Zulhijah kembali datang. Bagi sebagian orang, ini adalah bulan kegembiraan. Namun, bagi sebagian lainnya, ini adalah bulan dengan kerinduan yang paling sesak.
Ada air mata yang tumpah melihat koper yang belum bisa dikemas. Ada doa yang gemetar melihat Kakbah dari balik layar kaca. Merasa seolah dirinya adalah hamba yang belum diundang.
Teringat kisah Nabi Ibrahim yang harus meninggalkan Hajar dan bayinya di lembah sunyi. Perpisahan itu pedih, tapi Ibrahim tahu, “Cinta kepada Allah harus melampaui cinta kepada manusia.”
Mungkin Zulhijah-mu tahun ini bukan tentang perjalanan fisik ke Makkah, tapi tentang perjalanan hati. Belajar ikhlas saat keinginan belum dikabulkan. Belajar sabar saat ujian datang bertubi-tubi.
Karena kurban bukan hanya soal menyembelih hewan, tapi menyembelih ego dan rasa kecewa di hadapan-Nya. Sabarlah, namamu sudah tertulis di langit.
Barakallahu fiikum.
