Setiap manusia pasti pernah menangis. Tangisan adalah bahasa hati yang paling jujur, tanda kelemahan sekaligus kebutuhan akan kasih sayang dan pertolongan. Namun ada satu tangisan yang paling mengerikan: tangisan terakhir yang tidak akan didengar lagi. Tangisan itu bukan di dunia, melainkan di akhirat, ketika semua pintu taubat telah tertutup dan semua kesempatan kembali sudah hilang
Tangisan terakhir yang tidak akan pernah didingar lagi? Bukan tangisan bayi yang lapar. Bukan tangisan seorang ibu yang kehilangan anaknya. Tetapi tangisan seorang manusia yang telah meninggalkan dunia, lalu memohon agar diberi kesempatan kembali. Namun, permohonanya tidak lagi di kabulkan.
Allah berfirman:
حَتّٰىٓ اِذَا جَاۤءَ اَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُوْنِ ۙ لَعَلِّيْٓ اَعْمَلُ صَالِحًا فِيْمَا تَرَكْتُ كَلَّا ۗاِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَاۤىِٕلُهَاۗ وَمِنْ وَّرَاۤىِٕهِمْ بَرْزَخٌ اِلٰى يَوْمِ يُبْعَثُوْنَ
Artinya: (Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu) hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, “Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia)
Agar aku dapat beramal saleh yang telah aku tinggalkan.” Sekali-kali tidak! Sesungguhnya itu adalah dalih yang diucapkannya saja. Di hadapan mereka ada (alam) barzakh) sampai pada hari mereka dibangkitkan. QS. Al-Mu’minun: 99-100)
Tetapi Allah menjawab bahwa kesempatan itu telah berakhir.
Tangisan di Dunia vs Tangisan di Akhirat
Tangisan di dunia masih bisa menjadi obat. Ia bisa melembutkan hati, menghapus dosa, dan mengundang rahmat Allah. Rasulullah ﷺ bersabda: “Dua mata yang tidak akan disentuh api neraka: mata yang menangis karena takut kepada Allah, dan mata yang berjaga di jalan Allah.” (HR. Tirmidzi).
Tangisan di akhirat adalah tangisan penyesalan. Ia tidak lagi berguna, tidak ada yang mendengar, tidak ada yang menolong. Allah menggambarkan keadaan itu:
وَهُمْ يَصْطَرِخُوْنَ فِيْهَاۚ رَبَّنَآ اَخْرِجْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا غَيْرَ الَّذِيْ كُنَّا نَعْمَلُۗ اَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَّا يَتَذَكَّرُ فِيْهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجَاۤءَكُمُ النَّذِيْرُۗ فَذُوْقُوْا فَمَا لِلظّٰلِمِيْنَ مِنْ نَّصِيْرٍ ࣖ
Artinya: Mereka berteriak di dalam (neraka) itu, “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami (dari neraka), niscaya kami akan mengerjakan kebajikan, bukan (seperti perbuatan) yang pernah kami kerjakan dahulu.” (Dikatakan kepada mereka,) “Bukankah Kami telah memanjangkan umurmu dalam masa (yang cukup) untuk dapat berpikir bagi orang yang mau berpikir. (Bukankah pula) telah datang kepadamu seorang pemberi peringatan? Maka, rasakanlah (azab Kami). Bagi orang-orang zalim tidak ada seorang penolong pun.” (QS. Fathir: 37)
Mengapa Tangisan Itu Tidak Didengar Lagi?
1. Karena kesempatan sudah habis. Dunia adalah ladang amal, akhirat adalah tempat panen. Tidak ada lagi benih yang bisa ditanam.
2. Karena hati sudah tertutup. Mereka menangis bukan karena taubat, tetapi karena siksa. Tangisan itu tidak lahir dari iman, melainkan dari rasa sakit.
3. Karena Allah Maha Adil. Allah telah memberi umur, akal, peringatan, dan kesempatan. Jika semua itu diabaikan, maka tangisan di akhirat hanyalah penyesalan yang sia-sia
Pelajaran untuk Kita
1. Jangan menunggu tangisan terakhir. Menangislah sekarang, di dunia, dengan air mata taubat.
2. Gunakan waktu yang tersisa untuk memperbaiki diri, karena kita tidak tahu kapan pintu kesempatan akan tertutup.
3. Jadikan tangisan sebagai doa, bukan sekadar emosi. Tangisan yang lahir dari rasa takut kepada Allah akan menjadi cahaya di akhirat
Saudaraku, jangan biarkan dirimu termasuk orang yang menangis di akhirat, ketika tangisan itu tidak akan didengar lagi. Lebih baik menangis sekarang, di dunia, dengan air mata taubat dan kerendahan hati. Karena tangisan di dunia bisa menyelamatkan, sementara tangisan di akhirat hanya menambah derita.
“Maka bersegeralah kalian menuju ampunan dari Tuhanmu, sebelum datang hari yang tidak ada lagi tangisan yang didengar, tidak ada lagi doa yang dikabulkan.” (*)
