Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) kembali menorehkan jejak penting dalam perjalanan literasi nasional melalui peluncuran buku bunga rampai berjudul “64 Tahun Perpusnas: Menyemai Harapan, Membangun Literasi Indonesia.” Buku ini hadir sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun ke-46 Perpusnas yang mengusung tema besar “Merawat Pustaka, Memartabatkan Bangsa.”
Kehadiran buku tersebut tidak hanya menjadi dokumentasi perjalanan lembaga, tetapi juga refleksi pemikiran kolektif insan perpustakaan dalam memandang masa depan literasi Indonesia.
Peluncuran buku ini menjadi simbol bahwa Perpusnas tidak berhenti pada fungsi konvensional sebagai tempat penyimpanan koleksi pustaka dan warisan intelektual bangsa. Di tengah perubahan zaman yang ditandai derasnya arus informasi dan perkembangan teknologi digital, Perpusnas menegaskan kembali perannya sebagai institusi yang aktif membangun masyarakat literat, kreatif, dan berdaya saing.
Kepala Perpusnas, E. Aminudin Aziz, dalam peringatan HUT ke-46 menyampaikan bahwa perjalanan panjang Perpusnas selama puluhan tahun bukan sekadar perjalanan administratif sebuah lembaga negara. Menurutnya, Perpusnas hadir sebagai institusi yang terus memperjuangkan martabat bangsa melalui penguatan literasi masyarakat.
Ia menegaskan bahwa perpustakaan bukan hanya ruang penyimpanan buku, majalah, maupun arsip sejarah bangsa, melainkan ruang peradaban yang membentuk kualitas manusia Indonesia.
Pernyataan tersebut mempertegas transformasi paradigma perpustakaan modern. Perpustakaan masa kini tidak lagi dipandang sebagai tempat sunyi penuh rak buku, melainkan wahana pengembangan kreativitas, pusat pembelajaran sepanjang hayat, laboratorium ide, hingga ruang kolaborasi sosial. Perpusnas ingin menunjukkan bahwa literasi bukan aktivitas pasif membaca, tetapi proses aktif membangun kemampuan berpikir dan menciptakan inovasi.
Buku “64 Tahun Perpusnas: Menyemai Harapan, Membangun Literasi Indonesia” lahir dari semangat tersebut. Buku ini merupakan bunga rampai yang menghimpun berbagai gagasan, refleksi, pengalaman lapangan, kritik konstruktif, serta harapan mengenai masa depan perpustakaan Indonesia. Setiap tulisan menjadi cermin perjalanan literasi bangsa sekaligus menawarkan arah transformasi baru bagi Perpusnas di masa mendatang.
Isi buku menghadirkan beragam perspektif mengenai isu-isu strategis perpustakaan modern. Mulai dari transformasi layanan informasi, konservasi manuskrip dan warisan budaya, penguatan identitas kebangsaan melalui literasi, tantangan digitalisasi, birokrasi perpustakaan, hingga pengembangan inovasi berbasis pengetahuan. Keragaman tema ini menunjukkan bahwa literasi tidak berdiri sendiri, tetapi terhubung dengan pendidikan, kebudayaan, teknologi, bahkan pembangunan nasional.
Salah satu gagasan menarik dalam bunga rampai tersebut ialah pentingnya menjaga keseimbangan antara birokrasi dan nilai-nilai kepustakawanan. Tulisan “Menjelaskan Kerja Literasi di Tengah Bibliokrasi” mengangkat refleksi mengenai bagaimana insan perpustakaan perlu tetap memegang ruh kepustakawanan di tengah tuntutan administrasi modern. Literasi dipandang bukan sekadar pekerjaan teknis, tetapi pengabdian intelektual untuk masyarakat.
Selain itu, buku ini juga menghadirkan refleksi mengenai konservasi warisan bangsa melalui tulisan “Menyelamatkan Ingatan dari Kata yang Memakan Kertas.” Tulisan tersebut membahas upaya penyelamatan naskah Babad Diponegoro yang menghadapi ancaman kerusakan akibat korosi tinta besi. Pembahasan ini menunjukkan bahwa merawat pustaka berarti merawat ingatan kolektif bangsa agar tidak hilang dimakan zaman.
Tema nasionalisme dan literasi kebangsaan juga mendapat ruang penting melalui tulisan“Roh Proklamator dalam Perpusnas RI.”Tulisan tersebut menegaskan bahwa Perpusnas bukan sekadar institusi pengelola buku, tetapi penjaga memori kebangsaan yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan Indonesia melalui literasi.
