Menag: Pancasila dan Piagam Madinah Jadi Kunci Pengelolaan Keberagaman

Menag Nasaruddin Umar
www.majelistabligh.id -

Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan posisi Indonesia sebagai model dunia dalam pengelolaan keberagaman. Menurutnya, keselarasan nilai-nilai Pancasila dan Piagam Madinah menjadi kunci sukses Indonesia merawat toleransi di tengah kemajemukan bangsa.

Hal tersebut disampaikan Menag saat memberikan sambutan secara virtual pada forum The 39th Edition of the Annual International Conference on Biography and Support of the Prophet SAW di Nouakchott, Mauritania, Senin (14/9/2026).

“Piagam Madinah adalah bukti otentik pertama dalam sejarah peradaban manusia modern bagaimana keberagaman suku, ras, dan agama dapat dikelola dalam satu payung kewargaan bersama. Hak-hak minoritas dilindungi, kebebasan beragama dihormati, dan komitmen membela tanah air ditegakkan bersama,” ujar Menag.

Ia menjelaskan bahwa bentangan etnis, bahasa, dan agama di lebih dari 17.000 pulau Indonesia bukanlah ancaman disintegrasi, melainkan anugerah yang dipersatukan oleh semangat Bhinneka Tunggal Ika.

Di tengah tantangan global dan modernisasi, kunci keutuhan multikulturalisme Indonesia terletak pada titik temu nilai kenabian dan konsensus bernegara (Pancasila serta UUD 1945).

Menag memaparkan tiga titik temu utama tersebut:

  • Tauhid Sosial dan Kemanusiaan: Sila pertama Pancasila sejalan dengan prinsip Al-Qur’an la ikraha fiddin (tidak ada paksaan dalam agama).
  • Tradisi Musyawarah: Budaya mufakat dalam menyelesaikan setiap persoalan bangsa.
  • Keadilan Sosial: Semangat yang mencerminkan Piagam Madinah tanpa diskriminasi mayoritas maupun minoritas.

“Seluruh elemen bangsa memiliki hak dan kewajiban yang setara di hadapan hukum,” tegasnya.

Selain isu toleransi, Menag mengajak para peserta konferensi memperkuat kolaborasi kemanusiaan untuk mengatasi krisis global, seperti perubahan iklim, kemiskinan ekstrem, hingga krisis pangan. Ia juga menyoroti penderitaan rakyat Palestina yang menjadi duka mendalam bagi umat Islam dunia.

Menag menutup sambutannya dengan mengajak seluruh delegasi meneladani akhlak Rasulullah saw untuk memperkuat ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah insaniyah secara global.

Konferensi internasional bertema “The Prophetic Guidance on Managing Diversity and Difference and Strengthening Common Grounds” ini dibuka oleh Presiden Mauritania Mohamed Ould Cheikh Ahmed Ould Ghazouani, serta dihadiri para ulama dan delegasi dari berbagai negara. Menag menyampaikan permohonan maaf karena tak bisa hadir langsung di Mauritania akibat tugas kenegaraan yang tidak dapat ditinggalkan di Jakarta. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search