Istilah “anak nakal” sering kali dilontarkan untuk menggambarkan perilaku anak yang sulit diatur atau melanggar aturan. Hal ini sejalan dengan pengertian nakal menurut KBBI, yaitu suka berbuat kurang baik (seperti tidak menurut atau mengganggu, terutama bagi anak-anak) atau buruk kelakuannya.
Namun dalam psikologi, label ini tidaklah sesederhana itu. Dari sudut pandang psikologi, perilaku yang dianggap “nakal” sering kali merupakan respons terhadap kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi atau akibat ketidakmampuan anak dalam mengelola emosi.
Dalam pembahasan ini, merujuk pada judul di atas, anak nakal yang dimaksud adalah versi KBBI, yakni anak yang suka berbuat kurang baik, melanggar aturan, dan berkelakuan buruk.
Apabila kita disodori pertanyaan: jika ada anak nakal, siapa yang salah? Apakah salah anak, orang tua, guru/sekolah, Dinas Pendidikan, atau kurikulumnya?
Tentu saja kita tidak dapat menghakimi secara sepihak, karena masalah ini tidak terlepas dari berbagai faktor. Penulis menduga bahwa perilaku anak nakal merupakan hubungan sebab-akibat. Anak nakal adalah akibat, bukan sebab.
Beberapa penyebabnya antara lain:
- Pola asuh yang kurang tepat: Aturan yang terlalu keras (otoriter), terlalu bebas (permisif), atau tidak konsisten membuat anak bingung dan cenderung memberontak.
- Mencari perhatian: Anak sering membuat ulah karena merasa kurang mendapat waktu atau perhatian dari orang tua.
- Emosi yang belum matang: Ketidakmampuan anak dalam mengelola emosi membuat mereka bingung menyalurkan rasa lapar, lelah, bosan, atau frustrasi.
- Tahap perkembangan emosi: Anak sedang belajar mandiri dan ingin menguji batasan aturan di sekitarnya.
Amanah dan Ujian
Dalam pandangan Islam, anak yang “nakal” atau susah diatur bukanlah berwatak buruk sejak lahir, melainkan titipan sekaligus ujian (fitnah) bagi orang tuanya. Sebagaimana firman Allah Swt. dalam QS. Al-Anfal ayat 28 yang artinya:
“Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu hanyalah sebagai cobaan, dan sungguh di sisi Allah ada pahala yang besar.”
Selain itu, setiap anak yang lahir berada dalam kondisi fitrah (suci), sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw.:
“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari & Muslim)
Berbicara tentang anak tidak terlepas dari peran orang tua dalam mengasuh, membimbing, dan membina tumbuh kembang sang buah hati, serta potensi yang dimiliki oleh anak tersebut. Al-Qur’an dan Hadis memberikan gambaran terkait fungsi, potensi, dan kedudukan anak sebagai berikut:
- Sebagai Amanah Allah Swt.: Anak adalah titipan yang harus dijaga, dirawat, dan dididik dengan nilai-nilai keimanan. Kelak, orang tua akan dimintai pertanggungjawaban atas amanah tersebut.
- Penyejuk Hati (Qurrota ‘Ayun): Anak yang saleh, taat beragama, dan berakhlak mulia berfungsi sebagai penenteram serta sumber kebahagiaan batin bagi orang tuanya.
- Pelestari Pahala dan Amal Jariyah: Doa anak yang saleh kepada kedua orang tuanya menjadi salah satu amal yang tidak terputus pahalanya, meskipun orang tua telah meninggal dunia.
- Ujian dan Cobaan (Fitnah): Kehadiran anak menguji tingkat kesabaran, rasa syukur, serta ketaatan orang tua kepada Allah Swt., apakah mereka mampu mendidik anak dengan benar atau justru lalai.
Melihat pentingnya posisi dan potensi anak tersebut, sangat perlu dilakukan tindakan antisipatif dalam mendampingi mereka.
Langkah-Langkah Mendidik Anak
Berikut adalah beberapa langkah positif yang dapat dilakukan dalam mendidik anak yang dinilai “nakal”:
- Memberi nasihat dengan lembut: Sampaikan teguran atau nasihat dengan tutur kata yang tenang, penuh kasih sayang, dan pada waktu yang tepat.
- Menjadi teladan yang baik: Anak adalah peniru yang ulung. Pastikan orang tua mencerminkan akhlak dan perilaku yang baik di hadapan mereka.
- Memberi perhatian lebih: Perilaku membangkang terkadang muncul karena anak merasa kurang diperhatikan.
- Menghindari bentakan dan amarah: Memarahi anak secara berlebihan justru membuat mereka semakin membangkang dan menyimpan trauma.
- Melakukan pendekatan spiritual: Perbanyak doa kepada Allah Swt. agar diberikan kesabaran, serta memohon agar hati anak dibukakan untuk menerima kebaikan.
Rangkaian poin di atas menggambarkan bahwa kenakalan anak memiliki banyak faktor penyebab. Namun, ketika kita menyadari keterbatasan dan kekurangan diri dalam menyikapi perilaku anak, kita akan terdorong untuk memberikan perhatian lebih, melakukan langkah-langkah positif, dan menghentikan pemberian label (labeling) negatif kepada anak.
Dengan demikian, kenakalan anak dapat diatasi dan diantisipasi sedini mungkin untuk membawa perubahan ke arah yang lebih baik. Semoga Allah Swt. senantiasa memberikan kita kelembutan hati untuk mendidik anak-anak dengan penuh kasih sayang serta rasa optimis dalam menggapai masa depan yang gemilang. Aamiin. (*)
