Belajar Bertahan, Berani Bangkit: Perjuangan Ulumni UMM Hingga Duduki Sekda Demak 

Belajar Bertahan, Berani Bangkit: Perjuangan Ulumni UMM Hingga Duduki Sekda Demak 
www.majelistabligh.id -

Kesuksesan jarang datang secara instan. Bagi Akhmad Sugiharto, S.T, MT jalan panjang penuh liku justru menjadi fondasi yang mengantarkannya pada posisi strategis sebagai Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Demak. Kisah itu ia bagikan di hadapan ribuan wisudawan dalam Wisuda ke-121 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kamis (23/4/2024), sebuah momen yang seolah mengulang kembali jejak langkahnya dari titik nol.

Puluhan tahun silam, Akhmad hanyalah seorang perantau muda dengan bekal terbatas. Tahun 1991, ia menapakkan kaki di Malang untuk menempuh studi di Fakultas Teknik Sipil UMM. Hidup sederhana dijalaninya tanpa keluhan. Ia tidak hanya mengejar nilai akademik, tetapi juga aktif berorganisasi dan memilih tinggal di lingkungan yang membawanya lebih dekat dengan masyarakat. Dari situlah, ia mulai membangun daya tahan dan kemampuan beradaptasi.

Belajar Bertahan, Berani Bangkit: Perjuangan Ulumni UMM Hingga Duduki Sekda Demak 
Wisuda ke-121 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kamis (23/4/2024),

Namun, ujian terbesar justru datang setelah toga dikenakan pada 1997. Lamaran kerja yang berulang kali ditolak memaksanya mencari jalan lain untuk bertahan hidup. Ia pun sempat berjualan hasil bumi—sebuah fase yang menguji mental sekaligus memperkuat tekadnya. Nilai kerja keras yang diwariskan keluarga, ditopang doa orang tua, akhirnya membuahkan hasil. Setahun kemudian, pada 1998, ia berhasil lolos seleksi CPNS, membuka lembaran baru dalam perjalanan kariernya.

Perjalanan itu mencapai titik penting pada 2010. Berbekal ilmu teknik sipil yang diperoleh dari bangku kuliah dan kemampuan membangun kolaborasi, Akhmad menggagas inovasi pembangunan jalan beton (rigid pavement) di Demak. Metode ini terbukti lebih tahan lama dibandingkan aspal konvensional dan kemudian diadopsi oleh berbagai daerah di Jawa Tengah.

Di hadapan para lulusan, ia tidak sekadar bercerita, tetapi juga meninggalkan pesan mendalam tentang makna pendidikan dan ketangguhan hidup.

“Pendidikan sejati di UMM adalah tentang belajar cara beradaptasi, bertahan di tengah kondisi yang sulit, serta membangun mentalitas pantang menyerah. Lulusan UMM harus memiliki ketahanan mental yang tangguh saat menghadapi realitas di lapangan. Jangan lupa untuk terus berinovasi, menjaga integritas, dan ingatlah bahwa kesuksesan sejati diukur dari seberapa besar manfaat yang bisa kita berikan kepada orang lain, bukan semata-mata dari tingginya jabatan,” tegasnya.

Kisah Akhmad menjadi cerminan dari arah pendidikan UMM yang terus berkembang. Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Prof. Dr. Thohir Luth, M.A., menilai program Center of Excellence (CoE) sebagai salah satu pilar penting dalam membentuk mahasiswa yang siap menghadapi dunia nyata.

“Kehadiran program CoE ini menjadi bukti nyata bahwa UMM telah melaju dan terus berkembang secara pesat. Inovasi ini tidak hanya bertujuan membekali mahasiswa untuk memenangkan ketatnya persaingan di tingkat global, tetapi juga wujud nyata kontribusi Muhammadiyah dalam menghadirkan kebaikan bagi umat, bangsa, dan negara saat mereka terjun ditengah masyarakat,” ungkapnya.

Hal senada disampaikan Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., yang menegaskan komitmen kampus dalam melahirkan generasi tangguh—mereka yang tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga tumbuh di tengah tekanan zaman. Ia mendorong lulusan untuk menjadi pribadi adaptif yang mampu menjawab tantangan era baru.

“Pegang teguh semboyan student today, leaders tomorrow. Jangan hanya mengandalkan kecerdasan di atas kertas. Jadilah pembelajar tangguh yang siap menciptakan lapangan kerja produktif. Anggaplah UMM sebagai ibu kandung kedua kalian, jaga terus ikatan batin ini. Dengan bekal ketahanan mental, kemampuan kolaboratif, dan landasan takwa kepada Allah SWT, melangkahlah dengan penuh percaya diri menyongsong masa depan,” pesannya.

Di balik toga dan senyum para wisudawan hari itu, kisah Akhmad menjadi pengingat sederhana: bahwa keberhasilan bukan tentang seberapa cepat seseorang sampai di tujuan, melainkan seberapa kuat ia bertahan dan terus melangkah, bahkan ketika jalan terasa paling berat. (*/tim)

 

 

Tinggalkan Balasan

Search