Di negeri ini, kita pandai menukar tujuan dengan alat.
TKA atau Tes Kemampuan Akademik lahir dengan janji: seleksi adil, data objektif, kesempatan setara. Semua itu terdengar baik. Semua itu memang dibutuhkan. Tapi lihatlah ke mana arahnya kini: alat itu telah memakan tujuannya.
Sekolah yang seharusnya menjadi tempat manusia tumbuh, kini berubah menjadi pabrik persiapan ujian. Kelas XII yang seharusnya menjadi puncak pendewasaan justru menjadi masa pembuangan: tiga bulan terakhir bukan untuk belajar, bukan untuk merenung, bukan untuk mematangkan diri — melainkan untuk menghafal pola soal, melatih insting menjawab, dan berdoa semoga angka di atas kertas berpihak.
Tujuan pendidikan? Lupa sudah.
Kita bicara tentang membentuk karakter, berpikir kritis, jiwa mandiri. Tapi di ruang ujian, semua itu tak terukur. Yang dihitung cuma satu: angka. Maka wajar jika guru akhirnya mengajarkan trik, bukan ilmu. Wajar jika siswa akhirnya menghafal, bukan memahami. Wajar jika sekolah akhirnya berhenti mendidik — dan mulai melatih peserta ujian.
Pemerintah butuh data. Perguruan Tinggi butuh penyaringan. Siswa butuh masa depan. Semua itu sah. Tapi sejak kapan satu angka berhak menjadi satu-satunya penentu masa depan manusia?
Sekolah bukan ruang tunggu PTN. Sekolah adalah pendidikan itu sendiri. Tapi kenyataannya? Hari ini, kalau tidak lulus TKA, seolah-olah seluruh pendidikan yang dijalani selama 12 tahun menjadi sia-sia. Itulah kemenangan terbesar ujian — dan kekalahan terbesar pendidikan.
TKA boleh jadi pintu masuk. Tapi jangan biarkan ia menjadi dinding yang menutup seluruh ruang pendidikan. Karena kalau sampai sekolah berhenti mendidik manusia dan hanya sibuk mencetak angka — maka yang kita bangun bukanlah generasi cerdas. Kita sedang membangun mesin ujian. Lucu bukan?
Kita berteriak butuh manusia yang berpikir kritis, tapi sistem yang kita bangun melatih orang untuk memilih jawaban paling tepat dalam waktu tercepat. Kita mengeluh lulusan tak siap kerja, padahal sejak awal kita hanya melatih mereka untuk lulus ujian. Angka memang rapi — tapi manusia itu tidak. (*)
