Semangat pembinaan generasi muda Muhammadiyah kembali terlihat dalam pelaksanaan Ujian Kenaikan Tingkat (UKT) Tapak Suci Putera Muhammadiyah Cabang 04 Sangkulirang, Kabupaten Kutai Timur, Jumat-Sabtu, 1–2 Mei 2026. Kegiatan yang berlangsung di Pondok Pesantren At Tanwir, Jalan Projasam KM 8 Penyolongan, Desa Benua Baru Ilir, Sangkulirang ini, menjadi bagian dari proses pembinaan kader untuk meningkatkan kualitas kemampuan bela diri sekaligus memperkuat akhlak para pesilat.
Sebanyak 31 peserta ambil bagian dalam UKT kali ini. Mereka terdiri atas 21 peserta dari Tapak Suci Cabang 04 Sangkulirang dan 10 peserta dari Cabang 05 Kaubun, Mereka mengikuti ujian menuju tingkat Melati I. Selain peserta, kegiatan juga didukung oleh 10 orang pelatih dan panitia.
Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Sangkulirang, Ustadz Hasyim Abdullah, dalam sambutannya menegaskan bahwa Tapak Suci bukan sekadar perguruan pencak silat, tetapi sebagai wahana pembentukan karakter Islami.
“Anak-anakku sekalian jadilah pesilat yang kuat fisik dan rohani sehingga mampu meraih prestasi dunia akhirat,” ujarnya di hadapan peserta.

Ia juga menekankan bahwa pesilat Muhammadiyah harus memiliki visi global. “Tapak Suci telah mendunia, terdapat 37 negara yang sudah berdiri cabang Tapak Suci. Maka kuasai bahasa internasional agar ke depan bisa menjadi pelatih di mancanegara untuk memajukan silat Tapak Suci sekaligus berdakwah Muhammadiyah secara global,” katanya.
Kegiatan UKT berlangsung dalam suasana tertib dan penuh semangat. Para peserta menjalani serangkaian materi ujian yang meliputi teknik dasar, jurus, ketahanan fisik, penguatan mental, hingga evaluasi pemahaman nilai-nilai keislaman dan kemuhammadiyahan.
Ketua Cabang 04 Tapak Suci Sangkulirang, Suhaimi, S.IP, menjelaskan bahwa UKT merupakan tahapan penting dalam proses kaderisasi. Kenaikan tingkat bukan sekadar formalitas, melainkan bukti bahwa peserta telah memenuhi standar kemampuan teknis dan akhlak. Setiap peserta dituntut menunjukkan disiplin, kesungguhan latihan, dan integritas pribadi.
Sementara itu, Ketua Pimda 223 Tapak Suci Putera Muhammadiyah Kabupaten Kutai Timur, M. Nurhadi, S.E, mengapresiasi pelaksanaan kegiatan tersebut. Ia menilai Cabang 04 Sangkulirang konsisten menjalankan pembinaan dan mampu menjadi contoh bagi cabang lain di Kutai Timur.
Pelaksanaan UKT di lingkungan pesantren dinilai sangat strategis karena mendukung pembinaan spiritual peserta. Nuansa religius di Pondok Pesantren At Tanwir memberikan atmosfer berbeda sehingga peserta tidak hanya diuji kemampuan fisik, tetapi juga kedisiplinan spiritual.
Kegiatan ini sekaligus menjadi bukti bahwa Tapak Suci terus beradaptasi dengan kebutuhan zaman. Di tengah tantangan modernisasi, organisasi ini tetap berupaya menjaga tradisi pencak silat sebagai warisan budaya bangsa sekaligus alat dakwah Muhammadiyah.
Melalui kegiatan ini, diharapkan lahir kader-kader pesilat yang tangguh, berprestasi, serta mampu menjadi teladan di tengah masyarakat.
Dengan mengusung semangat “Dengan iman dan akhlak saya menjadi kuat, tanpa iman dan akhlak saya menjadi lemah”, UKT Tapak Suci Sangkulirang diharapkan menjadi momentum penting dalam membangun generasi muda yang kuat secara jasmani, matang secara mental, dan kokoh dalam nilai keislaman. (ay.1/tim)
