Di tengah suasana haru wisuda, tepuk tangan dan senyum para lulusan, nama I Wayan Amerta Yoga mendapat perhatian tersendiri. Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Palu itu berdiri mewakili mahasiswa untuk menyampaikan testimoni saat wisuda, Selasa (15/9/2026).
Ia bukan hanya bercerita tentang perjuangan menyelesaikan kuliah, tetapi juga tentang sebuah perjalanan yang pada awalnya diselimuti keraguan: bagaimana seorang mahasiswa beragama Hindu memilih menuntut ilmu di kampus Muhammadiyah.
Keraguan itu ternyata bukan hanya datang dari dalam dirinya.
Ketika pertama kali memutuskan kuliah di Universitas Muhammadiyah Palu, Amerta sempat mendapat pertanyaan dari teman-temannya. “Kamu yakin? Hindu kuliah di kampus Muhammadiyah?” Pertanyaan sederhana itu sempat membuatnya berpikir.
Namun, ia kemudian meyakinkan dirinya bahwa pilihan kampus bukan semata-mata soal identitas lembaga, melainkan tentang tempat untuk mencari ilmu, membangun karakter, dan mengasah nalar. Dengan keyakinan itu, Amerta melangkah dan memulai perjalanannya sebagai mahasiswa Fakultas Hukum.
Hari-hari berikutnya justru memberikan pengalaman yang berbeda dari kekhawatiran yang sempat ia bayangkan. Di lingkungan kampus, Amerta menemukan teman-teman yang memberinya ruang untuk bergaul, berdiskusi dan belajar tanpa harus merasa berbeda.
Ia dapat menjalani kehidupan akademiknya sebagai mahasiswa Hindu sekaligus menjadi bagian dari komunitas kampus Muhammadiyah. Perbedaan keyakinan tidak membuatnya merasa harus menjaga jarak. Sebaliknya, perbedaan itu menjadi pengalaman yang memperkaya perjalanan kuliahnya.
Salah satu pengalaman yang kemudian melekat adalah keterlibatannya dalam kegiatan kajian Al-Islam dan Kemuhammadiyahan. Sebagai mahasiswa Hindu, Amerta mengikuti ruang pembelajaran tersebut dengan sikap terbuka. Pengalaman itu mempertemukannya dengan pengetahuan dan perspektif yang mungkin tidak ia dapatkan di tempat lain. Di sanalah batas-batas perbedaan terasa lebih cair: orang-orang dengan keyakinan berbeda bisa duduk bersama, mendengarkan, bertanya, berdiskusi, dan saling menghargai.
Dari perjalanan itulah muncul sebuah panggilan yang cukup unik: “Si Hindu Muhammadiyah.” Julukan itu menjadi bagian dari cerita Amerta selama menjadi mahasiswa. Ketika ia menyampaikan pengalaman tersebut di hadapan peserta wisuda, suasana pun riuh oleh sambutan. Ada tawa, ada tepuk tangan, tetapi di balik itu tersimpan kisah tentang seorang anak muda yang pernah ditanya apakah dirinya yakin kuliah di kampus Muhammadiyah dan akhirnya menjawab pertanyaan itu dengan perjalanan nyata hingga sampai di panggung wisuda.
Bagi Amerta, kampus pada akhirnya bukan hanya tentang gedung, almamater, atau nama sebuah organisasi. Kampus adalah tempat manusia bertemu dengan manusia lain, membawa keyakinan, latar belakang dan pengalaman masing-masing, lalu belajar untuk tumbuh bersama. Menutup testimoninya, Amerta menyampaikan ungkapan penuh penghargaan kepada almamater yang telah menjadi bagian penting dalam perjalanan pendidikannya.
“Terima kasih Muhammadiyah telah memberikan cahaya dan pencerahan,”ujarnya, disambut tepuk tangan hadirin. Kalimat itu menjadi penutup perjalanan Amerta—seorang mahasiswa Hindu yang datang dengan keraguan, kemudian menemukan ruang untuk belajar, bertumbuh, dan akhirnya berdiri sebagai wisudawan di kampus Muhammadiyah.(m roissudin)
