Stop Romantisme Kejayaan Peradaban Islam

Stop Romantisme Kejayaan Peradaban Islam
*) Oleh : Agus Rosid
Pekerja Sosial
www.majelistabligh.id -

Dunia mengakui bahwa perkembangan teknologi digital saat ini tidak bisa dilepaskan dari sumbangsih peradaban Islam. Sayangnya, pengakuan jujur itu menjadi sekadar kenangan masa lalu dari sebuah zaman keemasan.

Dulunya, saat dunia Barat masih dilingkupi zaman kegelapan intelektual, ilmuwan Muslim sempat memegang peran sentral dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Lewat berbagai karya tulis monumental dan hasil penelitian yang tak terhitung jumlahnya, mereka merumuskan fondasi sains dan teknologi modern.

Kita tidak pernah lupa dengan Al-Khwarizmi, yang memperkenalkan istilah algoritma dan aljabar yang kemudian menjadi bahasa dasar komputasi modern. Nama lain yang juga tak asing adalah Ibnu Sina, penulis kitab Al-Qanun fi al-Thib, yang menjadi rujukan utama ilmu kedokteran di Eropa selama lima abad. Keduanya hanyalah sebagian kecil dari deretan panjang ratusan ilmuwan Muslim berpengaruh.

Di masa itu, ada dua dorongan semangat untuk pengembangan ilmu pengetahuan. Pertama, tolok ukur kesalehan personal, sebagaimana janji Allah yang akan meninggikan beberapa derajat orang-orang beriman dan berilmu (QS. Al-Mujadilah: 11).

Kedua, kebutuhan praktis umat untuk kemudahan beribadah. Ilmuwan falak menciptakan teleskop agar jemaah tidak perlu lagi memicingkan mata di senja hari sekadar untuk melihat hilal. Ini artinya, kontribusi mereka selalu berupa aplikasi nyata yang membawa kemanfaatan langsung bagi umat.

Bayangkan, jika tidak ada astrolab yang dikembangkan oleh Al-Battani dan Al-Zarqali, umat Islam kala itu tentu kesulitan menentukan arah kiblat dan waktu salat secara akurat. Begitu pula dengan karya Ibnu al-Haytham di bidang optik—perintis lensa dan teropong untuk pengamatan pergerakan cahaya sebagai cikal bakal penemuan kamera.

Lantas muncul pertanyaan: mengapa setelah itu ilmuwan Muslim dengan karya berdampak global justru sangat terbatas?

Ada banyak faktor penyebabnya, baik internal maupun eksternal. Namun paling tidak ada dua peristiwa sejarah yang sering disebut sebagai kunci jawaban.

Salah satu faktor internal yang berpengaruh adalah menguatnya kecenderungan fanatisme madzhab yang menempatkan penyucian ruhani lebih penting daripada tradisi berpikir kritis dan eksperimen. Ini yang kerap membuat perhatian umat tersita untuk kebutuhan merawat batin, lantas lalai membangun peradaban fisik.

Faktor lain yang juga berpengaruh adalah ketiadaan dukungan sistem. Budaya diskursus ilmiah kehilangan dukungan politik dan pendanaan jangka panjang. Tragisnya, Madrasah dan Baitul Hikmah sudah bergeser fungsi, tidak lagi menjadi pusat riset dan ijtihad. Tradisi mencari ilmu yang eksploratif digantikan budaya sekadar menukil dan mengulang pendapat lama. Akibatnya, daya nalar perlahan padam.

Tak heran, ketika Barat memulai era Renaisans, daya dorong ilmiah umat Islam semakin melemah, seiring dengan meredupnya sistem yang mendukung tradisi ijtihad. Ujung-ujungnya, kita kalah bersaing dan memasuki babak kelam zaman kemunduran (Al-Inhitat).

Sejak saat itu Barat mendominasi dan memimpin arah perkembangan sains dunia. Berbagai aktivitas kehidupan manusia, termasuk kaum Muslimin sendiri, sangat bergantung pada produk teknologi yang dihasilkan dari luar dunia Islam.

Ironisnya, umat Islam kini malah terjebak romantisme masa lalu. Ada kecenderungan kuat mengulang-ulang kisah kejayaan itu di ruang publik tanpa tindakan nyata. Seminar bertema kebangkitan sains Islam kerap digelar, dan panggung pengajian dengan topik serupa sangat mudah ditemukan. Hal ini memang cukup wajar untuk mengenang kembali kejayaan yang pernah dalam genggaman agar umat tidak inferior menghadapi serangan sinisme terhadap kontribusi Islam di era sekarang.

Namun demikian, ada hal yang perlu dijelaskan secara jujur: Jika sebuah kejayaan tidak memiliki kontinuitas, ia berisiko menjadi sekadar memorabilia yang dipajang di dinding museum sebagai bukti peninggalan masa lalu belaka.

Sedangkan realitas di lapangan menuntut kerja konkret. Anak-anak kehilangan kemampuan bersosialisasi akibat kecanduan gawai. Obat-obatan yang masih diragukan kehalalannya karena ketergantungan bahan baku impor. Teknologi tepat guna untuk komunitas Muslim di pelosok pun masih minim. Dan juga ruang digital Islam kontemporer. Kebutuhan seperti inilah yang seharusnya menjadi bidang garapan bukan sekadar bernostalgia.

Hampir 50 tahun berlalu sejak pencanangan abad 15 Hijriyah sebagai Abad Kebangkitan Islam, tertuju harapan besar pada negara Timur Tengah untuk menjadi pionir kebangkitan karena kemampuan finansial mereka.

Namun kenyataannya, eskalasi politik yang terus bergejolak membuat stabilitas di sana goyah. Alih-alih membangun laboratorium riset canggih, menjamin keamanan sosial saja sudah menjadi tantangan berat.

Di sinilah kita menemukan titik kesamaan dengan faktor ketiadaan dukungan sistem, yang mengakibatkan harapan akan lahirnya ilmuwan Muslim inovatif kembali kandas di tengah jalan.

Kita harus menyadari bahwa selama romantisme masa lalu masih menjadi tempat berlindung yang nyaman, maka zaman keemasan itu hanya akan menjadi sejarah di dalam buku pelajaran.

Pada akhirnya, umat Islam akan terus berjalan di tempat, sekadar menjadi penonton di tengah riuhnya orkestrasi peradaban dunia.

Sumber Referensi:
1. Fachreza, D. dkk. “Mundurnya Peradaban Islam dari Zaman Keemasannya”. Jurnal Historia, Vol 8 No. 12, Universitas Jambi, Desember 2024.
2. Ghaudah, Muhammad Gharib. 147 Ilmuwan Terkemuka Dalam Sejarah Islam. Pustaka Al-Kautsar, 2013.
3. Peradaban Islam: Masa Keemasan dan Penyebab Kemunduran Islam
https://cibangsa.com/index.php/tashdiq/article/view/5080
4. Wikipedia Bahasa Indonesia. “Daftar ilmuwan Muslim”.

 

Tinggalkan Balasan

Search