Abdul Mu’ti: Mengapa Muhammadiyah Berbeda?

Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Abdul Mu’ti.
www.majelistabligh.id -

Di tengah menguatnya pandangan positif publik terhadap Muhammadiyah, muncul satu pertanyaan mendasar: apa yang membuat organisasi Islam ini mampu bertahan lebih dari satu abad, terus relevan mengikuti zaman, hingga merambah mancanegara?

Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa keunggulan Muhammadiyah tidak sekadar terletak pada struktur kepemimpinan yang solid, besarnya jumlah anggota, atau banyaknya amal usaha. Kuncinya berada pada cara pandang dan pola pikir dalam memahami serta mengamalkan agama.

“Perbedaannya ada pada mindset, pola pikir, dan worldview Muhammadiyah,” ujar Mu’ti dalam acara Hari Bermuhammadiyah di Kampus Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Sabtu (5/9/2026).

Mu’ti menjelaskan, kerangka berpikir tersebut dirumuskan ke dalam paham keagamaan yang dikenal sebagai Manhaj Muhammadiyah. Manhaj ini bukan cuma metode memahami teks agama, melainkan pedoman hidup yang memengaruhi tindakan nyata para kadernya.

“Karena manhaj-nya berbeda, otomatis pengamalan beragama dan aktivitas sosialnya juga berbeda dari yang lain,” jelasnya.

Mengutip Surah Al-Ra’d ayat 11, Mu’ti menekankan bahwa pola pikir berperan penting dalam membentuk kepribadian seseorang. Kepribadian tersebut tidak lahir di ruang hampa, melainkan ditempa oleh cara pandang terhadap diri sendiri dan lingkungan.

“Perilaku individual kita sebut akhlak, perilaku kolektif kita sebut kebudayaan, dan kebudayaan yang unggul adalah peradaban,” kata Mu’ti.

Menurutnya, alasan “Mengapa Muhammadiyah Berbeda” tidak bisa dijawab hanya dengan menunjuk deretan sekolah, rumah sakit, perguruan tinggi, atau masjid yang berhasil dikelola. Semua capaian fisik itu merupakan buah dari mindset kader yang ditransformasikan menjadi akhlak individu dan kebudayaan kolektif.

Kepemimpinan Berbasis Trust

Di akhir pemaparannya, Mu’ti mengajak seluruh warga persyarikatan untuk terus merawat pola pikir kemuhammadiyahan. Ia optimistis Muhammadiyah akan terus berkembang dan mendapat tempat di hati masyarakat karena memegang teguh prinsip kepercayaaan (trust).

“Di organisasi lain mungkin ada pimpinan yang dipilih berdasarkan trah, sedangkan di Muhammadiyah kepemimpinan dipilih berdasarkan trust,” tegasnya.

Bagi Muhammadiyah, kepercayaan adalah modal utama. Jabatan kepemimpinan tidak diwariskan secara turun-temurun, melainkan diamanahkan kepada sosok yang dipercaya mampu membawa organisasi memberikan manfaat nyata bagi peradaban dunia. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search