Buku ini menjadi semakin istimewa karena disusun secara kolaboratif oleh puluhan kontributor dari berbagai bidang. Para penulis yang terlibat antara lain Muhammad Fadhil Sulaiman, Muhammad Hafiz Furqon, Nashrul Mu’minin, Nina Kristiana, Niswa Nabila Sri Bintang Alam, Nova Sasmitha Sary, Perwitasari R., Renda Khris Ardhi Artha, Rudianto, Siti Fatimatuz Zahra, Siti Rif’atussa’adah Sitorus Pane, Siti Robiah, Sri Handayani, Suhartoyo, Syah Irza Raya, Syahrul, Taufiq A. Gani, Wiratna Tritawirasta, Yaya Ofia Mabruri, Zaki Fathurohman, Zulbahri, Adji Wiandjono, Alditta Khoirun Nisa, Annisa Ekananda, Antariksa Akhmadi, Aris Riyadi, Budi Kastowo, Destiya P. Prabowo, Dian Novita Fitriani, Dian Utami, Dio Eka Prayitno, Dwi Ariyansyah, Edi Herwanto, Eka Meifrina Suminarsih, Eka Urwanto, Elsa Tuasamu, Engga Putra Pratama, Eogenie Lakilaki, Imas Halimatun Sadiah, Irsyad Qori’in, Kelik Fauzie Christanto, M. Rinaldo Marajari, hingga M. Ansyari Tantawi Nasution.*
Keberagaman latar belakang penulis menunjukkan bahwa literasi merupakan gerakan kolektif. Perpustakaan tidak dibangun oleh satu individu, melainkan oleh jejaring pemikir, penulis, pustakawan, akademisi, dan pegiat literasi yang bersama-sama menyemai pengetahuan bagi masyarakat.
Dalam proses penyusunannya, buku ini juga didukung tim penyunting yang terdiri atas M. Ansyari Tantawi Nasution, Mohamad Iksan Fauzi, Zaki Fathurohman, Muhammad Hafiz Furqon, Annisa Ekananda, serta Dyah Rachmawati. Kehadiran tim penyunting memperlihatkan keseriusan Perpusnas menjaga kualitas intelektual sekaligus alur narasi buku agar tetap utuh dan relevan.
Sementara itu, aspek visual dan tata letak dipercayakan kepada M. Ansyari Tantawi Nasution, Novi Prasetyo Utami, dan Sandi Regicnaldi. Peran desain menjadi penting karena buku ini tidak hanya menyampaikan gagasan, tetapi juga ingin menghadirkan pengalaman membaca yang nyaman dan menarik.
Peluncuran buku ini bertepatan dengan berbagai rangkaian kegiatan HUT Perpusnas seperti Literacy Run, webinar nasional, kegiatan sosial, hingga peluncuran karya-karya literasi lainnya. Kehadiran kegiatan tersebut menunjukkan bahwa perpustakaan telah menjadi bagian hidup masyarakat, bukan lagi institusi yang berdiri jauh dari publik.
Dalam pidatonya, E. Aminudin Aziz menegaskan bahwa literasi adalah fondasi kemajuan bangsa. Tidak ada negara maju yang lahir dari masyarakat dengan tingkat literasi rendah. Karena itu, perpustakaan harus menjadi motor pembangunan manusia Indonesia melalui peningkatan akses pengetahuan dan penguatan budaya baca.
Pernyataan tersebut sejalan dengan amanat konstitusi dalam Pembukaan UUD 1945 mengenai tujuan negara untuk “mencerdaskan kehidupan bangsa.” Dalam konteks inilah Perpusnas mengambil peran strategis sebagai infrastruktur intelektual negara yang memastikan masyarakat memiliki akses terhadap informasi, pengetahuan, dan warisan budaya.
Buku “64 Tahun Perpusnas: Menyemai Harapan, Membangun Literasi Indonesia” pada akhirnya tidak hanya menjadi dokumentasi ulang tahun lembaga. Buku ini adalah refleksi perjalanan panjang, ruang dialog gagasan, sekaligus peta jalan menuju masa depan literasi Indonesia yang lebih inklusif dan adaptif.
Melalui halaman-halamannya, pembaca diajak memahami bahwa perpustakaan bukan sekadar bangunan berisi buku. Ia adalah ruang lahirnya peradaban, tempat ide bertumbuh, serta jembatan antara generasi masa lalu dan generasi masa depan.
Perjalanan panjang Perpusnas selama puluhan tahun membuktikan bahwa membangun bangsa tidak hanya dilakukan melalui pembangunan fisik. Bangsa juga dibangun melalui pengetahuan, literasi, dan kemampuan berpikir masyarakatnya. Di sinilah perpustakaan mengambil peran penting sebagai penjaga cahaya peradaban.
Melalui peluncuran buku ini, Perpusnas kembali menegaskan komitmennya untuk terus *menyemai harapan dan membangun literasi Indonesia. Sebab sebagaimana disampaikan dalam peringatan HUT tersebut, tidak mungkin ada negara beradab tanpa perpustakaan, dan bangsa yang besar adalah bangsa yang memuliakan pengetahuan serta pustakanya.*
Kawan Kawan bisa membaca mengakses melalui link; https://press.perpusnas.go.id/ProdukDetail.aspx?id=1634
