Di tengah arus digitalisasi yang kian kencang, lembaga pendidikan nonformal Islam menghadapi
tantangan eksistensial. Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) tidak lagi bisa dikelola dengan manajemen “seadanya”. Muhammadiyah, sebagai pionir gerakan Islam berkemajuan, secara tegas menyerukan transformasi dalam tata kelola TPQ untuk membangun peradaban Qur’ani yang profesional.
Hal ini diungkapkan oleh Afifun Nidlom, S.Ag., M.Pd., M.H., Wakil Sekretaris Majelias Tabligh PWM Jatim, dalam acara “Upgrading dan Penyerahan Kado untuk Guru Ngaji TPQ Muhammadiyah Jawa Timur” yang digekar oleh Divisi Pengelolaan dan Pembinaan TPQ Muhammadiyah, Majelis Tabligh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur bersinergi dengan LAZISMU Kantor Perwakilan (KP) Jawa Timur, Sabtu (25/4/2026).
Afifun Nidlom menegaskan bahwa dalam blueprint Transformasi TPQ Muhammadiyah, era “manajemen insting” harus berakhir. “Dedikasi mengajar Al-Qur’an adalah ibadah tertinggi, namun keikhlasan tanpa tata kelola modern hanya akan menghasilkan institusi yang rapuh dan tidak berkelanjutan,” tegasnya.
Transformasi ini sejalan dengan arah kebijakan nasional. Berdasarkan data terbaru dari Kementerian Agama RI (2024-2025), TPQ mendominasi lebih dari 90% dari seluruh Lembaga Pendidikan Al-Qur’an (LPQ) di Indonesia. Namun tantangan besar muncul pada aspek kualitas.
Langkah Muhammadiyah melakukan standarisasi internal menjadi sangat krusial agar TPQ-TPQ di bawah naungannya tidak hanya unggul secara kuantitas, tetapi juga menjadi barometer kualitas pendidikan Islam nasional.
Transformasi ini bukan sekadar pergantian istilah, melainkan perombakan total pada empat pilar utama:
- Standarisasi SDM Penggerak: Ustadz dan Ustadzah bukan lagi sekadar “relawan pengisi waktu luang”. Muhammadiyah menetapkan syarat kompetensi pedagogi, sertifikasi metode cepat baca Al-Qur’an, dan integritas tinggi. Hal ini didukung oleh temuan riset pendidikan tahun 2024 yang menunjukkan bahwa manajemen organisasi yang profesional di lembaga pendidikan Al-Qur’an berkorelasi langsung terhadap peningkatan jumlah dan kualitas santri secara signifikan.
- Kurikulum Berjenjang (Sistem Klasikal & Privat): Muhammadiyah mengadopsi sistem hybrid. Secara Klasikal, santri dibentuk karakternya (Adab dan Akhlakul Karimah). Secara Privat, santri mendapatkan evaluasi personal yang ketat mulai dari Tingkat Awal hingga Tingkat Mahir (Juz 30).
- Administrasi Digital & Transparansi: Sistem POAC (Planning, Organizing, Actuating, Controlling) diterapkan secara kaku. Setiap sen dana umat harus dilaporkan secara transparan. Pengarsipan data santri kini diarahkan berbasis data digital untuk memastikan keberlanjutan pendidikan mereka.
- Ekosistem Tripartit: Pendidikan Al-Qur’an bukan tanggung jawab tunggal ustaz atau ustazah. Keberhasilan santri bergantung pada sinergi antara TPQ, Santri, dan Wali Santri. Peran orang tua dalam menyimak tadarus harian di rumah menjadi kunci utama daya tahan hafalan anak.
Membentuk “Muslim Utuh” di Era Modern
Tujuan akhir dari transformasi ini adalah mencetak profil santri yang utuh, mulai dari Fasih membaca, lancar menulis, rapi menghafal, benar dalam praktek ibadah, dan mulia secara akhlak.
Dengan Indeks Kesalehan Umat Beragama (IKsUB) nasional yang diproyeksikan terus meningkat hingga 2025, TPQ Muhammadiyah memposisikan diri sebagai institusi vital yang menjamin bahwa “Saleh” bukan sekadar label, melainkan karakter yang dibangun di atas fondasi manajemen yang kuat.
Transformasi ini adalah janji Muhammadiyah kepada umat. Mulai hari ini, setiap TPQ Muhammadiyah diinstruksikan untuk mengevaluasi struktur organisasi dan menyelaraskan diri dengan standar tata kelola modern.
“Merapikan barisan manajemen adalah bagian dari ibadah. Saatnya TPQ Muhammadiyah menjadi pusat keunggulan peradaban Islam di masa depan,” tandasnya. || chusnun
