk menghadapi masa depan,” ujarnya.

Ia kemudian menitipkan pesan agar para santri tidak pernah berhenti memperkuat kapasitas diri. Waktu, menurutnya, harus dimanfaatkan untuk hal-hal yang mendekatkan pada ilmu dan pengembangan diri.

“Saran saya, manfaatkan waktu untuk hal-hal yang dekat dengan ilmu. Perkuat keterampilan dan kepemimpinan. Tidak ada titik berhenti untuk belajar.”

Pesan itu menjadi semakin penting ketika dunia terus berubah dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Di era ketika ilmu pengetahuan berkembang setiap saat, kemampuan belajar menjadi salah satu kunci utama untuk bertahan dan maju.

“Kuatkan etos keilmuan. Bangun mental cepat belajar. Ilmu pengetahuan berkembang sangat cepat dan manusia yang mampu beradaptasilah yang akan terus maju,” tegasnya.

Menjelang akhir kunjungan, silaturahmi di Pesantren Cintawana terasa lebih dari sekadar pertemuan antara seorang wakil menteri dan sebuah lembaga pendidikan Islam. Pertemuan itu menjadi pengingat tentang pentingnya menjaga kesinambungan ilmu, menghormati para guru, serta merawat tradisi pesantren yang telah melahirkan generasi-generasi pengabdi umat dan bangsa.

Di tengah arus perubahan zaman yang terus bergerak, pesantren seperti Cintawana menunjukkan bahwa warisan ilmu tidak hanya hidup dalam bangunan dan sejarah, tetapi juga dalam nilai-nilai yang terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. (*/tim)

 

 

Tinggalkan Balasan

Search