Tindak Tutur Haedar Nashir dalam Pidato Milad Muhammadiyah

*) Oleh : Sudaryanto
Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Ahmad Dahlan (UAD). 
www.majelistabligh.id -

Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, merupakan pendakwah yang dikenal dengan pemikirannya yang sejuk, moderat, dan berorientasi pada kemajuan bangsa. Alih-alih menyampaikan pidato yang berapi-api, Haedar Nashir sering kali menggunakan bahasa yang lembut, santun, menyejukkan, padat, mendalam dan reflektif.

Dalam artikel singkat ini, penulis ingin mengkaji pidato Haedar Nashir dalam ilmu Pragmatik -yakni ilmu tentang pertuturan, konteks, dan maknanya. Salah satu topik menarik dalam ilmu pragmatik adalah tindak tutur (speech acts).

Filsuf J. L. Austin (1962) menjelaskan, tiap tuturan seseorang tidak hanya merupakan tindak untuk mengatakan sesuatu (the act of saying something), tetapi juga merupakan bagian dari melakukan tindakan (the act of doing something). Tindak tutur terwujud pada semua wacana, termasuk pidato Milad Muhammadiyah yang disampaikan setiap tahunnya.

Penulis memilih menganalisis pidato Haedar Nashir dalam Milad ke-106 dan 109 Muhammadiyah. Pidato Milad ke-106 Muhammadiyah bertema “Ta’awun untuk Negeri”, sedangkan pidato Milad ke-109 Muhammadiyah bertema “Optimis Hadapi Covid-19 Menebar Nilai Utama”.

Kedua pidato Milad Muhammadiyah itu akan diteliti dari aspek jenis tindak tutur sesuai dengan teori Searle (1979) dan Leech (1983).

Tindak Tutur Asertif

Pertama, tindak tutur asertif. Dalam pidato Milad ke-106 Muhammadiyah, Haedar Nashir menggunakan tindak tutur asertif bermakna ‘melaporkan’. Dia melaporkan kepada audiens bahwa Muhammadiyah dapat menyelenggarakan resepsi Milad ke-106 pada 18 November 2018 di Puro Mangkunegaran Surakarta, Jawa Tengah.

Menurutnya, Kraton Surakarta itu menginspirasi pendiri Muhammadiyah, Kiai Haji Ahmad Dahlan, mendirikan “Padvinders”, yaitu Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan pada tahun 1918 silam.

Haedar Nashir bertutur: “Alhamdulillah Muhammadiyah menyelenggarakan resepsi Milad ke-106 tanggal 18 November 2018 ini bertempat di Puro Mangkunegaran Surakarta yang bernuansa kearifan Islam kultural.Kraton yang bersejarah ini di masa lalu menginspirasi Kyai Haji Ahmad Dahlan mendirikan “Padvinders”, yakni Gerakan Kepanduan “Hizbul Wathan” tahun 1918.”

Melalui tuturan itu, Haedar Nashir melaporkan tempat penyelenggaraan Milad Muhammadiyah dan sejarah berdirinya Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan.

Tindak tutur asertif bermakna ‘melaporkan’ juga ditemukan dalam pidato Milad ke-109 Muhammadiyah. Dalam pidato itu, Haedar Nashir melaporkan bahwa Indonesia dan dunia dalam kondisi pandemi Covid-19 pada tahun 2021.

Khusus kondisi pandemi di Tanah Air, Haedar melaporkan bahwa Indonesia merupakan negara yang berhasil menekan kasus Covid-19 hingga 7%, di bawah rata-rata dunia yang masih sebanyak 23,84%. Secara pragmatik, Haedar Nashir tepat menggunakan tindak tutur asertif dalam menyampaikan pidato tersebut.

Haedar Nashir menyampaikan: “Alhamdulillah kondisi Covid-19 di negeri ini mulai melandai di banding negara-negara lain. Indonesia termasuk negara yang berhasil menekan kasus Covid hingga 7% di bawah rata-rata dunia yang masih sebesar 23,84%. Keberhasilan tersebut buah dari kesungguhan pemerintah dan peran kekuatan-kekuatan masyarakat antara lain Muhammadiyah yang sejak awal konsisten bergerak gigih menangani pandemi. Namun semua pihak harus tetap waspada dan seksama. …”

Tindak Tutur Direktif

Kedua, tindak tutur direktif. Dalam pidato Milad ke-106 Muhammadiyah, Haedar Nashir menggunakan tindak tutur direktif bermakna ‘memesan’.

