Silaturahmi Musiman: Datang Saat Susah, Menghilang Saat Senang

Silaturahmi Musiman: Datang Saat Susah, Menghilang Saat Senang
*) Oleh : Ruli Alqodri Mustafa
Kolumnis, pemerhati sosial dan ekonomi, founder The TwinsPrime Economics and Social Studies – Cilegon, Banten.
www.majelistabligh.id -

Ada sebuah fenomena menarik dalam kehidupan sosial kita. Sebagian orang tiba-tiba menjadi sangat rajin bersilaturahmi ketika hidupnya sedang susah. Kerabat yang lama tidak dikunjungi mendadak diingat, sahabat yang bertahun-tahun tidak dihubungi tiba-tiba dicari, bahkan nomor telepon yang nyaris terlupakan kembali dibuka. Bukan karena ada undangan pernikahan atau kabar bahagia, melainkan karena hidup sedang menghimpit dan ada kebutuhan yang ingin disampaikan.

Di ruang tamu, ia duduk dengan wajah penuh beban. Cerita tentang kesulitan ekonomi mengalir panjang, masalah pekerjaan disampaikan dengan nada getir, dan berbagai persoalan hidup diceritakan satu demi satu. Sesekali ia menghela napas, berharap orang yang mendengarkan memahami betapa berat beban yang sedang dipikulnya. Pada akhirnya, percakapan itu sering bermuara pada satu hal: permohonan bantuan, pinjaman uang, atau sekadar harapan agar ada yang bersedia meringankan kesulitannya.

Sebagai kerabat atau sahabat, tentu tidak ada yang salah dengan meminta pertolongan. Manusia bukan makhluk yang sanggup menjalani seluruh persoalan hidup sendirian. Ada kalanya seseorang harus mengetuk pintu saudaranya, mengulurkan tangan kepada sahabatnya, atau mengakui bahwa dirinya sedang tidak baik-baik saja. Justru di situlah persaudaraan menemukan maknanya. Silaturahmi bukan sekadar pertemuan untuk tertawa bersama, melainkan juga kesediaan untuk saling menopang ketika salah seorang sedang kehilangan kekuatan.

Namun, persoalan mulai terasa ketika keadaan berbalik. Rezekinya kembali lancar, usahanya berkembang, pekerjaannya membaik, dan kehidupan ekonominya perlahan menjadi lapang. Orang yang dahulu begitu rajin berkunjung kini mendadak sulit ditemui. Pesan singkat tidak lagi dibalas secepat dahulu. Telepon jarang diangkat. Undangan berkumpul sering dilewatkan dengan alasan sibuk. Kerabat dan sahabat yang dulu menjadi tempat mencurahkan kesedihan perlahan menghilang dari daftar prioritas hidupnya.

Ironisnya, orang-orang yang dahulu ikut memikirkan kesulitannya mungkin masih mengingat bagaimana mereka berusaha membantu. Ada yang meminjamkan uang dari tabungan terakhirnya, ada yang meluangkan waktu untuk mendengarkan keluh kesahnya, dan ada pula yang ikut mencarikan jalan keluar ketika ia merasa buntu. Mereka tidak selalu mengharapkan balasan materi. Barangkali mereka hanya berharap hubungan itu tetap terpelihara setelah badai berlalu. Sayangnya, harapan sederhana tersebut terkadang tidak menemukan jawabannya.

Di sinilah kita perlu membedakan antara silaturahmi yang lahir dari ketulusan dan silaturahmi yang hanya aktif ketika kebutuhan mendesak. Yang pertama menjadikan hubungan sebagai sesuatu yang berharga, sedangkan yang kedua berisiko menjadikan hubungan sebagai sarana untuk mencapai tujuan pribadi. Kerabat dan sahabat seolah menjadi tempat persinggahan ketika hidup sedang sulit, tetapi dilupakan ketika perjalanan kembali menyenangkan.

