Penggunaan AI: Antara Kemaslahatan, Etika, dan Syiar Agama

www.majelistabligh.id -

Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menegaskan bahwa kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) harus diposisikan semata-mata sebagai instrumen pendukung manusia, bukan sebagai pengganti akal apalagi otoritas keagamaan.

Hal tersebut disampaikan oleh Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Mukhlis Rahmanto, dalam forum Pengajian Tarjih pada Rabu (22/7/2026). Ia menekankan pentingnya memahami hakikat dasar AI sebelum melangkah ke ranah hukum syariat maupun penggunaannya dalam kehidupan beragama.

Mukhlis menjelaskan, AI pada dasarnya merupakan program komputer yang dirancang untuk meniru fungsi kognitif manusia—seperti menganalisis data, memproses informasi, hingga membantu pengambilan keputusan. Namun, secanggih apa pun kemampuannya, AI tetaplah produk buatan manusia yang tidak akan mampu menandingi akal ciptaan Allah Swt.

“AI tidak bisa melampaui akal manusia. Dalam perspektif Islam, posisinya murni sebagai tools atau teknologi yang membantu aktivitas manusia,” tegas Mukhlis.

Oleh karena itu, nilai etis penggunaan AI sangat bergantung pada niat dan tujuannya. Jika dimanfaatkan untuk kemaslahatan—seperti mempermudah akses belajar agama—Islam sangat mendukungnya. Sebaliknya, pemanfaatan AI yang membawa mudarat atau merugikan orang lain secara tegas tidak dibenarkan.

Pro-Kontra AI di Kalangan Umat Beragama

Menurut Mukhlis, respons masyarakat beragama secara global terhadap AI terbelah menjadi dua kelompok utama: menerima (accept) dan menolak (reject).

Kelompok yang menolak umumnya dipicu oleh kekhawatiran etis dan spiritual. Sebagian kalangan khawatir AI dapat menyesatkan manusia, mengikis peran tokoh agama, atau bahkan mengaburkan garis antara ciptaan Tuhan dan buatan manusia.

Mukhlis memaparkan contoh kontroversi robot humanoid Sophia di Arab Saudi yang sempat memicu perdebatan syariat, serta peringatan dari tokoh global seperti Elon Musk terkait potensi bahaya AI.

“Sebagian kalangan khawatir AI diperlakukan seolah-olah menyamai ciptaan Allah, yang mana hal itu berpotensi memicu pengultusan atau pergeseran otoritas keagamaan,” jelasnya.

Di sisi lain, kelompok yang menerima memandang AI sebagai sarana inovatif untuk pelayanan agama. Mukhlis mencontohkan penggunaan robot Mindar di sebuah kuil Buddha di Jepang yang bertugas menyampaikan pesan keagamaan guna mendekatkan generasi muda pada ajaran mereka.

Dalam konteks literasi Islam, Mukhlis juga menyinggung adanya kajian akademis yang mencoba memetakan peran teknologi—termasuk hardware dan data center pendukung AI—dengan isyarat ilmiah dalam Surah Al-Hadid ayat 25 tentang pemanfaatan besi. Meski begitu, ia mengingatkan agar penafsiran tersebut disikapi secara proporsional.

“AI hanyalah sarana, bukan tujuan. Yang menentukan manfaat atau mudaratnya tetap manusia. Penggunaannya dalam urusan agama harus tetap bersandar pada pemahaman yang benar dan bimbingan para ulama,” pungkas Mukhlis. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search