2.199 Dai Terjun ke Wilayah 3T, Perkuat Iman dan Kehidupan Sosial

www.majelistabligh.id -

Program pengiriman pendakwah (dai) ke wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) terus menunjukkan tren positif. Pada tahun 2026, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama mencatat pencapaian yang signifikan dengan mengirimkan 2.199 dai ke seluruh penjuru negeri, melampaui target awal sebanyak 1.500 orang.

Direktur Penerangan Agama Islam, Muchlis M. Hanafi, menyampaikan apresiasinya dalam acara Apresiasi Mitra Program Dai Wilayah 3T di Jakarta. Ia menegaskan bahwa keberhasilan ini merupakan bukti nyata komitmen negara dalam memeratakan akses bimbingan keagamaan.

“Alhamdulillah, tahun ini realisasi pengiriman dai mencapai 2.199 orang. Ini melampaui target kita yang semula berada di angka 1.500. Dakwah tidak boleh hanya berpusat di perkotaan, tapi harus menyentuh seluruh lapisan masyarakat hingga pelosok terdalam,” ujar Muchlis.

Program ini bukan sekadar rutinitas pengiriman tenaga pengajar agama. Muchlis menjelaskan bahwa pengiriman dai ke wilayah 3T adalah langkah strategis untuk memperkuat nilai toleransi dan kehidupan sosial masyarakat. Masih banyak ditemukan warga di pelosok yang membutuhkan bimbingan dasar, seperti kemampuan membaca Al-Qur’an dan praktik ibadah harian.

Lebih jauh, para dai juga dibekali misi untuk merespons isu-isu sosial yang krusial di daerah, di antaranya:

  • Ketahanan Keluarga: Memperkuat pondasi rumah tangga di tengah tantangan zaman.
  • Pengentasan Kemiskinan: Memberikan motivasi serta edukasi pemberdayaan ekonomi.
  • Budaya Hemat: Mengedukasi masyarakat terkait isu pemborosan makanan (food waste).

Keberhasilan program ini tidak lepas dari sinergi kuat antara Kemenag, BAZNAS, dan berbagai Lembaga Amil Zakat (LAZ). Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf, Waryono, menekankan bahwa kolaborasi ini adalah kunci pembangunan masyarakat di daerah dengan akses terbatas.

“Kami berterima kasih kepada seluruh lembaga mitra. Dukungan ini tidak hanya mengalir ke sektor bimbingan masyarakat, tetapi juga menyentuh sektor pendidikan melalui program beasiswa dan peningkatan SDM,” kata Waryono.

Waryono menambahkan bahwa tantangan di wilayah 3T masih sangat besar, mulai dari keterbatasan akses layanan dasar hingga fasilitas kesehatan. Ia berharap kolaborasi lintas sektor ini terus diperkuat di masa mendatang.

“Laporan dari lapangan menunjukkan bahwa membangun Indonesia butuh kerja bersama. Sinergi antara pemerintah, lembaga filantropi, dan organisasi keagamaan adalah fondasi penting bagi pembangunan yang merata,” pungkasnya. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search