Dia menyampaikan pesan bahwa tema Milad ke-106 Muhammadiyah membawa pesan kepada seluruh komponen bangsa, termasuk pemerintah dan kekuatan politik nasional, agar tolong-menolong dan bekerja sama demi Indonesia tercinta. Pesan itu selaras dengan makna tema Milad ke-106 Muhammadiyah, “Ta’awun untuk Negeri”, yang mendorong kita untuk bekerja sama untuk Tanah Air.

Haedar Nashir berujar: “Milad Muhammadiyah ke-106 tahun 2018 ini mengangkat tema “Ta’awun untuk Negeri”. Melalui tema tersebut, Muhammadiyah membawa pesan utama kepada seluruh komponen bangsa termasuk pemerintah dan kekuatan politik nasional agar secara kolektif-kolegial mengerahkan segala daya dalam menggelorakan semangat, pemikiran, dan tindakan-tindakan nyata untuk “saling menolong dan bekerja sama” demi kebaikan, kemaslahatan, serta kemajuan bangsa dan negara Indonesia tercinta.”

Selain tindak tutur direktif bermakna ‘memesan’, ada pula tindak tutur direktif bermakna ‘menuntut’. Lewat pidato Milad ke-109 Muhammadiyah, Haedar Nashir menuntut bangsa Indonesia harus bangkit dari pandemi dan sigap menyelesaikan masalah-masalah negeri.

“Jika bangsa Indonesia dapat bangkit dari pandemi, niscaya potensi kita akan berkembang pesat. Indonesia memiliki potensi dan peluang yang positif untuk bangkit dari pandemi dan menyelesaikan persoalan negeri,” kata Haedar Nashir.

Tindak Tutur Komisif

Ketiga, tindak tutur komisif. Dalam pidato Milad ke-106 Muhammadiyah, Haedar Nashir menggunakan tindak tutur komisif bermakna ‘menjanjikan’.

Haedar Nashir menjanjikan bahwa pemerintah dan seluruh komponen bangsa perlu berdialog kembali tentang masalah radikalisme, terorisme, dan isu-isu strategis lainnya agar dihasilkan strategi pemecahan masalah yang menyeluruh demi masa depan Indonesia. Dengan berkata demikian, Haedar mengajak pemerintah dan seluruh komponen bangsa untuk peduli akan janji tersebut.

Haedar berpesan: “Di sinilah pentingnya “taawun pemikiran” antara pemerintah dan seluruh komponen bangsa dalam dialog dan konsensus nasional baru. Pemerintah dan semua komponen bangsa sangat bijak manakala mau duduk bersama mendialogkan kembali secara jernih dan terbuka mengenai masalah radikalisme, terorisme, toleransi, kebinekaan, dan isu-isu strategis kebangsaan dengan mengembangkan pemikiran dan pendekatan multiperspektif agar dihasilkan strategi pemecahan yang menyeluruh demi masa depan Indonesia.”

Lewat pidato Milad ke-109 Muhammadiyah, Haedar juga menggunakan tindak tutur komisif bermakna ‘menawarkan’. Haedar berkata: “Berbekal tekad dan ikhtiar yang sungguh-sungguh, bersatu, dan optimis maka Allah akan meringankan beban hidup dan membuka jalan kesulitan menjadi kemudahan. Teologi “Al-Insyirāḥ” penting dijadikan rujukan dalam menghadapi pandemi Covid-19 dan masalah-masalah kehidupan lainnya yang selama ini menjadi beban berat bersama.”

Demikianlah, ada tindak tutur asertif, tindak tutur direktif, dan tindak tutur komisif yang digunakan oleh Haedar Nashir dalam berpidato. Penggunaan ketiga jenis tindak tutur itu tentu dalam kerangka berkomunikasi secara baik dan tepat kepada para audiensnya.

Saat Haedar Nashir menggunakan tindak tutur bermakna ‘melaporkan’, ia juga sedang melaporkan informasi akurat kepada audiensnya. Demikian juga saat ia menggunakan tindak tutur bermakna ‘berjanji’, ia juga sedang berjanji akan suatu hal. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search