Tragedi Tapir Jadi Rica-Rica di Lampung: Krisis Konservasi dan Respons Muhammadiyah

Peserta Muhammadiyah Green Movement wilayah Lampung. (ist)
www.majelistabligh.id -

Seekor tapir, satwa langka yang dilindungi oleh undang-undang, berakhir tragis, menjadi korban perburuan liar dan dijadikan hidangan rica-rica oleh sekelompok warga di Register 45,  Kabupaten Mesuji, Lampung.

Ketidaktahuan masyarakat serta menyusutnya habitat asli akibat deforestasi yang masif memaksa satwa endemik ini keluar dari hutan, masuk ke permukiman, dan berakhir di meja makan. Insiden memilukan ini menjadi alarm keras bahwa konflik antara manusia dan satwa liar di Lampung telah berada di titik kritis.

Merespons krisis lingkungan tersebut serta minimnya edukasi masyarakat, Majelis Lingkungan Hidup (MLH) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah bergerak cepat. Lembaga ini menggelar Muhammadiyah Green Movement wilayah Lampung.

Berlangsung selama tiga hari pada 3–5 Juli 2026, gerakan ini menjadi puncak peringatan Hari Lingkungan Hidup yang mengintegrasikan Bimtek Sekolah Adiwiyata, Penanaman Pohon, Sekolah Konservasi, dan Pelatihan Kader Lingkungan.

Kegiatan strategis ini merupakan hasil kolaborasi MLH PP Muhammadiyah dengan Lazismu Pusat melalui Pilar Lingkungannya, serta didukung penuh oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kementerian Kehutanan RI.

Sebagai langkah awal di dunia pendidikan, Bimtek Sekolah Adiwiyata dilaksanakan di Universitas Muhammadiyah Lampung (UML) dengan melibatkan 50 peserta perwakilan sekolah Muhammadiyah se-Lampung untuk menanamkan karakter peduli ekologi sejak dini.

Aksi Nyata dan Edukasi di Akar Rumput

Tak sekadar teori, aksi konkret ditunjukkan melalui penanaman pohon produktif di area kampus UML oleh Sekretaris MLH PP Muhammadiyah Djihadul Mubarok, S.E., M.H., Rektor UML Dr. H. Dalman, M.Pd., perwakilan Dikdasmen & PNF PP Muhammadiyah Sigit Atmojo, M.Pd., serta Ketua MLH PWM Lampung. Penanaman ini ditujukan untuk meminimalisir dampak perubahan iklim sekaligus menghijaukan bumi dari kerusakan.

Melalui Pelatihan Kader Lingkungan (PKL) dan Sekolah Konservasi, Muhammadiyah merangkul MLH PDM se-Provinsi Lampung, Aisyiyah, dan Organisasi Otonom (Ortom). Mereka dibekali materi mitigasi konflik satwa oleh Sapto Adji Prabowo dari Kementerian Kehutanan RI. Pascapelatihan, para kader ini diterjunkan langsung ke masyarakat yang wilayahnya berbatasan dengan hutan.

“Masyarakat tidak bisa disalahkan sepenuhnya jika mereka belum paham. Di sinilah peran krusial edukasi. Kita butuh aksi nyata untuk memberi tahu mereka bahwa menjaga alam dan memelihara keanekaragaman hayati adalah tanggung jawab bersama untuk bertahan hidup,” ujar Sapto Adji Prabowo.

Tiga Pilar Penyelamatan

Selain isu satwa, pelatihan ini juga membedah problem kedaruratan sampah. Fazri Putrantomo dari Kementerian Lingkungan Hidup RI memberikan pembekalan taktis pengelolaan sampah agar kader Muhammadiyah mampu menggerakkan edukasi sampah dari tingkat rumah tangga, ranting, cabang, hingga tingkat provinsi.

Materi Kepemimpinan berwawasan lingkungan (Green Leadership) disampaikan oleh Sekretaris PWM Lampung Drs. Ma’ruf Abidin, M.Si., serta materi Pengelolaan Hutan Lestari yang Berkemajuan oleh Rijal Ramdani, Ph.D., turut melengkapi kompetensi para peserta.

Secara menyeluruh, gerakan penyelamatan lingkungan ini mengintegrasikan tiga konsep utama untuk menciptakan dampak jangka panjang:

  • Sekolah Adiwiyata: Menanamkan karakter peka isu ekologi sejak dini di bangku sekolah agar lahir generasi muda yang peduli lingkungan.
  • Pelatihan Kader Lingkungan: Membentuk agent of change lokal untuk mengawasi, mengedukasi, dan mengadvokasi perlindungan satwa di desa-desa.
  • Sekolah Konservasi: Memberikan pembekalan teknis mengenai pemetaan konflik satwa, teknik mitigasi, serta pemulihan habitat asli tempat satwa bernaung.

Tapir sejatinya adalah penanam pohon alami di hutan melalui biji-bijian yang tersebar dari kotorannya. Ketika rumah mereka menyusut akibat pembukaan lahan, kelestarian hutan pun terancam.

Melalui sinergi multisektor Muhammadiyah Green Movement ini, diharapkan pola pikir masyarakat Lampung dapat bertransformasi total dari pemburu menjadi penjaga, sehingga tidak ada lagi cerita pilu satwa dilindungi yang berakhir tragis di meja makan. || djihadul mubarok

 

Tinggalkan Balasan

Search