NKRI Berdiri di Atas Tumpukan Tulang & Siraman Darah Umat Islam

NKRI Berdiri di Atas Tumpukan Tulang & Siraman Darah Umat Islam
*) Oleh : Suwito Ibnu Kasby
Ketua Majelis Tabligh PDM Lamongan.
www.majelistabligh.id -
(Menyingkap Fakta Sejarah Peran Islam & Umatnya Dalam Mewujudkan Mahakarya NKRI)
Ada cinta dan benci teramu dalam tulisan ini….
Cinta untuk mengungkap fakta Sejarah…
Ternyata ruh Islam yang menjadi motivasi dan amunisi heroic tuk raih kemerdekaan RI ….
Ternyata motto ; Hidup mulia tanpa penjajah…
Atau mati Syahid ….lebih dahsyat dari sekedar Merdeka atau mati !
Ternyata teriakan Allahu Akbar…..
Lebih besar pengaruhnya daripada sekedar lantang meneriakkan Merdeka !
Ada benci dalam tulisan ini…
Kebencian terhadap propaganda jahat yang sengaja menghapus jejak perjuangan Ummat Islam !
Kebencian terhadap tulisan sejarah dusta ; yang memutar balikkan fakta plus menjungkirbalikan akal sehat ; menegasikan peran besar ulama, santri dan ummat Islam !!!
Karenanya generasi saat ini kudu tahu fakta Sejarah yang sesungguhnya !!!
Sulit untuk dipungkiri bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini berdiri dan terbangun diatas tumpukkan tulang-tulang dan siraman darah para ulama’ dan santri. Dengan kata lain yang mempunyai saham terbesar dalam mengusir  para penjajah sehingga Allah Azza Wajalla memberikan kemerdekaan bangsa ini adalah umat Islam. Namun demikian, fakta sejarah ini sengaja dikaburkan. Ada proses distorsi atas sejarah eksistensi Islam dan ummatnya dengan pola meniadakan yang ada dan mengadakan yang tidak ada secara sistemik, massive dan terstruktur.
Fenomena diatas menurut begawan sejarah Indonesia, Ahmad Mansur Suryanegara disebut sebagai deislamisasi sejarah Indonesia, dimana peranan umat Islam di dalamnya ditiadakan, atau tetap ada, tetapi dimaknai dengan pengertian yang lain. Akibatnya, ketika kondisi mereka termarjinalkan dalam politik, social, ekonomi, maupun budaya dianggap suatu hal yang lumrah. Bahkan saat hak-hak mereka dirampas, menjadi hal yang biasa dan layak untuk diterima karena dianggap tidak mempunyai kontribusi pada Negeri ini.
Karena itu, ‘kabut sejarah’ ini harus disingkap. Generasi saat ini musti mengerti dan memahami fakta sejarah yang sesungguhnya. Apalagi yang berkaitan dengan peran Islam dan ummatnya. Jangan sampai kita menjadi korban deislamisasi sejarah yang dilakukan oleh kelompok kolonialis-Orientalis dimana saat mereka gagal menguasai ‘fisik’ bangsa Indonesia, mereka berhasil menjajah pengetahuan anak bangsa.
Ahli sejarah Prof. Dr. Sartono Kartodirdjo pernah mengatakan, bahwa orang yang tidak tahu sejarahnya sendiri, berarti telah kehilangan kemanusiaanya, sehingga sama dengan pasien rumah sakit jiwa.

Tinggalkan Balasan

Search