Tentu, tidak semua orang yang jarang berkunjung berarti tidak tahu berterima kasih. Kesibukan, jarak, tanggung jawab keluarga, dan persoalan pribadi bisa menjadi alasan yang masuk akal. Kita tidak boleh terburu-buru menghakimi isi hati seseorang hanya berdasarkan frekuensi pertemuan. Akan tetapi, jika pola yang sama berulang terus-menerus—datang ketika membutuhkan sesuatu, lalu menghilang ketika sudah berkecukupan—maka ada baiknya kita melakukan introspeksi. Jangan-jangan hubungan yang kita rawat selama ini lebih banyak didorong oleh kepentingan daripada kasih sayang.

Dalam perspektif Islam, silaturahmi bukanlah transaksi sosial yang hanya berjalan ketika seseorang membutuhkan pertolongan. Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa orang yang benar-benar menyambung hubungan kekerabatan bukan sekadar membalas kebaikan dengan kebaikan, melainkan tetap menjaga hubungan meskipun pihak lain pernah memutuskannya. Pesan ini mengingatkan kita bahwa kualitas silaturahmi diuji bukan hanya ketika kita membutuhkan orang lain, tetapi juga ketika kita sudah tidak membutuhkan apa-apa dari mereka.

Ada pula pelajaran penting tentang rasa syukur. Ketika sedang sempit, seseorang mungkin mudah mengingat pertolongan Allah Subhanahu Wa Ta’ala melalui tangan orang lain. Namun, ketika kehidupan kembali lapang, jangan sampai ia melupakan orang-orang yang pernah menjadi perantara pertolongan tersebut. Bukan berarti setiap bantuan menciptakan utang budi tanpa batas, melainkan karena hati yang bersyukur semestinya tidak mudah melupakan kebaikan.

Sesungguhnya, salah satu ukuran kedewasaan seseorang adalah bagaimana ia memperlakukan orang lain setelah dirinya berhasil melewati masa sulit. Apakah ia tetap menyapa sahabat lamanya? Apakah ia masih bersedia mendengarkan keluhan kerabatnya? Apakah ia masih meluangkan waktu untuk sekadar bertanya kabar, meskipun tidak ada urusan yang perlu diselesaikan? Hal-hal sederhana seperti itulah yang sering kali lebih jujur menggambarkan karakter seseorang daripada kata-kata manis yang diucapkan ketika sedang membutuhkan pertolongan.

Kita juga perlu belajar dari sisi sebaliknya. Jangan sampai kita hanya menghubungi saudara ketika membutuhkan pinjaman, mendatangi sahabat ketika sedang terpuruk, atau mengingat seseorang hanya ketika ada kepentingan yang ingin dititipkan. Sesekali, hubungilah mereka tanpa membawa keluhan. Datanglah tanpa permintaan. Tanyakan kabar tanpa agenda tersembunyi. Jika memiliki rezeki lebih, jangan ragu berbagi kebahagiaan. Jika belum mampu memberi materi, perhatian dan ketulusan pun merupakan bentuk pemberian yang berharga.

Pada akhirnya, silaturahmi bukanlah pintu darurat yang hanya dibuka ketika kehidupan mengalami kebakaran. Ia adalah jembatan yang perlu dirawat, baik ketika kita sedang berjalan tertatih-tatih maupun ketika berlari mengejar keberhasilan. Jangan menjadikan orang lain tempat berlindung saat hujan, lalu melupakannya setelah matahari bersinar kembali.

Sebab, sahabat sejati bukan hanya mereka yang bersedia menemani kita ketika jatuh, tetapi juga mereka yang tetap kita ingat ketika sudah berdiri tegak. Dan kemuliaan seseorang tidak semata-mata terlihat dari banyaknya orang yang datang menolongnya ketika susah, melainkan juga dari ketulusan hatinya menjaga hubungan ketika hidupnya telah berubah menjadi lebih mudah.

Jangan sampai silaturahmi kita hanya rajin ketika dompet menipis, tetapi mendadak lupa jalan pulang ketika rezeki mulai menebal. (*)

 

 

Tinggalkan Balasan

Search