Tunanetra Madrasah Qori’mu Lantunkan Al-Qur’an Braille di Hadapan Angelina Sondakh

Muhammad Raditya Rahman (baju kotak-kotak), murid tunanetra sedang membacakan al Qur'an Braille. (ist)
www.majelistabligh.id -

Suasana haru menyelimuti Masjid Syuhada Kompleks Pendidikan Muhammadiyah Wonokromo Surabaya, Sabtu (18/7/2026). Di hadapan ratusan jamaah yang mengikuti Safari Dakwah bertema “Saat Ikhtiar Menjadi Ibadah dan Lelah Menjadi Cinta Allah”, seorang santri tunanetra tampil percaya diri melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an menggunakan Al-Qur’an Braille.

Santri tersebut adalah Muhammad Raditya Rahman, murid Madrasah Qori’mu Masjid Syuhada Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Wonokromo. Dengan suara yang merdu dan tartil, Raditya membacakan QS. Ali ‘Imran ayat 144–145, mengundang kekaguman sekaligus rasa haru dari seluruh jamaah, termasuk artis sekaligus daiyah Angelina Sondakh yang hadir sebagai pembicara utama dalam Safari Dakwah tersebut.

Penampilan Raditya menjadi salah satu momen paling berkesan dalam kegiatan yang terselenggara atas kerja sama PCM Wonokromo dengan Yayasan Daarud Dakwah Lombok.

Di balik penampilan yang memukau itu, Raditya merupakan salah satu dari 25 santri difabel yang belajar membaca dan menghafal Al-Qur’an di Madrasah Qori’mu di bawah bimbingan Ustadz H. Muhammad Barid, S.Ag., M.Pd. Melalui pembelajaran berbasis Al-Qur’an Braille, para santri tunanetra memperoleh kesempatan yang sama untuk menjadi generasi Qur’ani yang berprestasi.

Ketua PCM Wonokromo, Ir. H. Lukman Rahim, mengatakan bahwa penampilan santri tunanetra dalam forum dakwah tersebut bukan sekadar pengisi acara, melainkan bagian dari komitmen Muhammadiyah menghadirkan pendidikan Al-Qur’an yang inklusif bagi semua kalangan.

“Kami ingin menunjukkan bahwa pendidikan Al-Qur’an adalah hak semua orang, termasuk saudara-saudara kita penyandang disabilitas. Karena itu, hari ini kami sengaja menghadirkan santri tunanetra yang belajar menggunakan Al-Qur’an Braille sebagai bukti bahwa Muhammadiyah terus mengembangkan dakwah dan pendidikan Al-Qur’an yang inklusif,” ujarnya.

Lukman menjelaskan bahwa pembinaan santri difabel di Madrasah Qori’mu terus berkembang. Saat ini, para santri tidak hanya belajar membaca Al-Qur’an, tetapi juga dipersiapkan mengikuti berbagai ajang Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ).

Menurutnya, beberapa santri Madrasah Qori’mu akan mengikuti cabang MTQ pada Festival Anak Sholeh Muhammadiyah (FASHMU) se-Jawa Timur di Universitas Muhammadiyah Lamongan (UMLA) pekan depan mewakili Muhammadiyah Kota Surabaya dan kini tengah dipersiapkan menghadapi MTQ tingkat Provinsi Jawa Timur.

“Kami berharap lahir qari dan qariah penyandang disabilitas yang mampu mengharumkan Muhammadiyah dan menjadi inspirasi bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk mencintai Al-Qur’an,” tambahnya.

Sementara itu, Ustadz H. Muhammad Barid, S.Ag., M.Pd., selaku pengasuh Madrasah Qori’mu, menuturkan bahwa proses pembelajaran Al-Qur’an Braille membutuhkan kesabaran, ketekunan, dan pendampingan yang berkelanjutan. Namun, semangat para santri menjadi energi tersendiri bagi para pembimbing.

Ia menjelaskan bahwa kemampuan Raditya membaca Al-Qur’an di hadapan publik merupakan hasil dari latihan yang konsisten dan pembinaan yang dilakukan secara intensif.

Safari Dakwah tersebut dihadiri ratusan guru dan tenaga kependidikan SD Muhammadiyah 6 Gadung Surabaya, SD Muhammadiyah 7 Surabaya, SMP Muhammadiyah 4 Surabaya, SMA Muhammadiyah 3 Surabaya, guru-guru TK Aisyiyah 2, 9, dan 16 Surabaya, jajaran PCM Wonokromo, Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah Wonokromo, para simpatisan Muhammadiyah, serta masyarakat sekitar.

Melalui kegiatan ini, PCM Wonokromo tidak hanya menghadirkan kajian keislaman yang menguatkan spiritualitas jamaah, tetapi juga memperlihatkan bahwa dakwah Muhammadiyah senantiasa berpihak pada kelompok rentan melalui pendidikan Al-Qur’an yang inklusif, berkeadilan, dan memberdayakan.

Penampilan Muhammad Raditya Rahman menjadi pesan yang kuat bagi seluruh jamaah: Al-Qur’an tidak mengenal keterbatasan. Yang dibutuhkan hanyalah kesempatan, pendampingan, dan keikhlasan untuk terus belajar. || Munahar

Tinggalkan Balasan

Search